
“Will.” Panggil Elyana dengan suara yang lemah di depan pintu kamar ayahnya.
Willard terkejut dengan suara Elyana dan langsung segera berdiri dari tempat duduknya. “Ely…” Panggil Will dengan ekspresi yang terlihat sangat sedih.
Armand yang juga ada disana segera berjalan ke pintu itu dan membukakannya untuk Elyana.
“Ada suatu hal penting yang ingin kubicarakan padamu.” Ucap Elyana dengan percaya diri sambil menatap ke mata Willard.
“Hal penting…? Jika ini tentang pertunangan kita, apapun yang kamu katakan aku tidak akan membatalkannya…” Willard menghindari tatapan Elyana dan menggenggam tangannya sendiri dengan kuat.
“Ini bukan tentang hal itu… ada hal yang lebih penting dari itu, dan aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.” Elyana terlihat sedikit sedih saat melihat Willard yang menghindari tatapan matanya.
“Bantuanku…?” Willard terlihat sangat terkejut dengan ucapan Elyana. “Sebelumnya kamu sama sekali tidak pernah meminta bantuanku sama sekali.” Willard kini terlihat sedih, ia perlahan mencoba kembali untuk melihat ke mata Elyana.
“Armand, bisakah kamu meninggalkan kami berdua sebentar?” Elyana menghadap ke arah Armand dengan tatapan yang serius.
“Namaku…?” Armand terkejut saat mendengar Elyana yang menyebut namanya padahal sebelumnya ia tidak pernah memberitahunya sama sekali. “Baiklah.” Armand segera menuruti permintaan Elyana dan berjalan keluar dari kamar itu. “Dia terlihat seperti orang lain saja… apa yang sebenarnya terjadi padanya…?” Gumam Armand dalam hatinya saat berjalan melewati Elyana.
“Jadi, kamu perlu bantuanku untuk apa?” Tanya Willard dengan serius saat Armand sudah berjalan keluar dan meninggalkan mereka berdua.
“Langsung ke intinya saja. Dalam beberapa bulan kedepan, Pangeran Albern akan membunuh Raja Barnett dan menjadi raja selanjutnya.”
Willard sangat terkejut dengan ucapan Elyana. “Kamu… bagaimana kamu bisa mengetahui hal seperti itu? Tidak… jika benar begitu aku harus memikirkan cara untuk menghentikannya.” Willard langsung berpikir keras tentang beberapa hal.
“Tidak. Kamu mengatakan hal yang sesungguhnya bukan? Jika tidak, kamu tidak mungkin langsung kesini dan memberitahuku bukan? Dan juga… Aku benar-benar senang karena ini pertama kalinya kamu meminta bantuanku…” Willard melihat ke Elyana dengan tatapan yang begitu tulus.
Elyana tersipu malu saat melihat senyuman Willard. “Bodoh…” Gumam Elyana sambil mencoba menghindari tatapan Willard.
“Tapi… Bagaimana kamu bisa mengetahui tentang hal itu?” Willard merasa penasaran tentang bagaimana Elyana dapat mengetahui bahwa Pangeran Albern akan membunuh Raja Barnett.
“M-Mimpi… Aku melihatnya dalam mimpi…” Jawab Elyana dengan ragu-ragu.
“Baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi. Tapi, jika apakah yang dikatakanmu benar, ini benar-benar bahaya.” Ekspresi Willard tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.
“Jika kita bisa menghentikannya sebelum dia berhasil membunuh Raja Barnett, bukankah masalahnya selesai? Dan walaupun mereka berhasil membunuh Raja Barnett, pasti akan ada waktu sebelum dia bisa menjadi Raja selanjutnya bukan? Karena tidak mungkin para bangsawan akan menerima seorang pembunuh untuk menjadi raja selanjutnya.” Sebelum datang ke ruangan ayahnya, Elyana sudah memikirkan beberapa hal yang dapat terpikirkan olehnya tentang hal itu.
“Justru itu masalahnya… Kamu tahu perempuan sialan yang menculikmu waktu itu?”
“Menculikku…? Maksudmu Caitlin?” Elyana langsung teringat saat Caitlin menculiknya waktu itu.
“Benar. Aku sudah mencari tahu tentangnya dan kamu tahu apa yang kudapatkan? Perempuan sialan itu tampaknya dapat menggunakan sihir ilusi.”
Elyana terdiam sebentar saat mendengarkan ucapan Willard. “Sihir ilusi…?”