Villainess Just Want A Little Love

Villainess Just Want A Little Love
Episode 20



Setelah Elyana selesai menghabiskan semua kue nya, mereka berdua pun keluar dari toko kue itu.


"Apa kamu menikmatinya?" Willard menatap Elyana dengan tatapan yang hangat dan senyuman yang sangat menenangkan.


"Ya, itu semua berkat dirimu." Elyana kembali menatap Willard dengan tatapan yang sangat antusias.


"Selanjutnya, tempat apa yang ingin kamu kunjungi?" Willard tampak sangat bahagia melihat Elyana yang sangat antusias seperti ini.


"Hmm, selanjutnya…" Elyana tampak sedang memikirkan tempat yang ingin ia kunjungi dan tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan yang mirip dengan Caitlin di antara kerumunan itu.


Elyana secara tidak sadar pergi mengejar bayangan yang terlihat seperti Caitlin itu. Willard yang melihat Elyana berlari segera menyusul Elyana. Tapi sayangnya, Willard kehilangan Elyana di tengah kerumunan itu.


"ELYANA!" Teriak Willard kepada Elyana yang perlahan berlari menjauh dan perlahan menghilang di tengah kerumunan itu.


Elyana berlari menuju ke sebuah gang kecil yang gelap, ia yakin bahwa tadi bayangan yang seperti Caitlin itu berlari kesini. Tapi ia tidak melihat siapapun.


Tiba-tiba seseorang berdiri di belakang Elyana. Elyana yang menyadari kehadiran itu segera membalikkan badannya ke belakang, tetapi sebelum ia bisa melakukannya, orang itu memukul kepala Elyana hingga kehilangan kesadaran.


Willard yang kehilangan Elyana tadi memanggil semua ksatria yang ada disana untuk mencarinya.


"Ely, kamu pergi kemana?" Gumam Willard dengan ekspresi yang khawatir sambil berlari di sekeliling kota.


Willard berlari sampai pada suatu gang kecil dan menemukan perhiasan rambut Elyana yang berlumuran darah. Ekspresi wajah Willard yang tadi sangat khawatir kini dipenuhi dengan amarah. Ia segera melacak dimana tempat Elyana dibawa.


***


Elyana perlahan membuka matanya dan merasakan kepalanya sangat sakit. Yang pertama ia lihat di hadapannya adalah Caitlin yang sedang duduk di kursi dan memandangi dirinya dengan tatapan yang merendahkan.


"Kamu sudah sadar?" Caitlin menanyakan kondisi Elyana dengan sangat dingin.


"Di situasi seperti ini pun kamu masih tenang ya." Caitlin tersenyum jahat dengan tatapan merendahkan Elyana.


"Jadi, apa yang kamu mau dengan menculikku seperti ini? Uang?" Tanya Elyana yang masih dengan ekspresi tenang.


"Tidak. Bukan. Aku hanya kesal karena kamu tampak menikmati dirimu saat melihat Pangeran Albern dan aku dipermalukan di pesta yang diadakan Viscount Elsdon, itu membuatku sangat kesal, kamu tahu itu?" Caitlin memegang rambut Elyana dan menariknya hingga wajahnya berhadapan dengan dirinya.


"Oh… aku hanya berpikir kamu berhak mendapatkannya." Elyana tersenyum dengan percaya diri saat melihat Caitlin yang tampak kesal itu walaupun kepalanya terasa sakit saat Caitlin menarik rambutnya.


Caitlin yang melihat Elyana tersenyum seperti itu menjadi sangat marah dan menamparnya dengan sangat keras.


"Aku bisa membunuh mu kapanpun aku mau, jadi jika kamu masih ingin hidup, berlutut dan meminta maaflah sambil menjilati sepatuku! Dasar wanita tidak tahu malu!" Caitlin berteriak sangat keras kepada Elyana dengan sangat kesal.


"Aku lebih baik mati daripada harus menjilati sepatu kotormu itu." Elyana masih tersenyum kepada Caitlin walaupun ia merasa kepalanya sakit sekali.


Caitlin yang melihat senyuman Elyana langsung menginjak kepala Elyana dengan sangat keras.


"Padahal kamu hanya perempuan tidak tahu malu yang terus mendekati Pangeran Albern!" Caitlin terus menginjak kepala Elyana untuk meluapkan amarahnya.


"Jangan salah paham, mungkin aku pernah mendekati pria sampah itu, tetapi sekarang aku sudah tidak mempunyai perasaan kepadanya. Aku malahan mendukung kalian berdua, karena kalian benar-benar mirip, iblis yang menyembunyikan kebusukan kalian dalam wujud yang sempurna." Setelah mengatakan itu, Elyana kemudian tertawa.


Elyana tidak pernah takut kematian, malahan di dalam lubuk hatinya terdalam ia pernah mengharapkan hal tersebut. Ia pernah berpikir jika pada waktu itu, pada saat pertama ia mengetahui dirinya baru saja menjadi Elyana, ia pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi sejak bertemu Willard, dunianya berubah, dunia yang awalnya berwarna abu-abu kini perlahan mulai kembali berwarna.


Caitlin yang melihat Elyana tertawa seperti itu mulai kehilangan kesabarannya. "KAMU!"


Caitlin mengambil sebuah pisau yang terletak di meja dekat dirinya berada dan mengarahkan pisaunya kepada Elyana. Caitlin perlahan mengayunkan pisau yang dipegangnya kepada Elyana.