
"Hei." Malvin mendekatkan wajahnya pada Elyana yang termenung.
Elyana yang melihat wajah Malvin yang tiba-tiba tepat di depan matanya terkejut dan badannya terjatuh ke belakang, Malvin yang melihat itu segera menangkap Elyana dan menariknya hingga jatuh pada pelukannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Malvin yang kini sedang memeluk Elyana.
Elyana yang tadi masih terkejut dengan apa yang terjadi kembali sadar. "Y-Ya. Aku baik-baik saja." Jawab Elyana sambil mendorong Malvin dengan ekspresi wajah yang malu-malu.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Malvin dengan tanpa ekspresi saat Elyana mendorongnya begitu saja.
"Ehem… n-namaku Elyana. Jadi sekarang kita impas kan perkenalannya." Elyana tampak menghindari pandangan Malvin.
"Oh… kalau begitu salam kenal Ely…" Ucap Malvin terlihat kebingungan saat melihat Elyana yang mengalihkan pandangannya dari dirinya.
"Ely…?" Mata Elyana kini menuju ke arah Malvin dengan perasaan yang penuh keraguan.
"Sulit untuk menyebutkan Elyana. Jadi lebih baik aku memanggilmu dengan Ely saja. Apakah kamu keberatan?" Tanya Malvin dengan ekspresi yang datar.
"T-Tidak. Aku hanya terkejut saja. Panggillah dengan sesukamu." Jawab Elyana sambil memaksakan senyumannya.
"Oh… begitukah?" Ucap Malvin sambil melihat ke arah Elyana yang memaksakan senyumannya.
"Jadi… apakah kamu akan terus disini?" Elyana tiba-tiba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ah… koin yang kupunya sudah kugunakan untuk menyewa kamar ini, jadi aku sudah tidak punya koin untuk memesan kamar lain lagi." Malvin mengarahkan pandangannya pada luar jendela di kamar itu.
"Kalau begitu baiklah. Tapi, bisakah kamu membiarkan aku disini sebentar?" Pandangan Malvin terpaku pada pemandangan dari luar jendela mereka, walaupun di luar jendela itu bukanlah pemandangan yang indah, tetapi Malvin tetap menatap pemandangan itu dengan tatapan yang kosong.
Elyana yang melihat pandangan Malvin menuju ke arah luar jendela, ia pun mencoba untuk mengikuti Marvin untuk melihat ke arah luar jendela itu. "Apakah kamu suka melihat ke arah luar jendela seperti ini?"
"Yah… begitulah. Aku tidak tahu kenapa tapi saat aku melihat ke arah luar jendela seperti ini, aku merasa sangat tenang." Malvin perlahan melihat ke arah Elyana yang juga melihat ke arah luar jendela itu. "Apa kamu juga menyukainya?"
"Ya. Saat melihat ke luar jendela seperti ini aku juga merasa pikiranku sangat tenang, seperti semua masalah yang pernah ada menghilang begitu saja." Ekspresi Elyana tiba-tiba menjadi sedih saat ia membayangkan pemandangan dari luar jendela kamarnya yang sangat sering ia lihat.
"Dulu, aku juga sering melihat ke luar jendela seperti ini… tapi pemandangan yang sekarang kulihat sangat berbeda dengan apa yang kulihat dulu dan Willard… apakah sekarang kamu sudah sadar? Apakah kamu akan marah saat mengetahui aku tidak berada disampingmu saat kamu sedang sakit?" Tiba-tiba banyak pertanyaan yang muncul di kepala Elyana, tapi anehnya ia merasa tidak menyesal sama sekali saat meninggalkan rumah dimana ia pernah tinggali.
"Setelah ini apa yang kamu ingin lakukan?" Tanya Malvin sambil melihat ke arah luar jendela bersama Elyana.
"Aku ingin keluar dari kerajaan ini…" Elyana tanpa sadar menjawab pertanyaan Malvin.
"Keluar dari kerajaan ini?" Malvin terlihat tertarik dengan apa yang dikatakan Elyana.
Elyana tersentak kaget saat ia menyadari apa yang dikatakannya. "Tidak… lupakanlah. Ini masalahku."
"Aku… juga ingin keluar dari kerajaan ini, bagaimana jika kita keluar dari kerajaan ini bersama?" Ucap Malvin dengan sedikit ragu-ragu.
"Eh?" Elyana kini melihat Malvin dengan heran.