
“Apakah Anda baik-baik saja Nona Elyana?” Armand berjalan ke arah Elyana dan melihatnya dari dekat.
“Tidak usah berpura-pura baik seperti itu.” Elyana mendorong Armand untuk menjauh darinya.
“Saya bukannya bersikap baik kepada Anda, jika terjadi sesuatu pada Anda, Duke Harbert pasti akan menghajar saya habis-habisan.” Armand menjauh beberapa langkah dari Elyana dengan ekspresi yang kesal.
“Lebih baik kamu segera mengantarkanku ke tempat Malvin berada.” Elyana menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang gelap.
“Hah… Baiklah. Ikuti saya.” Armand membalikkan badannya dan kembali berjalan di depan Elyana.
“Apakah yang sedang kulakukan saat ini adalah hal yang benar…?” Elyana kembali mengingat tangan Caitlin yang berdarah dan merasa mual. “Tidak… sekarang sudah tidak ada jalan untuk kembali lagi.” Elyana mengikuti langkah kaki Armand sambil menundukkan kepalanya.
Di sepanjang perjalanan mereka menuju ke ruangan Malvin, Elyana dan Armand tidak mengatakan apapun, masing-masing dari mereka hanya fokus berjalan dan tidak memperdulikan satu sama lain. Setelah beberapa saat mereka berjalan, akhirnya Elyana dan Armand sampai pada satu ruangan dengan pintu yang sangat besar.
“Ini adalah ruangan tempat Pangeran Malvin berada.” Armand berdiri di samping pintu itu dengan mata tertutup.
“Kamu tidak akan masuk denganku bukan?” Tanya Elyana dengan ekspresi yang kelelahan.
“Tentu saja tidak. Orang seperti saya tidak mungkin berani mengganggu percakapan dari bangsawan tingkat atas seperti kalian.” Armand memaksakan senyumannya pada Elyana.
“Baguslah kalau begitu.” Elyana tersenyum lemah kepada Armand.
Saat Elyana dan Armand sedang berbicara, tiba-tiba pintu di depan mereka terbuka sedikit. Sebuah tangan muncul dari pintu itu dan menarik Elyana ke dalamnya. Armand yang melihat itu tidak mengatakan apapun dan hanya melihatnya saja. Setelah Elyana masuk, pintu itu pun tertutup kembali.
Elyana awalnya terlihat sangat terkejut, tetapi ia langsung tersenyum karena ternyata orang yang menariknya adalah Malvin. Elyana meletakkan tangannya di kepala Malvin dan mengelus-elusnya dengan senyuman di wajahnya. “Kamu terlihat sangat berbeda pada saat kita pertama kali bertemu.”
Malvin yang mendengar ucapan Elyana segera melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. “Aku hanya senang karena melihatmu masih hidup.”
“Jahat. Apa kamu pikir aku akan mati begitu saja?” Elyana tertawa kecil saat melihat Malvin yang terlihat seperti anak kecil.
Malvin menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Aku benar-benar berpikir kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Malvin kembali menunjukkan ekspresi datarnya pada Elyana.
“Hahaha, kamu kembali menunjukkan ekspresi seperti itu lagi.” Elyana melihat wajah Malvin dengan rasa senang yang ia tidak pernah rasakan belakangan ini.
Malvin yang melihat Elyana tertawa seperti itu merasa senang juga, sebuah senyuman kecil terlintas di wajah Malvin. “Aku harap aku bisa selalu melihat tawamu Ely…”
“Bunuh kedua orang itu…”
Di tengah kesenangan Elyana, tiba-tiba suara itu muncul kembali dan membuat Elyana memasang ekspresi yang gelap lagi. Malvin yang melihat Elyana tiba-tiba memasang ekspresi yang gelap langsung menghampirinya. “Ely! Apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Malvin dengan khawatir.
“Ya. Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya melupakan sesuatu yang penting. Ada sesuatu hal yang penting harus kulakukan dan aku membutuhkan bantuanmu. Apakah kamu mau membantuku?” Elyana memegang lengan Malvin dengan gemetaran.
“Tentu saja aku akan membantumu. Apapun itu aku pasti akan membantumu, jadi tidak perlu terburu-buru. Duduklah sebentar dan tenangkan dirimu ya?” Malvin mencoba untuk menenangkan Elyana dengan senyuman yang terlihat sangat khawatir.
Elyana yang melihat ekspresi Malvin kembali tersadarkan. “Baiklah.” Elyana merasakan sedikit rasa bersalah saat melihat senyuman Malvin yang penuh dengan rasa kekhawatiran.