
“Itu berarti kamu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pangeran itu bukan?” Willard kembali memastikan saat Elyana selesai menceritakannya bagaimana mereka bertemu. “Dan ayah sialanmu itu…” Tatapan Willard tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.
“Sekarang sudah selesai bukan permasalahannya?” Elyana berusaha untuk memaksakan senyumannya pada Willard.
“Ya. Kamu sekarang sudah tidak perlu kembali kesana lagi.” Ucap Willard dengan serius.
“Maksudmu?” Elyana terlihat kebingungan dengan ucapan Willard.
“Mulai sekarang kamu akan tinggal disini bersamaku.” Ucap Willard dengan senyuman di wajahnya.
“Tapi…” Elyana terlihat ragu-ragu saat mendengar ucapan Willard.
“Apa yang kamu khawatirkan? Semuanya akan baik-baik saja selama aku ada disini.” Willard mencoba untuk menenangkan Elyana yang terlihat penuh keraguan dan kekhawatiran.
Sedikit beban yang Elyana pikul kini terlihat terlepas darinya, ia melihat ke tatapan Willard yang mencoba untuk menenangkannya, tatapan hangat yang ia rasakan dari Willard benar-benar adalah suatu hal yang benar-benar ia cari dalam hidupnya.
“Apakah semuanya benar-benar akan baik-baik saja sekarang?” Elyana mendekatkan wajahnya pada Willard dengan tatapan yang sangat sedih. “Apa kamu tidak akan berubah menjadi wanita itu?”
“Tentu saja. Tapi, siapa wanita yang kamu maksud?” Willard terlihat tersenyum sebentar dan kemudian ekspresi wajahnya menjadi sangat serius.
Elyana terlihat terdiam sebentar saat Willard bertanya. “Aku tidak tahu, aku hanya merasa wanita itu adalah orang yang jahat.”
“Apa kamu tahu namanya? Beritahu aku dan aku akan segera memotong kepalanya untukmu.” Willard memegang tangan Elyana dengan erat dan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Aku tidak tahu… belakangan ini, aku merasa seperti aku melupakan sesuatu yang sangat penting…” Elyana terlihat seperti orang yang kebingungan dengan dirinya sendiri.
“Mungkin kamu sedang kelelahan… Aku akan segera mengobati lukamu dan setelah itu kamu segera beristirahatlah.” Ucap Willard dengan nada suara yang cemas.
Saat Willard pergi keluar dan mengambil obat untuk luka Elyana. Elyana tiba-tiba jatuh tertidur dan terbangun di tempat yang sangat gelap.
“Ugh… ini dimana?” Elyana terlihat kebingungan saat melihat sekitarnya yang sangat gelap.
“Apa kamu sudah melupakan semuanya?” Tanya seseorang yang bercahaya di depannya dengan senyuman yang sangat sedih.
“Kamu…” Saat Elyana melihat orang itu dan merasa kenal dengan orang itu, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. “Ugh…!”
“Tenang saja, kamu tidak perlu mengingatku… Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu… Aku ingin kamu menjalani hidup ini dengan dirimu sekarang, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Jika kamu terus bergantung pada buku itu, suatu saat nanti kamu akan hancur oleh pikiranmu sendiri. Mungkin kamu tidak akan mengingat apa yang aku bicarakan saat ini, tapi itu tidak apa-apa karena aku sudah mulai menerima semuanya, dan ini semua berkatmu. Terima kasih karena sudah membiarkan ku melihat semuanya dari matamu.” Orang bercahaya itu tersenyum dengan sangat indah dan seketika ia menghilang begitu saja.
Elyana yang melihat itu tidak bisa mengatakan apapun, tapi entah kenapa ia merasa sangat sedih hingga air matanya terjatuh saat ia bangun.
“Maaf! Apa itu sakit?” Tanya Willard yang sedang mengoleskan obat pada pipi Elyana saat melihat Elyana yang tiba-tiba bangun dengan air mata.
“Ya… itu benar-benar sakit.” Air mata Elyana tidak bisa berhenti mengalir dari pipinya.
“Aku benar-benar minta maaf!” Willard merasa bersalah saat melihat air mata Elyana yang terus jatuh.
“Tapi… tidak apa-apa. Semuanya pasti akan baik-baik saja…” Ucap Elyana dengan senyuman dan air mata yang terus mengalir.
“Ely…?” Willard terlihat terkejut saat Elyana tersenyum dengan air mata yang terus mengalir.
Elyana tiba-tiba memeluk Willard yang membuatnya sangat terkejut. “Aku pasti akan hidup bahagia.” Ucap Elyana dengan tatapan yang bahagia dan sedih pada saat yang sama. Willard yang mendengar ucapan Elyana hanya tersenyum dan kembali memeluk Elyana dengan erat.