
“Baiklah… setelah ini saya rasa saya akan meluangkan waktu untuk mengunjungi adik saya.”
Armand terlihat khawatir dengan adiknya yang sudah ia tidak temui sejak ia bertengkar dengannya pada saat festival perburuan. Sebenarnya Arabella ada mengirimi Armand beberapa surat tapi ia tidak pernah membalasnya kembali dan entah kenapa belakangan ini Arabella berhenti mengirimi Armand surat.
“Baguslah kalau begitu…” Elyana memberikan senyuman yang tenang kepada Armand.
“Kalian berdua…” Willard yang berdiri di samping Elyana terlihat ketakutan dan pandangan matanya tertuju pada ayah Elyana yang terbaring di belakang Armand.
“Aku sedang berbicara tentang hal yang serius dengan Armand, bisakah kamu tidak mengganggu?” Elyana melihat ke arah Willard dengan ekspresi yang kesal.
“I-Itu…” Willard menunjuk ke ayah Elyana yang masih terbaring disana.
“Ada apa dengan-“ Armand menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat ke arah ayah Elyana berada.
Elyana juga ikut melihat ke arah ayahnya dan mereka semua sangat terkejut saat mata ayah Elyana yang terbuka dan melihat ke mereka. “D-Dia bangun…”
“Marquis Henry! Apakah Anda bisa mendengar saya?!” Armand mendekatkan wajahnya ke ayah Elyana yang sudah sadar.
“Siapa kamu…?” Tanya Elyana dengan suara yang sangat lemah.
“Ayah! Apakah kamu baik-baik saja?!” Elyana langsung berlari ke dekat ayahnya dengan ekspresi yang sangat khawatir.
“Ayah…? Kamu juga siapa…? Kalian semua siapa…?” Ayah Elyana terlihat kebingungan dengan kehadiran mereka bertiga.
“Apa maksudmu ayah…? Armand apa yang sebenarnya terjadi?!” Elyana melihat ke arah Armand dengan sangat panik saat melihat ayahnya yang tidak mengenalinya sama sekali.
“Ini… saya rasa ayah Anda benar-benar kehilangan ingatannya…” Armand mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Willard yang berdiri di belakang mereka dengan wajah yang polos.
Elyana juga ikut melihat ke arah Willard dan Willard melihat ke arah mereka dengan kebingungan.
“Bukankah kalian berdua dari tadi bersamaku? Jika aku benar-benar memukul kepalanya kalian pasti melihatnya bukan? Lagipula vas bunga itu juga tidak pecah!”
Elyana dan Armand hanya melihat Willard dengan tatapan yang tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Willard merasa terintimidasi saat melihat tatapan mereka berdua. “Apa sekarang kalian menyalahkanku?!”
“Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya tidak mempercayaimu saja.” Elyana masih melihat Willard dengan tatapan yang penuh keraguan terhadapnya.
“Kamu…” Ayah Elyana melihat ke arah Elyana dengan tatapan yang seakan melihat seseorang yang ia kenal.
“Iya, ada apa ayah?” Elyana langsung membalikkan badannya dan melihat ayahnya dengan senyuman di wajahnya.
“Anna… kamu Anna bukan…?” Ayah Elyana terlihat seperti ingin menangis saat melihat sosok yang sangat ia rindukan dalam hatinya.
“Anna? Siapa itu?” Willard berjalan mendekati ayah Elyana dan merasa penasaran dengan nama yang ia panggil.
“Anna adalah nama ibuku…”
Sebuah bisikan dari suara yang Elyana kenal membuatnya tersenyum. “Kamu benar-benar tidak berbohong saat kamu mengatakan bahwa kamu akan selalu berada di sisiku…”
“Anna adalah nama ibuku.” Jawab Elyana sambil melihat ke arah Willard.
Elyana kembali menatap ayahnya dengan tatapan yang menenangkan, ia mengambil tangan ayahnya dan memegangnya dengan lembut.
“Aku bukanlah ibu, ayah. Aku adalah anakmu, anak dari kalian berdua dan namaku adalah Elyana Alston.”
“Anak kami berdua…? Kami sudah mempunyai anak…?” Ayah Elyana merasa sangat terkejut dengan ucapan Elyana.