
Armand mulai sadar saat mendengar suara orang yang memanggilnya. Ia perlahan membuka matanya dan mendapati seorang ksatria kerajaan yang menatapnya dengan mata yang seakan ingin menangis. Armand menggunakan tangannya untuk menyingkirkan wajah pria ksatria kerajaan itu.
"Menyingkirlah!" Ucap Armand sambil meringis kesakitan dengan suara yang lemah.
"Kapten! A-Aku kira kamu akan mati!" Ucap pria itu sambil menangis tersedu-sedu.
Armand mengabaikan tangisan pria itu, ia tiba-tiba teringat dirinya yang meninggalkan Willard saat itu. Wajah Armand berubah menjadi pucat saat mengingat Willard, ia kemudian segera bertanya pada pria yang menangis itu. "Hei! Apakah Duke Harbert baik-baik saja?!" Teriak Armand dengan suara yang khawatir.
"Duke Harbert? Ya, dia baik-baik saja. Hanya saja luka di tubuhnya cukup parah. Sekarang dia sedang dirawat oleh dokter yang dikirim Raja Barnett." Ucap pria itu sambil mengusap air matanya.
"Kalau begitu syukurlah." Armand menghela napas lega, ia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka berdua akan benar-benar keluar dengan keadaan hidup dari sana.
Armand mendengar suatu langkah kaki yang berlari ke arah tempatnya dirawat, dan saat ia melihat ke arah pintu tenda, ia melihat Arabella yang berdiri disana dengan mata yang dipenuhi dengan air mata.
"Kakak!" Arabella berlari ke arah Armand dan memeluknya dan menangis tersedu-sedu.
"Arabella." Armand tersenyum kecil saat adik perempuannya itu memeluk dirinya dan mengelus kepalanya.
"Bukannya kamu sudah berjanji bahwa kamu akan pulang tanpa terluka! Dasar pembohong!" Arabella mengangkat kepalanya dan melihat kakaknya dengan perasaan yang kesal dan sedih.
"Maaf. Itu tidak bisa dihindari. Tapi, aku bisa pulang dengan keadaan hidup saja sudah sangat luar biasa bukan?" Armand tertawa kecil saat melihat ekspresi adik perempuannya itu.
"Aku tidak menyangka bahwa kapten akan kalah melawan orang-orang lemah seperti itu." Ucap laki-laki yang berdiri di samping Armand sambil memegang sapu tangan untuk menghapus air matanya.
Ray terlihat terkejut dengan tatapan tajam Armand, air matanya yang sudah mengering kini mengalir kembali. "M-Maaf…" Ucap Ray sambil mencoba untuk menahan air matanya.
"Kakak, jangan merundung Ray seperti itu!" Arabella mencoba untuk membela Ray.
"Aku tidak merundungnya, aku hanya memberikan sedikit pelajaran karena dia selalu meremehkan musuhnya dan itu adalah kebiasaan yang sangat tidak baik." Armand mencoba untuk menjelaskan pada Arabella yang mencoba untuk membela Ray.
"Itu sama saja!" Arabella terlihat kesal dengan Armand.
"Sudahlah terserah kamu saja." Wajah Armand tiba-tiba berubah menjadi sedih. "Hei, bisakah kalian membawaku ke tempat Duke Harbert berada?"
Arabella dan Ray terlihat sedikit terkejut saat mendengar permintaan Armand. "Apa terjadi sesuatu yang membuat kalian akrab?" Tanya Arabella dengan ekspresi yang sedikit kebingungan.
"Apa kepalamu terbentur sesuatu?!" Ekspresi Ray yang awalnya sedikit terkejut sekarang berubah menjadi sedikit panik.
"Tidak!" Armand mendorong Ray ke belakang dengan kuat, ia merasa jengkel saat melihat wajahnya. "Yah… ada sesuatu yang terjadi pada kami saat berada di hutan itu." Sambung Armand sambil melihat ke arah adiknya.
Arabella terlihat sedikit penasaran dengan apa yang telah terjadi pada mereka berdua, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya saat ia merasa bahwa kakaknya pasti tidak akan memberitahunya. "Aku akan mengantarmu kesana." Ucap Arabella dengan senyuman yang sedih.
"Terima kasih Arabella. Kamu memang bisa diandalkan." Armand kembali mengelus kepala Arabella dengan senyuman di wajahnya.