
“Pertama, kita harus menemukan dimana titik jalan keluar itu berada.” Ucap Armand sambil memeriksa luka Willard.
“Apa kamu sudah bisa menebak kira-kira dimana jalan keluar itu berada?” Willard mencoba untuk mengatur napasnya karena kelelahan.
“Di buku itu ditulis bahwa biasanya jalan keluar dari mimpi abadi ini berada di tempat yang gelap dan tersembunyi, sehingga jarang ada orang yang bisa menemukan jalan keluar itu, dan juga saat menemukan jalan keluarnya berada, mereka juga harus berhadapan dengan penjaganya.” Armand selesai memeriksa Willard dan memastikan lukanya tidak terbuka kembali.
“Apa kamu tahu penjaganya seperti apa?” Tanya Willard yang sudah bisa kembali bernapas dengan baik.
“Bukunya tidak menjelaskan secara detail seperti apa penjaganya. Tapi, mengingat banyak orang yang tidak bisa kembali lagi seharusnya penjaganya sangatlah kuat, kita sangat harus berhati-hati.” Armand mencoba menutup matanya dan mencoba untuk mengingat kembali isi buku yang di bacanya.
“Aku hanya berharap itu bukan naga atau semacamnya. Aku masih sedikit penasaran kenapa orang-orang berpakaian hitam yang menyerangku saat itu ada di mimpi abadi ini. Apakah ini ada hubungannya dengan mereka?” Willard terlihat kebingungan saat ia mengingat kembali orang-orang berpakaian hitam itu.
“Mungkin saja ini ada hubungannya dengan mereka, tapi sekarang kita tidak bisa memastikannya. Setelah mereka menyerang kita waktu itu, mereka tiba-tiba menghilang dan saat Anda membunuh mereka waktu itu, kita belum memasuki mimpi abadi ini dan saya juga sudah memastikan bahwa mereka semua sudah mati.” Ucap Armand sambil mengambil beberapa makanan dari tasnya.
“Ini benar-benar membingungkan…” Willard mulai merasa kesal dengan situasi yang dihadapi mereka saat ini.
“Sudahlah… lebih baik kita mencari jalan keluar dari sini terlebih dahulu daripada memikirkan sesuatu yang tidak pasti.” Ucap Armand sambil menyodorkan makanan yang dibawanya kepada Willard.
“Kita sudah menyusuri seluruh hutan ini tetapi belum menemukan jejak apapun. Apa kamu yakin tempat ini benar-benar ada jalan keluarnya?” Willard tampak terlihat sedikit putus asa.
“Setidaknya itulah yang ditulis di buku tentang sihir ilusi itu. ‘tempat yang gelap dan tersembunyi’ Hmm…” Armand berhenti berjalan dan memikirkan tempat yang belum dijelajahi mereka sebelumnya.
Willard juga ikut menghentikan langkah kakinya dan duduk bersandar di pohon di dekatnya, tiba-tiba pandangannya terfokus pada sebuah gua yang tertutupi oleh banyak daun. “Bukankah gua itu adalah tempat kita beristirahat sebelumnya?”
“Hei, ini perasaanku saja atau memang dari tadi kita berkeliling di tempat yang sama?” Tanya Willard kepada Armand yang masih tenggelam dalam pikirannya.
Armand kembali tersadar saat Willard memanggilnya. “Benarkah? Saya tidak tahu karena menurut saya hutan hanya dipenuhi pohon bukan? Bagaimana Anda bisa membedakan tempat yang hanya dipenuhi dengan pohon yang sama?” Armand merasa sedikit bingung dengan pertanyaan Willard.
“Aku benar-benar berpikir bahwa kamu lebih pintar daripada aku…” Willard memasang wajah yang seakan tidak percaya dengan jawaban Armand. “Coba kamu lihat gua itu.”
Willard menunjukkan gua yang dilihatnya dengan jarinya, pandangan Armand pun perlahan menuju pada tempat yang ditunjuk Willard. Armand terkejut saat melihat gua itu. “Bukankah gua itu adalah tempat kita beristirahat sebelumnya?!”
“Itulah yang ingin kukatakan…” Ucap Willard sambil memasang ekspresi yang datar sambil melihat ke arah gua itu.