
Seketika Willard langsung memukul kepala kedua pelayan itu dengan kuat hingga mereka kehilangan kesadaran. “Armand, segera bawa tubuhnya ke kamarnya.” Perintah Willard kepada Armand setelah memastikan kedua pelayan itu sudah kehilangan kesadarannya.
“Membawanya kemana?” Tanya Armand sambil berjalan mendekati ayah Elyana yang kehilangan kesadaran itu.
“Ke kamarnya.” Jawab Willard singkat dengan nada suara yang serius.
“Apa Anda tahu dimana letak kamar Tuan Henry?” Armand kini berdiri di samping tubuh ayah Elyana yang kehilangan kesadaran itu.
“Tidak. Tapi kita pasti akan menemukannya.” Willard menatap Armand dengan tatapan yang sangat serius.
“Hah… tolong jangan bercanda. Apakah kita harus mencarinya di tempat sebesar ini?” Armand merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Willard.
“Lebih baik kita langsung bertanya pada pelayannya saja tadi, kenapa Anda harus memukul kepalanya dengan kuat seperti itu?” Armand melihat ke kedua pelayan ayah Elyana yang tergeletak di bawah Willard.
“Jika aku tidak memukulnya sekuat itu, mereka berdua pasti akan mengingat tentang hal ini, setidaknya mereka akan melupakan tuan mereka yang baru saja kehilangan kesadaran.” Willard menghela napas berat saat mencoba untuk memikirkan bagaimana mereka bisa menemukan kamar ayah Elyana.
“Jadi, sekarang kita harus bagaimana? Jika pelayan lain melihat ini, kita pasti akan masuk penjara.” Armand menunduk untuk melihat kondisi ayah Elyana yang terlihat kesakitan.
“Sebaiknya kamu bawa dulu badan itu, aku akan membawa dua pelayan ini ke kamar para pelayan berada.” Willard langsung mengangkat kedua pelayan itu dengan kedua tangannya.
“Tidak. Aku tidak tahu.” Willard kembali memandangi Armand dengan tatapan yang serius juga.
“Hah… bagaimana Anda bisa datang kesini tanpa persiapan apapun, lebih baik kita langsung membawa mereka dan lewat dari pintu depan saja dan berkata pada pelayan-pelayan itu bahwa tuan mereka tiba-tiba jatuh sakit dan kita datang untuk menolongnya.” Armand terlihat pasrah dengan Willard.
“Bagaimana jika rumor nya tersebar dan ada yang menyelidikinya dan menemukan bahwa Elyana yang meracuni ayahnya sendiri?” Willard terlihat tidak senang dengan rencana Armand.
“Aku rasa itu tidak akan terjadi. Para pelayan Marquis Alston sangat berbeda dengan pelayan-pelayan lain. Aku pernah dengar mereka adalah anak-anak buangan yang dibesarkan hanya untuk melayani mereka yang terlahir dengan darah Alston. Walaupun mereka tadi sempat panik saat melihat Tuan Henry yang batuk darah, tatapan mata mereka terlihat sangat kosong.” Armand mulai merasa khawatir saat melihat wajah ayah Elyana yang terlihat semakin pucat.
“Kamu benar…Baiklah lebih baik kita langsung masuk dari pintu depan saja, walaupun kita mencoba untuk membawanya secara diam-diam ke kamarnya, ujung-ujungnya para pelayan itu akan segera tahu. ‘Marquis Henry Alston jatuh sakit dan Duke Willard Harbert mencoba untuk membantunya’ Aku rasa itu tidak buruk sama sekali.” Willard terlihat berpikir sebentar dan akhirnya menyetujui rencana Armand.
“Baguslah kalau begitu. Saya tidak tahu sampai kapan Tuan Henry akan bertahan.” Armand kemudian mengangkat tubuh ayah Elyana.
Willard sempat melihat ke arah Armand sebentar sebelum kembali melihat ke depan dan menuju ke pintu utama mansion milik Marquis Alston. “Ely… kenapa kamu melakukan hal seperti ini…” Ucap Willard dalam hatinya dengan sedih.
Saat mereka sampai pada pintu utama mansion, para pelayan terlihat terkejut saat melihat Armand yang membawa tuan mereka dan terlihat tak sadarkan diri, mereka segera berlari menuju ke arah mereka dan menanyakan apa yang terjadi. Willard dan Armand menjelaskan kepada mereka sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya. Tetapi anehnya, mereka hanya bertanya tentang ayah Elyana dan tidak memperdulikan kedua pelayan yang tidak sadarkan diri itu, mereka hanya mengambil tubuh mereka dari Willard dan membawanya pergi begitu saja.