
Sebelum berangkat ke bandara, Yuri menemui Derry di lorong depan pintu masuk asrama. Mereka bertemu di tengah lorong tersebut. Yuri juga tidak punya waktu lama untuk mengobrol dengan Derry. Karena ia memilih penerbangan pagi.
"Kenapa kamu gak masuk kerja?" Tanya Yuri.
"Aku sudah mengundurkan diri. Sebentar lagi aku sudah mulai sibuk skripsi." Jawab Derry.
"Derry, kamu gak bisa bohong sama aku soal ini." Kata Yuri.
"Pokoknya, besok kamu sudah harus masuk kerja lagi!" Lanjutnya.
"Aku~" Ucapan Derry terhenti.
"Gak ada penolakan. Ini permintaan aku dan kamu harus turuti." Ucap Yuri.
"Kamu sudah mulai bisa memaksa ya!" Derry mencubit kedua pipi Yuri yang terlihat menggemaskan.
"Ehem." Kenzie berdehem melihat kekasihnya di sentuh orang lain.
"Ada yang cemburu, Ri." Bisik Derry.
"Padahal dulu gak pernah cemburu loh." Yuri membalas bisikan Derry.
"Siapa yang berani menyentuh kekasihku?" Tanya Kenzie dengan nada datar.
"Kamu sudah siap?" Tanya Kenzie. Yuri mengangguk dan tersenyum pada Kenzie.
"Kalau bukan karena Yuri aku tidak akan membiarkanmu bekerja di swalayan ku." Kata Kenzie.
"Zie! Sudah ah!" Yuri menarik lengan Kenzie.
"Sampai ketemu nanti!" Teriak Yuri sambil berjalan ke depan pintu gerbang.
Kenzie membawa koper Yuri dan menggandeng tangan kekasihnya tersebut. Sedangkan Yuri masih melambaikan tangannya pada Derry. Begitupun juga Derry yang membalas lambaian tangan Yuri dengan tersenyum. Ya, Derry senang berkat Yuri ia bisa kembali bekerja.
"Jangan lupa balik lagi kesini ya! Aku tunggu kamu!" Teriak Derry.
Sampai di bandara, sudah ada Naomi, Rama dan Kaira. Mereka juga mengantarkan Yuri. Padahal hanya pergi sebentar tapi yang mengantarnya satu keluarga.
"Tante Naomi, Pak Rama, Kakak. Terimakasih ya sudah repot-repot mengantar Yuri sampai sini. Padahal Yuri cuma pergi sebentar." Ucap Yuri.
"Kamu hati-hati di jalan ya sayang." Naomi memeluk Yuri.
"Kabari kakak kalau sudah sampai ya." Berganti Kaira yang memeluk Yuri.
"Balik lagi kesini jangan lupa untuk panggil saya Om ya. Kalau tidak saya akan memaksamu untuk memanggil saya Ayah!" Baru saja Rama ingin memeluknya, Namun suda di cegah oleh Kenzie. Bukannya memeluk Yuri, ia malah memeluk anak lelakinya.
"Semua yang ingin aku ucapkan sudah di wakilkan oleh bunda dan kakak." Kata Kenzie dengan lesu.
Yuri masuk ke ruang tunggu. Ia menunggu sambil memakan bekal yang ia buat. Sampai crew memberikan pengumuman melalui pengeras suara. Yuri beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengantri untuk masuk ke pesawat. Kedua kalinya ia menaiki pesawat. Rasa takut masih ada dalam dirinya.
Selama di pesawat kurang dari dua jam, Yuri tidur dengan nyenyak. Malamnya ia sengaja untuk tidak tidur agar ia bisa tidur di pesawat. Begitu pesawat mendarat, Yuri baru terbangun dari tidurnya.
Tanpa mengabari kedua orangtuanya, Yuri pulang menggunakan taksi online. Yuri membawa oleh-oleh untuk kedua orangtuanya dan juga adiknya. Ia juga membawa beberapa makanan siap saji yang di jual di swalayan tempatnya bekerja.
Sampai depan rumahnya, Yuri melihat adiknya yang sedang mencuci motor dan Papanya yang sedang duduk di luar. Mama Hani yang sedang membawa minuman untuk Papa Indra pun terkejut melihat anak pertamanya keluar dari mobil.
"Yuri!" Hani melempar cangkir yang ada di tangannya dan memeluk anak pertamanya.
"Kamu kok pulang Nak?" Tanya Hani.
"Mama! kok mama nanya gitu sih?" Yuri berbalik nanya dan membalas pelukan mamanya.
"Ya, mama hanya bertanya saja, Ri. Memangnya sudah libur kuliahnya?" Tanya Hani.
Mama Hani masuk sambil merangkul anaknya. Keenan menyapa kakaknya dan Yuri juga memberi salam pada ayahnya. Selesai menyapu serpihan cangkir, Indra dan Keenan sama-sama masuk.
"Gimana kuliah kamu, Ri?" Tanya Indra.
"Baik Pa, Yuri juga punya banyak teman dan ada beberapa juga teman dari Indonesia." Jawab Yuri.
"Gimana kabar Kenzie?" Tanya Indra.
"Baik Pa, kebetulan Yuri bekerja di swalayan miliknya." Yuri keceplosan. Ia menutup mulutnya sedangkan kedua orangtuanya spontan menatapnya.
"Kamu kerja disana Nak? Untuk apa? Kenapa kamu tidak fokus kuliah saja disana?" Tanya Hani yang juga mewakili ayahnya.
"Yuri ke Singapura kuliah disana kan atas kemauan Yuri. Jadi Yuri harus tanggung jawab pada diri Yuri sendiri." Jawab Yuri.
"Kamu cukup fokus kuliah Nak. Kalau ada apa-apa kamu bisa bilang ke Papa." Sahut Indra.
"Maaf ya Ma, Pa. Yuri cuma gak ingin menambah beban Mama sama Papa." Jawab Yuri.
Indra dan Hani sama-sama memeluk anak pertama mereka. Mereka bangga dengan anak-anak mereka yang tidak banyak maunya. Mereka tumbuh dengan mandiri. Sejak kecil Yuri dan Keenan tidak sering meminta sesuatu pada mereka.
"Kamu mau makan apa Nak? Mama gak masak banyak. Kamu pulang gak ngabarin." Tanya Hani.
"Oh iya, Yuri tadi bawa bekal. Yuri juga bawa oleh-oleh." Yuri mengambil kopernya dan mengeluarkan beberapa oleh-oleh untuk orangtuanya dan juga untuk Keenan.
"Kamu bagaimana bisa kerja di Swalayan Kenzie, Ri? Apa Kenzie yang meminta kamu kerja disana? Kenzie memanfaatkan kamu ya?" Tanya Hani.
"Engga Ma, Yuri juga gak tahu awalnya. Yuri juga kan belum pernah ketemu ayahnya." Jawab Yuri.
Selesai berbincang-bincang, Yuri masuk ke kamarnya. Ia sangat merindukan aroma kamarnya dan kasurnya yang empuk. Ia langsung membersihkan diri dan berbaring di kasurnya. Yuri menghubungi Marsha memintanya datang ke rumah. Yuri sudah sangat merindukan sahabatnya itu.
Tak memerlukan waktu yang lama. Belum satu jam ia menghubungi Marsha. Marsha sudah berada di depan pintu kamarnya. Yuri dengan cepat membukakan pintu untuknya.
"Yuri! Aku kangen sama kamu!" Kata Marsha sambil memeluknya.
"Aku juga kangen sama kamu Sha." Balas Yuri.
"Kamu sulit sekali di hubungi." Marsha masuk ke kamar Yuri.
"Iya, waktu itu ponselku hilang dan aku nemu ponsel aku di toko ponsel bekas gitu disana." Cerita Yuri.
Mereka saling bertukar cerita. Biasanya setiap hari Marsha selalu bercerita dengan Yuri. Selama Yuri berada di Singapura Marsha merasa kesepian.
Marsha memilih menginap di rumah Yuri. Hingga larut malam mereka bercanda dan bertukar cerita. Bahkan mereka menangis bareng saat Marsha melihat video Yuri yang di sebar oleh Yesha. Hati Marsha merasakan sakit sama seperti yang dirasakan oleh Yuri saat itu. Yuri menceritakan tentang dirinya selama di Singapura.
"Terus kamu sama Kenzie gimana?" Tanya Marsha.
"Baik-baik saja, Sha. Aku hanya salah paham dan kamu tahu sendiri kan aku terlalu takut dengan hal itu." Jawab Yuri.
Begitu selesai berbincang. Tersisa suara jangkrik dan desis suara AC kamar. Marsha dan Yuri sudah tertidur pulas.
Pagi hari, Hani sudah menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Tidak banyak menu yang ia masak tapi pastinya semua menu yang Yuri suka. Marsha dan Yuri membantu Hani merapikan meja makan.
Selesai makan mereka menonton bersama di ruang TV. melihat siaran reality Show yang cukup membuat mereka tertawa sambil melihat gosip artis. Di kabarkan bahwa Sora tengah hamil anak pertama dari hasil cintanya dengan Zein.
"Ma, ada tamu tuh." Keenan mendengar ada yang membunyikan bel rumah.
"Iya Mama tahu. Kamu dong yang bukain." Hani masih fokus dengan acara di TV.
"Kak Kenzie!" Ucap Keenan. Semua yang ada di dalam ikut melongo ke arah pintu.