Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 108



"Tidak…" Alexandra menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang ketakutan. 


"Tunggu, Will. Jangan memarahi dia seperti itu, belakangan ini kondisi kediaman Marques Alston sedang tidak baik karena ayahku yang sakit. Mungkin saja para pelayanku jadi lupa." Elyana mencoba untuk menenangkan Willard yang terlihat marah. 


Sejak ayah Elyana, Henry Alston jatuh sakit kondisi kediaman Marquis Alston menjadi tidak begitu bagus. Saat Elyana pergi berjalan-jalan di sekitar mansionnya, ia dapat merasakan suasana di dalam mansion itu menjadi sangat kelam dan hampir tidak ada pelayan yang berjalan sana-sini. Padahal pelayan yang ada di mansion itu begitu banyak, tetapi sejak ayahnya berbaring di tempat tidurnya, ia hanya 


dapat melihat beberapa dari mereka saja. 


"Bagaimana pelayanmu bisa melupakan sesuatu seperti itu? Apa aku harus memberikan mereka pelajaran?" Willard melihat ke arah Elyana dengan tatapan yang merasa jengkel. 


"Sudahlah, lagipula mereka juga manusia bukan?"


Willard termenung sebentar setelah mendengar ucapan Elyana. "Manusia kah? Aku berharap mereka benar-benar dibesarkan layaknya seorang manusia."


"Layaknya seorang manusia? Apa maksudmu?" Elyana merasa bingung dengan ucapan Willard. 


"Tidak, Tidak ada apa-apa. Tadi kamu ingin tahu informasi apa yang sudah kudapatkan bukan?" Willard berjalan ke meja kerjanya. 


"Benar." Elyana terlihat penasaran dengan ucapan Willard. 


"Aku yakin aku sudah memberikan surat itu pada kepala pelayan itu, tetapi bagaimana surat itu tidak sampai pada Nona Elyana?" tanya Alexandra pada dirinya sendiri saat mengingat dirinya yang memberikan surat itu ke tangan kepala pelayan di kediaman Marquis Alston. 


"Alexandra?" panggil Elyana kepada Alexandra yang melamun di dekatnya. 


Alexandra seketika bangun dari lamunannya. "Ya?"


"Apa kamu baik-baik saja?" 


"Saya baik-baik saja, terima kasih atas kekhawatiran Anda." Alexandra membungkukkan badannya.


"Benarkah?" tanya Elyana lagi dengan ekspresi yang khawatir. 


"Ya, saya benar-benar baik-baik saja Nona Elyana." Alexandra tersenyum tipis kepada Elyana. 


"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Alexandra kembali membungkukkan badannya dan berjalan keluar dari ruang kerja Willard sebelum Elyana dapat mengatakan apapun. 


Setelah melihat Alexandra yang berjalan keluar dari ruang kerja Willard, Elyana berjalan menghampiri Willard yang sedang memegang kertas di tangannya. 


"Will, kamu tidak perlu marah seperti itu kepada Alexandra bukan?" 


"Aku tidak memarahinya, aku hanya mengajarinya untuk tidak melawan orang dengan status yang lebih tinggi darinya." Willard tetap fokus memperhatikan kertas yang sedang dipegangnya. 


"Hmm." 


Willard menatap Elyana saat ia terlihat melamunkan sesuatu. "Apa kamu masih memikirkan tentang Alexandra?"


"Tidak, aku hanya sedang memikirkan kenapa tidak ada yang mengantarkan suratmu padaku." Elyana berjalan ke arah dekat jendela Willard. 


"Aku akan memberikanmu informasi yang kukirimkan padamu, jadi jangan terlalu memikirkannya."


"Apa ayahku yang memerintahkan mereka untuk tidak menerima surat dari Willard? Atau ada sesuatu yang lain?" Elyana menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang terus muncul di kepalanya dan ia juga masih kebingungan karena tidak bisa menemukan pelayan yang mengirimkan burung merpati keluar dari rumahnya. 


"Ely." Willard melingkari kedua tangannya di pinggang Elyana dan berbisik di telinganya dengan suara yang lembut. 


Elyana sangat terkejut saat mendapati Willard yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Wajahnya seketika berubah menjadi merah. "A-Apa yang kamu lakukan?"


"Aku sangat senang saat waktu itu kamu berlari kembali padaku, jadi… tolong jangan terjebak dalam pikiranmu lagi."


Elyana terkejut mendengar ucapan Willard, dan disaat yang sama ia sadar akan sesuatu, jika dirinya hanya berpikir tanpa melakukan apapun, ia pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya. 


"Bagaimana dengan informasi tentang Pangeran Albern dan Caitlin?"


"Aku akan membaca dari surat yang kamu kirimkan saja."


Melihat tatapan serius Elyana, Willard tidak punya pilihan lain selain membiarkannya pergi. "Baiklah, tapi jika ada sesuatu yang terjadi jangan lupa untuk meminta bantuanku ya?"


"Um!" jawab Elyana dengan sebuah senyuman di wajahnya. 


"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Elyana sebelum berjalan keluar dari ruang kerja Willard. 


"Hati-hati di jalan." Willard menatap Elyana yang keluar dari ruang kerjanya dengan senyuman kecewa di wajahnya. 


"Apakah Anda sudah ingin pulang?" tanya Alexandra yang berdiri samping pintu ruang kerja Willard. 


"Iya, bisakah kamu tolong mengantarkanku?" 


"Dengan senang hati." Alexandra membungkukkan badannya sebentar dan segera membawa Elyana keluar dari mansion itu. 


Elyana kemudian mengikuti Alexandra dari belakangnya. Di tengah perjalanan, Elyana tiba-tiba mengingat tentang kepala pelayan Marquis Alston yang menerima surat dari Alexandra dan mencoba untuk menanyakannya lagi. 


"Alexandra, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Elyana masih sambil berjalan mengikuti Alexandra. 


Alexandra menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat ke arah Elyana sembari terus berjalan. "Tentu saja, tanyakan saja apapun yang ingin Anda tanyakan." 


"Apakah saat kamu mengantarkan surat ke kediaman Marquis Alston, kepala pelayan yang kamu temui ada mengatakan sesuatu?"


Alexandra terdiam sebentar dan mencoba untuk mengingat saat ia memberikan surat pada kepala pelayan kediaman Marquis Alston. "Hmm… saya rasa dia bilang dia akan mengantarkan surat itu pada Anda secepatnya."


"Hanya itu saja?" Elyana merasa semakin kebingungan, karena sejak ayahnya jatuh sakit ia tidak menerima surat dari siapapun lagi. Bahkan kepala pelayan yang dimaksud Alexandra jarang terlihat. 


"Dan dia mengatakan hal itu dengan senyuman yang sedikit aneh di wajahnya."


"Senyuman yang sedikit aneh?"


"Ya, ini hanya perasaan saya saja, tetapi lebih baik Anda menjauhi orang itu. Saya rasa dia bukanlah pelayan yang dapat dipercayai sepenuhnya." Alexandra kembali melihat ke depannya dengan tatapan yang serius. 


Setelah mendengar ucapan Alexandra, Elyana merasakan perasaan yang sangat tidak mengenakkan, rasanya ada sesuatu yang salah dengan surat yang tidak pernah sampai padanya dan para pelayan yang terlihat lebih sedikit dari biasanya. 


"Alexandra, bisakah kamu tolong mengawalku sampai rumah?" tanya Elyana dengan ragu-ragu. 


Alexandra menghentikan langkah kakinya dan Elyana pun ikut berhenti berjalan juga. "Apakah Anda mengetahui sesuatu?"


"Aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi di mansion itu." Elyana melihat ke bawah dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.


"Baiklah, saya akan menemani Anda hingga sampai ke kediaman Marquis Alston. Lagipula Anda juga adalah tunangan tuan saya," ucap Alexandra dengan senyuman yang menenangkan. 


Elyana terlihat sedikit lebih lega saat Alexandra mau ikut dengannya. Walaupun begitu, kekhawatiran di hatinya belum hilang sepenuhnya, sekarang ia hanya bisa berharap bahwa semua hal akan baik-baik saja.


Elyana dan Alexandra pun berjalan bersama sampai ke depan mansion Willard. Sebelum ia menaiki kereta kuda yang sudah menunggunya di depan mansion Willard. Elyana melihat ke arah Alexandra yang berdiri di sampingnya. 


"Apakah kamu tidak perlu meminta izin dari tuanmu terlebih dahulu?"


"Tidak perlu." Alexandra tersenyum kepada Elyana seperti sedang menyembunyikan sesuatu. 


"Hmm… baiklah." Elyana kemudian naik ke kereta kuda yang ada di depannya dengan bantuan Alexandra. 


Setelah Elyana sudah naik ke kereta kuda itu, Alexandra melihat ke arah pelayan pria paruh baya yang berdiri tak jauh darinya dan menganggukkan kepalanya sekali. Kemudian ia naik ke kereta kuda itu dan pergi ke Kediaman Marquis Alston bersama dengan Elyana.