Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 66



“Apakah kamu sudah lelah?” Tanya Malvin sambil melihat ke arah Elyana yang berjalan dengan wajah yang sangat kelelahan.


“T-Tidak.” Jawab Elyana sambil mengelap keringat nya yang banyak dengan baju lengannya.


“Padahal kamu tadi sudah makan banyak sekali. Tetapi hanya bisa berjalan sebentar. Apa kamu selemah itu?” Tanya Malvin dengan ekspresi yang mengejek. 


“Kamu menyebalkan sekali! Maaf karena aku terlahir lemah seperti ini!” Teriak Elyana kepada Malvin dengan ekspresi yang kesal. 


“Maaf. Apa kamu tersinggung dengan perkataanku?” Malvin melihat ke arah Elyana dengan ekspresi yang kasihan. 


“Orang sialan ini!” Teriak Elyana dalam hatinya dengan penuh amarah. 


“Bertahanlah sebentar lagi. Aku rasa penginapan dekat gerbang keluar dari kerajaan ini sudah dekat.” Ucap Malvin dengan ekspresi yang datar lagi.


“Hei, apakah tidak ada orang yang menyebutmu manusia aneh?” Tanya Elyana dengan tersenyum sambil mencoba untuk menyembunyikan amarahnya.


“Hmm… aku rasa tidak.” Jawab Malvin sambil mencoba untuk berpikir tentang perkataan Elyana.


“Cepat cari ke seluruh tempat!” Teriak seseorang dari tempat yang tidak jauh dari tempat Elyana dan Malvin berada. 


Elyana dan Malvin yang mendengar teriakan itu terlihat terkejut. Mereka berdua segera bersembunyi di sekitar gedung-gedung tinggi di sekitar mereka. 


“Kenapa kamu bersembunyi?” Tanya Malvin kepada Elyana yang terlihat berhati-hati melihat sekelilingnya.


“Kamu juga kenapa bersembunyi?” Elyana bertanya kembali pada Malvin yang terlihat sedikit berhati-hati. 


“Aku rasa kita punya masalah yang hampir sama ya?” Ucap Malvin sambil mencoba untuk mengintip dan melihat orang yang berteriak tadi.


“Kurasa.” Elyana juga ikut Malvin mengintip dari balik bangunan-bangunan itu untuk melihat orang yang berteriak tadi. 


Mereka berdua melihat banyak sekali prajurit-prajurit yang berlarian di sekitar kota tempat rakyat biasa itu. Para rakyat yang tinggal di sekitar sana terlihat ketakutan sekali, banyak dari mereka yang berlarian kesana sini untuk bersembunyi. 


“Ada apa? Wajahmu terlihat pucat sekali.” Tanya Malvin yang khawatir dengan wajah Elyana yang terlihat pucat sekali.


“T-Tidak ada. Lebih baik kita segera pergi dari sini.” Ucap Elyana dengan suara yang sedikit gemetaran.


“Kamu benar.” Malvin segera menarik tangan Elyana dan mereka berdua pun pergi dari sana. 


Sepanjang perjalanan mereka ke tempat penginapan yang mereka cari, mereka berdua tidak mengeluarkan suara sama sekali. Masing-masing dari mereka tampak tenggelam dalam pikirannya.


“Kita sudah sampai.” Ucap Malvin saat mereka berdua berdiri di sebuah penginapan.


Suara Malvin membangunkan lamunan Elyana. “O-Oh…” Elyana melihat tangannya yang masih dipegang Malvin. “Tanganmu…”


Malvin yang baru sadar tangannya masih memegang Elyana segera melepaskan tangannya. “M-Maaf.” Ucap Malvin dengan sedikit gugup.


“T-Tidak apa-apa, ayo segera masuk.” Elyana mencoba untuk mencairkan suasana mereka yang kini sedikit canggung.


Malvin dan Elyana segera masuk ke penginapan itu dan memasang kamar yang mempunyai dua tempat tidur. Setelah Elyana membayarnya, penjaga penginapan itu memberikan kunci kamar mereka. Mereka berdua pun menaiki tangga di dekat mereka dan pergi ke tempat kamar mereka berada.


Setelah mereka berdua memasuki kamar itu, Elyana menjatuhkan dirinya pada tempat tidurnya dan mengarahkan pandangannya pada arah luar jendela. 


“Kamu benar-benar ahli dalam memilih kamar.” Elyana memberikan pujian pada Malvin karena sudah memilihkan kamar yang mempunyai jendela yang menghadap ke pemandangan yang cukup bagus.


“Apakah kamu sedang memujiku?” Malvin mengikuti pandangan Elyana yang melihat ke arah luar jendela.


“Kamu bisa menganggapnya seperti itu.” Elyana terlihat menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. “Apa kamu tidak ingin menanyakan tentang hal tadi?” Tanya Elyana sambil mengarahkan pandangannya pada Malvin.


“Hm? Aku rasa tidak. Kamu punya masalahmu sendiri dan aku punya masalahku sendiri. Hanya itu saja yang perlu kutahu.” Jawab Malvin sambil melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.


“Kamu benar…” Elyana mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela sebentar dan ia perlahan menutup matanya.