Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 67



“Hoam…” Elyana bangun dari tidurnya dan melihat ke arah jendela dan mendapati hari yang sudah malam.


“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Malvin yang sedang duduk tak jauh darinya.


“Ya. aku tidur dengan nyenyak sekali.” Ucap Elyana sambil meregangkan badannya. “Apa kamu tidak tidur?” Tanya Elyana kepada Malvin yang sedang melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.


“Tidak. Aku pikir kamu akan lapar setelah tidur, jadi tadi aku membelikanmu beberapa makanan.” Ucap Malvin sambil melihat ke arah makanan yang berada di atas meja di dekatnya.


“Kamu benar-benar aneh. Tidak makan dan tidak tidur. Apakah tubuhmu baik-baik saja seperti itu?” Tanya Elyana dengan ekspresi yang penasaran.


“Tentu saja aku baik-baik saja. Aku sudah terlatih seperti ini jadi tidak apa-apa.” Jawab Malvin dengan ekspresi yang datar.


“Setidaknya makanlah sedikit.” Elyana mengambil roti di atas meja dekat Malvin dan merobek sedikit roti itu dan hendak menyuapi Malvin.


Malvin yang melihat itu sedikit terkejut. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah senyuman di wajahnya. Ia melahap roti itu dan jari Elyana sekaligus. Elyana yang melihat itu segera menarik tangannya.


“Apa yang kamu lakukan!” Teriak Elyana dengan wajah yang memerah.


“Memakan roti itu.” Jawab Malvin dengan ekspresi yang datar. “Ternyata ini enak juga.” Ucap Malvin sambil tersenyum usil pada Elyana.


Elyana terlihat kesal dengan apa yang dilakukan Malvin, ia langsung memakan roti-roti itu dengan lahap tanpa memperdulikan Malvin. Malvin yang melihat itu hanya tersenyum kecil.


“Oh ya besok kita akan segera bersiap-siap untuk keluar dari kerajaan ini.” Ucap Malvin sambil melihat Elyana yang mengunyah makanannya itu.


“Apa kamu sudah tahu caranya?” Tanya Elyana setelah menelan roti yang di makannya itu.


“Ya, dan… maaf tadi aku mengambil beberapa koin emas mu.” Ucap Malvin sambil melihat ke bawah dengan perasaan bersalah.


“Untuk apa?” Tanya Elyana dengan tenang.


“Apa kamu tidak marah?” Tanya Malvin dengan sedikit ragu-ragu.


“Aku menyogok orang yang membawa kereta kuda untuk membawa hasil panennya keluar dari kerajaan ini bekerja sama dengan kita untuk menyembunyikan kita bersama dengan hasil panennya.” Ucap Malvin dengan sedikit khawatir jika Elyana marah.


“Oh… kalau begitu tidak apa-apa.” Elyana terlihat lega sekali saat mendengar ucapan Malvin. “Jadi kamu berikan berapa banyak koin emasku pada mereka?” Tanya Elyana sambil menggigit roti yang dipegangnya.


“Sekitar setengah kantong?” Malvin terlihat sedikit lega saat melihat Elyana yang tidak marah sama sekali.


Elyana tersedak roti yang dimakannya saat mendengar jumlah yang diambil oleh Malvin. Malvin yang melihat Elyana tersedak segera memberikan Elyana air minum dengan ekspresi yang panik. 


“S-Setengah kantong?!” Elyana berteriak keras sekali hingga terdengar oleh kamar di sebelahnya.


“Bisakah kalian tidak berisik di tengah malam seperti ini?!” Teriak seseorang dari kamar di sebelah mereka.


Elyana dan Malvin yang mendengar itu terdiam untuk beberapa saat. “Apa kamu gila memberikan koin emas sebanyak itu? Bagaimana kita bisa hidup di luar sana jika kita kehilangan seluruh koin emas ini?!” Ucap Elyana dengan suara yang sangat kecil.


“Mau bagaimana lagi? Jika aku tidak memberikan sebanyak itu pasti mereka tidak akan membawa kita.” Bisik Malvin pada Elyana dengan suara yang sangat kecil.


“Tapi…!” Elyana tampak pasrah dengan kondisi mereka. “Ya Sudahlah. Mau aku berkata apapun koin emas ku tidak akan kembali.” 


“Ely… maaf…” Malvin terlihat sangat merasa bersalah.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kita segera beristirahat untuk besok…” Ucap Elyana sambil mencoba untuk tidak menyalahkan Malvin.


“Baiklah. Aku akan segera tidur.” Malvin langsung pergi ke tempat tidurnya dan menutupi seluruh badannya dengan selimut.


“Dasar… “ Ucap Elyana dalam hatinya sambil menghela napas berat. “Besok… aku pasti akan pergi dari kerajaan ini dan memulai kehidupan yang penuh dengan kebebasan.” Elyana tersentak kaget saat ia memikirkan tentang kebebasan. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di pikirannya. 


“kebebasan? Apa itu kebebasan?” Ucap Elyana dalam hatinya dengan tatapan kosong sambil melihat bulan yang bersinar terang di luar jendela.