
Lia berjalan dengan cepat di lorong menuju kamar para pelayan berada dengan ekspresi yang gelap.
Kemudian ia berhenti berjalan saat melihat dua pelayan yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan darinya. “Kalian berdua.” Panggil Lia dengan suara yang dingin.
Kedua pelayan itu berhenti berjalan di depan Lia saat mendengar Lia memanggil mereka. “Ada apa?” Jawab salah satu pelayan itu tanpa dengan ekspresi.
“Salah satu dari kalian bawakanlah kue untuk Nona Elyana dan satunya lagi ikut saya.” Ucap Lia dengan ekspresi yang dingin.
“Baik.” Salah satu pelayan itu kemudian segera berjalan pergi dan menuruti perkataan Lia tanpa menanyakan apapun lagi.
“Apa yang harus saya lakukan?” Tanya satu pelayan yang masih berdiri di depan Lia.
“Ada seorang pelayan yang berani memberitahu dunia luar tentang hal yang terjadi disini. Kamu tahu apa yang harus dilakukan bukan?”
“Tentu saja.”
Lia kemudian berjalan melewati pelayan itu dan pelayan itu mengikutinya dari belakang. Setelah Lia dan pelayan itu berjalan beberapa saat, mereka akhirnya sampai pada pintu satu ruangan di depannya.
“Lucy Piper, 24 tahun, pelayan baru yang direkrut oleh Tuan Henry.” Ucap pelayan yang berdiri di belakang Lia.
“Alasan dia direkrut?” Tanya Lia sambil melihat ke arah pelayan itu dengan tatapan dingin.
“Dia tidak sengaja menumpahkan teh pada Tuan Henry saat sedang makan siang di suatu restoran dan hal itu membuat Tuan Henry marah besar yang membuatnya harus bekerja di mansion ini sampai mati.”
“Itu berarti dia adalah orang luar bukan?”
“Benar.”
“Padahal ini adalah jam bekerja, bagaimana dia bisa bermalas-malasan di kamarnya? Dasar tidak berguna.” Lia mendengar suara tawa seseorang dari kamar itu.
“Apakah harus saya singkirkan?”
“Tentu saja.”
“A-Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Lucy dengan suara yang sedikit gemetaran karena rasa takut yang luar biasa.
“Maaf karena harus mengganggu kebahagiaan Anda sebentar.” Ucap Lia dengan senyuman di wajahnya.
Pelayan yang berada di belakang Lia tiba-tiba berlari ke arah Lucy dan menancapkan pisau pada lehernya. Lucy tampak meringis kesakitan sebentar dan melihat ke pelayan itu, dan seperdetik kemudian ia langsung kehilangan nyawanya pada saat itu juga.
Lia hanya menatap Lucy yang meringis kesakitan sampai kehilangan nyawanya dengan tatapan dingin. “Orang luar seperti Anda tidak seharusnya mencampuri urusan keluarga ini.” Ucap Lia sambil menatap Lucy yang sudah kehilangan nyawanya.
“Apa yang harus saya lakukan dengan mayatnya?” Tanya pelayan itu dengan bersimbah darah di pakaiannya.
“Potong bagian tubuhnya menjadi sekecil mungkin dan kuburkan dengan rata.” Lia membalikkan badannya dan melihat ke mayat itu sekali lagi.
“Baik.”
Lia berjalan keluar dari kamar itu setelah mendengar jawaban pelayan itu. Ia segera berjalan kembali ke kamar Elyana dengan ekspresi yang tenang.
“Nona Elyana.” Panggil Lia setelah sampai pada kamar Elyana.
“Lia? Apakah urusan kamu sudah selesai?” Tanya Elyana yang sedikit senang saat melihat Lia yang berdiri tak jauh darinya.
“Tentu saja, saya sudah menyelesaikan semua urusan saya dengan baik.” Ucap Lia dengan senyuman di wajahnya.
“Baguslah kalau begitu. Apakah kamu mau makan ini juga?” Elyana menawarkan kue-kue yang disajikan di mejanya kepada Lia dengan senyuman yang menenangkan.
“Tidak, bagi saya melihat Anda makan dengan bahagia seperti ini sudah sangat cukup bagi saya.” Lia berjalan mendekati Elyana dan berdiri di sampingnya dengan sebuah senyuman yang begitu lega.