
“Hoam…” Elyana bangun dari tidurnya dan segera bangun dari tempat tidurnya. Saat ia melihat kebelakang, Willard sudah tidak ada di tempat tidurnya.
Suara ketukan pintu terdengar oleh Elyana, ia kemudian menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk segera masuk. Beberapa pelayan wanita pun masuk dengan senyuman di wajah mereka.
Sambil memberi hormat kepada Elyana, mereka memperkenalkan nama mereka masing-masing. “Eila, Fara, dan Ana? Elyana mencoba untuk mengingat nama mereka satu persatu.
“Ya, Benar. Mulai hari ini kami yang akan melayani Anda.” Eila tersenyum kepada Elyana dengan penuh ketulusan.
“Mereka terlihat seperti orang yang dapat dipercaya… Mereka benar-benar mengingatkanku pada Lia…” Elyana terlihat sedih ketika mengingat dirinya yang meninggalkan Lia begitu saja tanpa memberitahunya.
“Apakah ada sesuatu yang harus aku lakukan?” Elyana mencoba untuk tersenyum kepada mereka bertiga.
“Untuk saat ini saya rasa tidak ada. Tuan Willard tadi menyuruh kami untuk menyiapkan makanan Anda di kamar.” Fara juga tersenyum dengan tulus kepada Elyana.
“Aku rasa ini karena aku selalu makan di kamar saat aku masih berada di kediaman Marquis Alston.” Elyana tiba-tiba mengingat dirinya yang selalu makan di kamar walaupun ada Willard.
“Baiklah. Siapkan makanannya sekarang. Dan satu lagi, apakah kalian tahu dimana Willard sekarang?” Elyana penasaran dengan Willard yang sudah tidak ada sejak ia bangun.
“Tuan Willard sekarang sedang mengerjakan beberapa hal di ruang kerjanya.” Ucap Ana juga dengan senyuman di wajahnya.
“Kalau begitu kami akan segera menyiapkan makanan Anda sekarang juga.” Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar Elyana untuk menyiapkan makanan untuk Elyana.
Beberapa saat kemudian, para pelayan Elyana datang sambil membawakan sangat banyak makanan. Elyana yang melihat itu terlihat sangat terkejut. “Bukankah ini terlalu banyak?” Elyana seperti tidak percaya dengan jumlah makanan yang dibawa para pelayannya itu.
“Tentu saja tidak! Tuan Willard bilang Nona Elyana butuh sangat banyak makanan untuk memulihkan energi Anda!” Eila terlihat sangat antusias saat memperlihatkan banyak makanan yang dibawanya.
“T-Tapi bukankah ini terlalu berlebihan…?” Elyana merasa tidak mampu untuk menghabiskan makanan yang ada di depannya.
Para pelayan itu mengabaikan ucapan Elyana dan menggiringnya menuju meja makan kecil yang sudah disiapkannya dengan sangat antusias.
Elyana yang melihat mata mereka yang berbinar-binar tidak bisa menolak sama sekali, ia kemudian memakan hampir semua makanan yang ada disana. “Aku sudah sangat kenyang…” Elyana terlihat sudah tidak bisa memakan makanan yang ada didepannya lagi.
“Kalau begitu kami akan segera membereskannya.” Ketiga pelayan itu tersenyum senang saat melihat Elyana yang hampir memakan semua makanan yang mereka siapkan.
Setelah itu para pelayannya segera membersihkan meja makan Elyana dengan cepat dan meninggalkan kamar Elyana. Elyana terlihat susah payah untuk kembali ke tempat tidurnya.
“Aku makan terlalu banyak…” Elyana merasa seperti ingin muntah tapi dia menahannya. “Aku rasa aku akan duduk sebentar sampai makanan ini selesai dicerna dan pergi ke tempat Will berada.” Tapi, tiba-tiba mata Elyana terasa berat dan tanpa ia sadar ia pun tertidur.
Saat Elyana membuka matanya ia melihat Willard yang baru selesai mandi berdiri tak jauh darinya. “Will…?” Panggil Elyana dengan suara orang yang bangun tidur.
Willard yang mendengar panggilan Elyana segera berjalan ke arah Elyana dengan senyuman di wajahnya. Kemudian ia segera mendekatkan wajahnya ke Elyana dan menciumnya begitu saja. Elyana tampak tercengang dengan apa yang dilakukan Willard, tetapi ia tidak menolaknya sama sekali. Elyana terlihat sangat menikmati ciuman itu.