Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 88



“Apakah kamu sudah merasa lebih tenang?” Malvin kembali ke ruangannya dengan membawa teh dan beberapa kue.


Elyana hanya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang gelap. Malvin menghampiri Elyana dan meletakkan teh dan kue yang dibawanya di meja dekat tempat Elyana duduk.


“Malvin…” Panggil Elyana dengan suara yang lemah.


“Ada apa?” Malvin tersenyum lemah saat mendengar Elyana yang memanggilnya.


“Apakah… kamu mau menjadi pewaris takhta…?” Elyana terlihat ragu untuk menanyakan tentang hal itu kepada Malvin.


“Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan hal itu?” Malvin merasa tidak senang dengan pertanyaan Elyana. “Pikiranmu pasti masih kacau. Minumlah teh ini dan tenangkan pikiranmu.” Malvin menuangkan teh ke sebuah cangkir untuk Elyana dan menyodorkan teh itu pada Elyana.


“Jika kamu benar-benar ingin mewarisi takhta, aku… bisa membantumu…” Elyana menundukkan kepalanya, entah kenapa ia merasa ragu dengan hal itu.


Malvin meletakkan kembali cangkir teh itu saat Elyana menolak untuk meminum teh yang disodorkannya. “Ely… Sebenarnya apa yang terjadi padamu…?” Malvin berjalan mendekati Elyana dan bertekuk lutut di dekatnya.


“Aku hanya merasa aku harus melakukan ini…” Elyana tidak berani melihat ke tatapan Malvin yang berada di dekatnya, ia menggenggam tangannya yang gemetaran dengan kuat.


“Melakukan apa? Kamu pasti tahu jika aku ingin menjadi pewaris takhta aku harus membunuh kakakku! Memang aku membenci dia dari lubuk hatiku, tapi sampai harus membunuhnya…” Malvin melihat Elyana dengan tatapan yang kecewa dan sedih. “Aku… ingin membantumu Ely, tapi jika sampai harus membunuh…” Malvin merasa sangat tidak berdaya di depan Elyana.


“Jadi… kamu tidak mau membantuku?” Tangan Elyana tidak gemetaran lagi, Malvin mungkin menolak untuk membantunya, tetapi entah kenapa hatinya terasa sangat lega.


“Bukan begitu… Aku…” Malvin menundukkan kepalanya dengan perasaan yang sangat tidak berdaya.


“Baiklah.” Elyana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melewati Malvin begitu saja. Saat sampai di pintu keluar ruangan itu Elyana terdiam sejenak. “Maaf…” Elyana tersenyum lemah kepada Malvin dan segera keluar dari ruangan itu.


Elyana melihat ke arah langit yang terlihat dari taman di depannya. “Ya. Semuanya sudah selesai…” Ucap Elyana dengan perasaan yang lega.


“Sekarang hanya tersisa diriku saja. Sudah cukup dengan orang lain. Cukup aku saja yang menjadi penjahatnya. Bodohnya aku sampai mencoba untuk melibatkan seseorang sebaik Malvin ke dalam masalah ini.” Hati Elyana terasa sangat tenang, sangat tenang sampai ia rasa dirinya dapat membunuh orang dengan senyuman di wajahnya saat ini.


“Saya akan mengantar Anda ke kereta kuda Anda berada.” Armand terlihat bersemangat sekali untuk mengantar Elyana pergi dari sana.


“Kamu sepertinya sangat senang jika aku pergi dari sini.” Elyana menatap Armand dengan tatapan dingin.


“Maafkan ketidaksopanan saya, tapi memang saya sangat senang jika Anda segera pergi dari sini.” Armand tersenyum bahagia saat melihat Elyana menatapnya dengan tatapan dingin.


“Segera tunjukkan jalannya.” Elyana mengalihkan pandangannya dari Armand dan melihat ke arah sebaliknya.


“Dengan senang hati, Nona Elyana.” Armand membalikkan badannya dan berjalan mendahului Elyana dan Elyana mengikutinya dari belakangnya.


“Ngomong-Ngomong Nona Elyana, bolehkah saya bertanya sesuatu?” Armand melihat ke arah Elyana sambil berjalan.


“Tergantung pertanyaannya. Aku akan menjawabnya jika itu tidak menyinggungku.” Elyana terlihat tidak suka saat Armand ingin bertanya kepadanya.


“Baiklah. Anda menganggap Pangeran Malvin sebagai apa?” Armand kembali melihat ke depan setelah bertanya kepada Elyana.


“Malvin…?” Elyana berhenti berjalan untuk berpikir sejenak, kemudian ia segera berjalan kembali. “Adik laki-laki yang harus kulindungi."Jawab Elyana dengan senyuman di wajahnya.