
Elyana terkejut saat melihat kereta kuda yang dikirimi ayahnya terletak di depannya. Elyana berpikir bahwa pelayannya itu sedang berbohong kepadanya, tetapi itu adalah sebuah kebenaran yang kini tak dapat dibantahnya.
Elyana perlahan melepaskan genggaman tangannya pada pelayan itu. Setelah genggaman tangannya dilepaskan oleh Elyana, pelayan itu meringis kesakitan dan kemudian pelayan lain yang berada di sekitar kereta kuda itu segera memandu pelayan itu untuk segera menjauh dari Elyana. Sedangkan Elyana masih berdiri tak bergerak disana sambil melihat kereta kuda yang dikirimi ayahnya itu.
Dirinya merasakan amarah yang sangat luar biasa menyelimuti hatinya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat untuk mengontrol emosinya. Elyana menghela napas berat saat emosinya berhasil ia kontrol dan naik ke kereta kuda itu.
Setelah Elyana sampai pada mansionnya, ia segera masuk dan pergi menghampiri ayahnya dengan penuh amarah. “Ayah! Apa maksudmu menyuruhku pulang dengan cara seperti itu?! Willard sedang tidak sadarkan diri dan kamu menyuruhku untuk segera pulang dan mengancamku dengan alasan yang tidak masuk akal seperti itu?!”
“Willard? Maksudmu tunangan tidak bergunamu itu? Jika kamu menikahi seorang Duke, siapa yang akan melanjutkan keluarga ini? Aku tidak bisa membuatmu menikahi pria yang akan merebut masa depan Keluarga Marquis Alston begitu saja.” Ucap ayah Elyana tanpa melihat ke putri satu-satunya itu.
“Tidak berguna…?” Elyana mencoba untuk menahan emosinya, ia merasa saat ini dirinya sangat ingin membentak ayahnya itu, tetapi ia berusaha untuk menahannya.
“Daripada menikahi pria seperti itu, lebih baik kamu menikahi Viscount Dallen Brant. Ayo cepat perkenalkan dirimu pada orang yang akan menjadi suamimu di masa depan nanti.” Ayah Elyana menolehkan kepalanya dan tersenyum kecil padanya saat melihat Viscount Dallen Brant yang berada di depannya tampak senang saat melihat Elyana.
“Putri Anda begitu cantik Marquis Henry. Aku rasa kita dapat menjadi pasangan suami istri yang baik di masa depan nanti.” Viscount Dallen Brant yang duduk di depan ayah Elyana kini tertawa licik saat melihat penampilan Elyana.
Elyana terlihat sangat tidak senang saat melihat Viscount melihat dirinya dengan mata yang seakan hanya menginginkan tubuhnya saja. “Tunanganku adalah Duke Willard Harbert dan kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja.” Ucap Elyana sambil melihat Viscount dengan tatapan yang dipenuhi dengan rasa jijik.
“Tentu saja aku bisa membatalkan tunangan kalian. Kamu adalah anakku dan sudah tanggung jawab orang tua untuk menentukan masa depan yang baik untuk putrinya bukan?” Ayah Elyana tampak tidak senang dengan jawaban dari Elyana.
“Aku tidak akan menikahi pria menjijikkan di depanmu itu.” Ucap Elyana sambil melihat mata ayahnya dengan tatapan yang dingin.
“Aku tidak menanyakan padamu apakah kamu mau menikahi Viscount Dallen atau tidak. Aku sedang menyuruhmu untuk menikahinya, dan itu adalah hal mutlak. Anak macam apa yang tidak mendengarkan ayahnya, dasar bodoh.” Ayah Elyana memalingkan matanya dari Elyana dan tersenyum kepada Viscount yang sedang duduk di depannya.
“Tidak apa-apa Marquis Henry. Saat kita sudah menikah, aku akan mengajarinya dengan baik.” Viscount Dallen Brant melihat ke Elyana dengan senyum menyeringai.
Elyana merinding saat melihat senyum Viscount . Elyana yang mendengar percakapan busuk ayahnya dan Viscount Dallen Brant merasa sangat marah. “Kalian kira aku ini apa?” Gumam Elyana dalam hatinya sambil menggigit bibirnya sampai berdarah.
“Aku tidak akan pernah menikahi pria itu apapun yang terjadi!” Elyana tiba-tiba berteriak di tengah-tengah percakapan ayahnya dan Viscount Dallen Brant.
Setelah mengatakan itu, ia segera berlari ke kamarnya meninggalkan ayahnya dan Viscount Dallen Brant. Setelah Elyana berteriak seperti itu, ayah Elyana tampak meminta maaf ke Viscount Dallen Brant lagi.
“Aku rasa ini cukup sulit untuk diterimanya. Aku akan datang lain kali lagi untuk membahas kapan pesta pernikahannya diselenggarakan. Kalau begitu sampai jumpa lain kali.” Ucap Vicount Dallen Brant sambil berjalan keluar dan meninggalkan kediaman Marquis Alston. Ayah Elyana hanya tersenyum saat mengantar Viscount Dallen Brant pada kereta kudanya.
Setelah Viscount Dallen Brant sudah pergi dari kediamannya, ayah Elyana segera pergi ke kamar Elyana dan membentaknya dengan suara yang sangat keras. “Apa yang sedang kamu pikirkan?! Beraninya kamu memperlakukanku seperti itu?!”
“Aku sudah bilang aku tidak mau menikahi pria itu!” Elyana kembali membentak ayahnya.
“Kamu tidak punya hak untuk memilih siapa yang ingin kamu nikahi! Di rumah ini semua hal yang ditentukan oleh ku adalah hal mutlak! Dasar anak tidak berguna!” Bentak ayah Elyana sambil menunjuk-nunjuk Elyana dengan jarinya.
“Aku pikir apa yang membuatmu kembali ke sini lagi dan ternyata kamu kembali untuk hal seperti ini…” Elyana terlihat sangat kecewa dengan ayahnya.
“Jika kamu tidak bisa menurutiku untuk apa kamu hidup?! Lebih baik kamu mati saja bersama dengan ibumu! Awas saja jika kamu tidak bersikap baik dan bilang kamu tidak mau menikah di hadapan Viscount Dallen Brant, saat itu terjadi aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Setelah mengucapkan hal itu, ayah Elyana meninggalkan Elyana yang masih terkejut dengan apa yang baru saja ayahnya katakan.