
Rama, Naomi, Kaira dan Derry hanya diam melihat mereka. Yuri masih sulit untuk mengatakan "Iya" pada Kenzie. Setelah Kenzie memohon maaf padanya, Yuri tidak berkata apapun. Ia berbalik dan kembali ke kamarnya. Kenzie mengikutinya dari belakang layaknya seorang anak yang habis di hukum oleh ibunya.
"Yah, sudah tenang? Sabar ya Yah." Kata Naomi.
"Bagaimana ayah bisa sabar, Bunda. Ayah tidak pernah mendidiknya seperti itu. Bahkan Ayah tidak pernah mencontohkan perbuatan seperti itu." Jawab Rama.
"Ayah malu, Bun. Ayah malu pada orangtua Yuri. Ayah sudah gagal mendidik anak ayah." Lanjutnya lagi.
"Sabar Yah, mungkin Kenzie hanya ingin bersikap baik pada karyawannya." Kata Naomi.
"Bersikap baik? Apa harus peluk-pelukan untuk bersikap baik? Bermalam di tempat wanita lain." Emosi Rama kembali naik ketika mengingat ia melihat anaknya di apartemen perempuan lain.
Rama bisa sampai ke apartemen Klara karena Klara yang mengirim pesan. Ia tak hanya mengirim pesan pada Rama. Klara juga mengirim pesan pada Yuri. Saat itu mereka semua sedang berkumpul di ruang TV. Melihat ekspresi Yuri yang terkejut dan Rama juga terkejut mendapat pesan tersebut. Rama yakin bahwa yang Yuri lihat sama seperti apa yang Rama lihat.
Tanpa berpikir panjang, Rama langsung meminta Frans untuk mengantarnya ke apartemen Klara. Tak hanya Rama yang emosi saat itu. Derry juga merasa marah pada Kenzie. Melihat Yuri seperti itu, Derry langsung mengambil ponsel Yuri dan melihat apa yang Yuri lihat. Ingin rasanya ia menghabisi Kenzie. Tapi ia harus memendam kekesalannya. Ia tidak ingin Kaira berpikir yang bukan-bukan.
Yuri langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa menoleh ke Kenzie. Kenzie merasa sangat bersalah pada Yuri. Ia lebih tahu Yuri, tapi lagi-lagi Kenzie lah yang menyakitinya.
"Sayang, maafin aku." Ucap Kenzie.
"Sudah larut malam, tidurlah." Jawab Yuri.
"Sayang, aku mohon maafin aku. Aku gak ada maksud untuk menyakitimu. Itu aku lakukan hanya karena pekerjaan saja. Aku sama sekali tidak ada perasaan apapun pada Klara." Kata Kenzie.
"Aku sama sekali tidak menyukai Klara. Aku dengannya hanya sebatas rekan kerja saja sayang. Kemarin, memang kebetulan ada klien yang mengajak aku dan Klara makan." Kata Kenzie.
"Sudah Ken! Sudah! Ini sudah sangat malam. Tidurlah!" Yuri merasa risih mendengar nama wanita itu.
"Aku cuma ingin kamu tidak salah paham, sayang. Aku tidak tahu jika Klara memanfaatkan aku karena ia menyukaiku." Lagi-lagi Kenzie menyebut namanya. Tanpa aba-aba, Yuri mengambil bantal dan selimut. Lalu ia membuka pintu kamar.
"Keluar! kamu yang keluar atau aku yang keluar?!" Yuri membuat pilihan.
"Sayang, kita bisa membicarakannya baik-baik kan?" Kenzie memohon.
"Oke kalau itu pilihanmu!" Yuri menutup pintu kamar dan pergi ke kamar Devan. Tak lupa ia mengunci kamar Devan.
Di ruang TV orangtua serta kakaknya hanya bisa menyaksikan mereka. Rama cukup memberinya pelajaran. Selebihnya semua ada di Yuri.
Pagi harinya, Kenzie sudah berdiri di depan kamar Devan. Yuri masih memandikan Devan. Di bawah sudah ada Rama dan Naomi yang sudah duduk santai di ruang TV. Kaira sedang membantu Derry bersiap untuk berangkat kerja.
"Sayang, jangan buat aku terlalu tampan ya. Aku tidak ingin ada wanita yang tertarik padaku selain kamu." Ucap Derry.
"Apa aku harus memukulmu dengan panci hitam agar kamu tidak terlihat tampan?" Tanya Kaira.
"Pulang kerja, aku ingin menunjukkan mu sesuatu." Kata Derry.
"Apa itu?" Tanya Kaira.
"Masih rahasia. Aku ingin semua ini akan menjadi kejutan untuk kamu." Kata Derry.
"Kenapa harus nunggu pulang kerja? Kenapa gak sekarang saja? Kamu izin pada ayah dan menunjukkan sesuatunya padaku." Kaira menjadi tidak sabar.
"Tidak sayang, kamu sabar dulu ya. Kami persiapkan baik-baik." Kata Derry.
Mereka berkumpul di ruang makan. Kenzie selalu mencoba agar istrinya memaafkannya. Ia lebih dulu menyiapkan kursi untuk istrinya dan menyiapkan meja makan untuk putranya. Kenzie juga lebih dulu menyiapkan sarapan untuk Yuri. Ia juga menyiapkan sarapan untuk Devan. Kenzie juga memperhatikan anaknya sampai ia selesai makan. Barulah Kenzie makan.
Hari itu, ia mengerjakan tugas Yuri. Dari merapikan kamar Devan, memberikan Snack dan lain sebagainya. Naomi sedikit membantu Kenzie dengan menemani Yuri menonton TV dan minum teh. Kaira terlihat gelisah sekali saat bersama mereka. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu kejutan dari Derry.
"Devan dimana, Ri?" Tanya Naomi.
"Kamu sudah memaafkan suami?" Tanya Naomi. Yuri menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu masih belum bisa memaafkannya gak apa-apa, Ri. Itu wajar kok, namanya juga di kecewakan." Kata Naomi.
"Engga Bunda, Yuri memang sudah memaafkan Zie. Niat dia juga kan bukan untuk selingkuh. Cuma wanita itu saja yang terlalu pede." Jawab Yuri.
"Maafin anak bunda ya, Ri. Kami yang salah, Kami melepas begitu saja tanggung jawab kami sebagai orangtua." Naomi kembali sedih.
"Bunda, gak ada yang salah kok. Yuri sudah memaafkannya, Bunda." Kata Yuri.
"Hanya saja, Yuri masih butuh waktu untuk memperbaiki semuanya." Lanjutnya.
Disaat sedang menikmati nonton TV. Kenzie dan Devan turun dengan tergesa-gesa. Ketiganya pun bingung, sebab Devan juga masih berada di gendongannya.
"Ada Apa Ken? Kalau lagi gendong Devan jangan sambil lari-larian." Kata Naomi.
"Ikut aku sekarang." Perintah Kenzie.
"Ada apa sih? Gak lucu deh buru-buru begini." Yuri menarik kembali tangannya agar terlepas dari genggaman Kenzie.
"Papa kecelakaan!" Kata Kenzie.
"Papa?" Kini Yuri yang berbalik menarik tangan Kenzie.
Kaira dan Bunda ikut dengan satu mobil. Naomi memangku Devan, Yuri tidak akan bisa tenang dan khawatir akan membuat Devan takut. Kaira yang memegang kendali stir, ia tidak ingin adiknya mengendarai mobil dengan perasaan yang tidak baik-baik saja.
Sampai di rumah sakit, Pak Moko sudah berada di ruang tindakan. Tak lama, Hani dan Keenan datang bersama. Yuri langsung memeluk Mamanya.
Pak Moko menceritakan kejadiannya. Kecelakaan itu terjadi tepat di perempatan lampu merah yang berada di dekat swalayan mereka. Indra langsung di bawa ke rumah sakit oleh Pak Moko dan salah satu karyawan mereka.
"Keluarga pasien?" Tanya dokter begitu keluar ruangan.
Yuri, Hani dan Keenan langsung masuk ke ruangan. Awalnya Kenzie ragu, namun ia ingin terus menemani sang istri. Beberapa menit kemudian, Kenzie masuk ke ruangan. Hani, Keenan dan Yuri menoleh ke arah Kenzie yang baru masuk.
"Nak Kenzie, Saya titip Yuri ya. Kalian sudah dewasa, ujian akan selalu ada selama kita masih bernapas. Apapun yang terjadi, saya mohon kamu selalu ada di sisi Yuri. Cintai dia, sayangi dia, jaga dia baik-baik. Sejak Yuri lahir ke dunia, saya selalu berusaha untuk tidak menyakitinya. Saya harap kamu pun begitu." Kata Indra dengan terbata-bata.
"Sayang, kamu harus terus bahagia ya. Ken, Jaga Mama kamu. Sesibuk apapun kamu, utamakan orangtuamu. Yuri, maafin papa belum bisa membuatmu bahagia. Maafin Papa juga sudah membuatmu susah dan sulit." Kata Indra.
"Pa, papa pasti bisa sembuh. Papa gak kenapa-napa." Kata Keenan.
"Pa, Yuri bahagia sama Papa. Yuri bangga punya Papa, Yuri sayang sama Papa. Papa berjuang yuk." Kata Yuri.
"Sayang, bahagiaku hanya bersamamu. Setiap saat, setiap hari aku selalu bahagia bisa berada di sampingmu, bersamamu." Hani terus menggenggam tangan suaminya.
"Nanti kalau Papa hitung sampai 5. Kalian harus tersenyum bahagia ya. hitungan ke 5 kalian harus memulai semuanya kembali dengan senyuman. Lupakan masa lalu, oke?" Pinta Indra.
"Ken, Papa ingin foto bersama kalian semua." Pinta Indra.
"I~iya Pa." Kenzie mengeluarkan ponselnya.
"1,, 2,, 3,, ..." Indra berhenti berhitung.
"4,, 5,," Sambung Anak, istri dan menantunya.
Ketika mereka melihat Papa dan suami mereka. Mereka menangis histeris, Indra sudah memejamkan matanya. Kenzie langsung keluar memanggil dokter. Indra sudah tak dapat tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.