
Armand membalikkan badannya ke belakang dan melihat ke arah Elyana. “Marquis Henry baik-baik saja, tubuhnya hanya bereaksi pada obat yang saya berikan.”
Elyana dan Willard menghela napas lega bersamaan saat mendengar ucapan Armand. “Aku kira dia akan mati.” Ucap Willard dengan ekspresi yang lega.
“Aku juga mengira dia benar-benar akan mati…” Elyana menyetujui perkataan Willard.
“Kalian berdua tampaknya sudah berbaikan.” Armand terlihat tidak suka dengan kedekatan Willard dan Elyana.
“Yah… begitulah.” Willard melihat ke wajah Elyana dengan senyuman yang menenangkan dan Elyana mencoba untuk menghindari tatapan Willard dengan wajah yang tersipu malu.
Armand terlihat semakin kesal melihat kedekatan mereka berdua. Pandangan Armand tiba-tiba tertuju pada tangan Willard yang sedang memegang vas bunga. “Kenapa Anda memegang hal seperti itu?”
“Hm?” Willard menyadari pandangan Armand yang tertuju padanya dan ia kemudian mengangkat tangannya dan melihat apa yang sedang ia pegang. “Oh ini? Tadi aku hanya ingin mencari cara untuk menghapus ingatan Marquis.” Ucap Willard dengan senyuman yang begitu percaya diri.
“Apakah Anda benar-benar ingin membunuh Marquis Henry?” Tanya Armand dengan ekspresi yang seakan tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan Willard.
“Apa dia selemah itu? Ini hanya vas bunga saja, tidak mungkin dia mati semudah itu bukan? Hahaha.” Willard tertawa keras mendengar ucapan Armand.
Armand langsung menghela napas lelah. “Tolong tanamkan perkataan ini di otak Anda. ‘Tidak semua orang terlahir sekuat Anda’ Saya memohon Anda untuk mengingat hal itu karena saya tidak tahu apakah suatu saat Anda akan tidak sengaja membunuh orang dengan pemikiran seperti itu."
“Benar, kamu harus menanamkan ucapan Armand di otakmu itu Will.” Elyana menyetujui ucapan Armand.
“Jadi, apakah kamu tahu kapan ayahku akan sadar kembali?” Elyana mengabaikan Willard dan melihat ke arah Armand.
“Ely… kamu mengabaikanku?” Willard terlihat sedih dan kecewa tetapi Elyana tetap mengabaikannya.
“Sejujurnya saya tidak terlalu tahu tentang hal itu karena saya bukan ahlinya. Tapi jika dilihat dari reaksinya pada obat yang saya berikan, kemungkinan Marquis akan bangun dalam waktu yang dekat.” Jawab Armand dengan nada suara yang serius.
“Benarkah…? Aku benar-benar sangat senang mendengar hal itu.” Elyana merasa rasa khawatirnya sudah semakin berkurang setelah mendengar ucapan Armand.
“Padahal dia yang meracuni ayahnya sendiri, kenapa dia sekarang malah mengkhawatirkannya?” Armand benar-benar mencurigai sosok Elyana yang saat ini berdiri di depannya.
“Oh ya, Bagaimana kabar adikmu saat ini?” Elyana tiba-tiba teringat dengan Arabella.
Armand tersentak saat Elyana menanyakan kabar adiknya. “Mungkin dia baik-baik saja. Saya tidak pulang ke rumah belakangan ini jadi saya tidak terlalu tahu.” Jawab Armand dengan ekspresi yang ragu.
Elyana terlihat sedih saat melihat ekspresi Armand yang ragu. “Setidaknya kirimlah surat untuk adikmu. Bukannya aku ingin menasehatimu atau semacamnya, tetapi setidaknya pikirkan perasaan adikmu yang tidak tahu kabar kakak yang sangat ia sayangi ya?”
Elyana teringat dirinya di kehidupan sebelumnya yang selalu diabaikan kakaknya, mau berapa kali pun ia memanggilnya, dia tidak pernah menjawabnya sama sekali dan bahkan tidak pernah mau melihat ke wajahnya sampai pada akhir hidupnya.