Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 107



“Ayah, apakah ayah sudah merasa lebih baik?”


Elyana berdiri di samping tempat tidur ayahnya yang masih terbaring lemah disana dengan tatapan yang terlihat mengkhawatirkan kondisi ayahnya itu. 


“Tubuhku sudah merasa lebih baik, hanya saja… aku belum bisa mengingat apapun.” Ayah Elyana kembali melihat anak perempuannya itu dengan tatapan yang cemas.


Elyana sedikit tersenyum saat mendengar kondisi ayahnya yang sudah membaik. “Ayah bisa pelan-pelan saja mengingatnya.”


Ayah Elyana merasa sedih dan bersalah pada saat bersamaan saat melihat senyuman Elyana. “Maaf, mau seberapa keras aku mencoba… aku benar-benar tidak bisa mengingat tentangmu.”


“Tentu saja dia merasa kebingungan, di mansion ini saja tidak pernah ada lukisanku sama sekali. Mungkin dia mengira aku hanyalah seseorang yang mau memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil alih keluarga Marques Alston.” Elyana tertunduk sedih sambil memegang tangannya sendiri dengan kuat.


Elyana segera memaksakan senyumannya pada ayahnya. “Aku… ada urusan lain yang harus kuselesaikan, jadi aku akan pergi sekarang. Aku harap ayah dapat segera sembuh.”


Elyana membungkukkan badannya sebentar pada ayahnya, kemudian ia segera membalikkan badannya dan pergi dari kamar ayahnya. Ayah Elyana tidak mengatakan apapun lagi saat melihat Elyana yang pergi begitu saja, tetapi sekilas ia memasang wajah yang sedih saat melihat punggung Elyana yang semakin menjauh darinya.


Setelah keluar dari kamar ayahnya, Elyana berjalan menyusuri sekitar mansion itu dengan kepala yang tertunduk.


“Apa yang sebenarnya diriku ini harapkan?” tanya Elyana pada dirinya sendiri sambil melihat ke langit biru yang dapat ia lihat dari jendela di lorong menuju kamarnya.


Elyana kemudian menghela napas lelah dan kembali berjalan ke arah kamarnya. “Ini bukannya waktu untuk memikirkan tentang hal ini. Ini sudah lebih dari dua minggu, kenapa Willard masih belum mengirimkan informasi tentang Pangeran Albern dan Caitlin?”


Elyana terdiam selama beberapa saat untuk memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kediaman Duke Harbert untuk menanyakannya langsung pada Willard. 


“Selamat datang di kediaman Duke Harbert, Nona Elyana.” sambut asisten Willard yang membungkukkan badannya di depan Elyana.


“Kamu… siapa namamu?” Elyana sudah pernah beberapa kali melihat asisten Willard, tetapi ia masih tidak tahu namanya. 


“Nama saya adalah Alexandra Ariadne.” asisten Willard memperkenalkan dirinya dengan canggung.


Elyana sangat terkejut saat mendengar nama asisten Willard. “Apa kamu adalah seorang perempuan…?”


“Benar…” Alexandra melihat ke wajah Elyana dengan heran saat melihat reaksi Elyana ketika mendengar namanya.


Elyana terpaku setelah mendengar jawaban Alexandra, ia merasa tidak dapat mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. Alexandra memang tidak terlihat seperti wanita pada umumnya, ia mempunyai rambut yang pendek, layaknya seorang laki-laki, dan ia juga memakai pakaian ksatria laki-laki.


“Nona Elyana, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Alexandra dengan khawatir saat melihat Elyana berdiri terpaku di depannya.


Suara Alexandra membangunkan Elyana dari lamunannya. “Y-Ya, aku baik-baik saja.”


“Baguslah kalau begitu, apakah Anda hari ini datang karena ingin bertemu dengan Tuan Willard?” Alexandra tersenyum manis kepada Elyana dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


“Dia benar-benar perempuan… tapi kenapa dia terlihat lelah sekali?” Elyana merasa heran saat melihat wajah Alexandra yang terlihat lelah dan itu tidak hanya Alexandra saja, wajah pelayan lain yang datang menyambutnya juga terlihat sangat lelah.


Elyana ingin sekali bertanya pada Alexandra, tetapi ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk bertanya pada Willard saja, karena mungkin ialah orang yang membuat wajah para pelayannya menjadi lelah seperti ini. 


“Benar, apa kamu bisa mengantarku kesana?” 


“Silahkan ikuti saya.” Alexandra membungkukkan badannya pada Elyana sebentar dan membalikkan badannya untuk membawa Elyana pergi ke tempat Willard berada.


Setelah sampai pada ruang kerja Willard, Alexandra membukakan pintu untuk Elyana dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Elyana masuk ke dalam ruang kerja Willard. Saat ia menginjakkan kakinya ke dalam, Elyana sangat terkejut saat melihat ruangan itu yang dipenuhi dengan kertas-kertas yang berserakan di seluruh ruangan itu. Alexandra yang sudah melihat Elyana masuk ke dalam ruangan itu menutup pintu nya kembali dan berdiri di luar ruang kerja Willard. 


“Ugh… Suara itu? Ely?” suara Willard yang terdengar lelah terdengar oleh Elyana dari tempat yang tidak diketahuinya.


Elyana dengan panik melihat ke sekitarnya, tetapi ia tidak bisa menemukan Willard sama sekali. “Will? Kamu dimana?” 


“Disini…”


Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari tumpukan kertas yang berada tak jauh dari Elyana.


“Will?!” Elyana langsung berlari ke arah tumpukan kertas itu dan menarik tangan Willard dengan secepatnya.


Elyana berhasil menarik Willard keluar dari tumpukan kertas itu, masih dengan perasaan yang panik, ia meletakkan kedua tangannya di bahu Willard sambil melihat ke mata Willard yang tertutup. “Will! Apa kamu baik-baik saja?!”


Willard membuka matanya dengan perlahan. “Ely, apa…yang…kamu…lakukan…disini?” 


“Aku datang karena beberapa minggu ini kamu tidak mengirimiku informasi apapun…” Elyana melepaskan tangannya dari bahu Willard.


Kesadaran Willard langsung kembali saat mendengar ucapan Elyana. “Apa maksudmu? Aku sudah mengirimimu banyak sekali informasi yang kamu butuhkan, apa semua surat itu tidak sampai padamu?”


“Tidak… aku tidak mendapat surat apapun sejak terakhir kali kita bertemu. Apa kamu yakin tidak menulis alamat yang salah?” 


“Aku sudah memastikannya beberapa kali dan alamat yang kutulis harusnya sudah benar, dan juga aku menyuruh Alexandra untuk mengirimkannya secara langsung.” 


Willard berdiri dari tumpukan kertas itu.


“Apa kamu ada bertanya kepada pelayanmu?” 


“Tidak, tapi biasanya jika aku menerima surat, pelayanku biasanya langsung mengantarkannya padaku…” Elyana merasa sangat kebingungan dengan surat-surat Willard yang tidak pernah sampai kepadanya.


“Hmm…” Willard terlihat memikirkan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada surat yang tidak diterima Elyana.


“Alexandra!” panggil Willard sambil melihat ke arah pintu.


“Ada apa tuan?” jawab Alexandra dari luar pintu ruang kerja Willard. 


“Masuklah kesini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”


Alexandra kemudian masuk ke ruang kerja Willard tanpa mengatakan apapun lagi.


“Apa kamu benar-benar yakin sudah mengirimkan surat-surat ku ke kediaman Marquis Alston?”


Willard menatap Alexandra dengan tatapan yang sangat serius, di dalam hatinya ia mungkin sedikit mencurigai Alexandra yang mungkin mengkhianatinya dengan mengirim surat-surat penting itu ke tempat lain.


Alexandra terlihat lelah saat melihat tatapan Willard yang sepertinya sedang mencurigai dirinya. “Saya benar-benar sudah mengirimkan surat itu ke kediaman Marquis Alston.”


“Lantas kenapa Ely tidak mendapatkan satupun surat yang kamu kirimkan?”


“Huh? Bagaimana itu bisa terjadi? Saya bahkan masih mengingat bagaimana saya memberikan surat Anda kepada kepala pelayan disana…”


“Walaupun begitu, Ely bilang dia tidak mendapatkan satu surat pun dariku. Apa kamu ingin bilang jika Ely sedang berbohong kepadaku?” Willard menatap Alexandra dengan tatapan dingin yang seakan ingin membunuhnya.