Untitled Love

Untitled Love
Ep 78



Hani, Indra, Keenan, Marsha dan juga Kevin ikut mengantar Yuri dan Kenzie ke bandara. Berat rasanya bagi Hani harus jauh lagi dengan sang anak. Tapi mau bagaimana pun memang sudah waktunya Yuri ikut dengan sang suami.


"Mama titip Yuri ya, Ken." Ucap Hani.


"Selama Yuri menjadi anak Papa, Papa tidak pernah memukulnya atau bahkan menyakitinya. Papa harap kamu pun akan seperti itu pada anak Papa." Pesan Indra.


"Ken janji akan selalu menjaga Yuri Ma, Pa. Ken juga janji tidak akan menyakitinya sedikitpun." Janji Kenzie pada kedua mertuanya.


"Loh, Yuri kemana ya?" Tanya Hani.


"Itu Tante, Yuri lagi duduk. Katanya pusing kepalanya, gak enak badan." Jawab Marsha.


"Kecapekan dia hampir sebulan disini sibuk terus." Sahut Indra.


"Aku percaya kamu Ken. Cepat-cepat kasih aku ponakan ya." Canda Marsha.


"Baru juga tiga Minggu nikah. Kamu dong paksa Kevin tuh buat nikah." Kenzie membalas candaan Marsha.


"Yah Ken, ada juga aku yang maksa Marsha nikah. Susah banget nih anak di ajak nikah." Sahut Kevin.


"Ya kamu setiap hari sibuk. Kalau udah nikah nanti aku malah jadi anggur." Balas Marsha.


"Hah? Kenapa gak jadi semangka atau melon gitu?" Tanya Kenzie.


"Di anggur in maksudnya." Jawab Marsha membuat semuanya tertawa.


Kenzie akhirnya pamit untuk masuk ke ruang tunggu bersama Yuri. Kenzie menggendong Yuri di punggungnya sambil masuk ke ruang tunggu. Semua yang mengantar Yuri ikut pulang masing-masing.


Baru sampai ruang tunggu, Yuri dan Kenzie sudah di panggil untuk masuk ke pesawat lebih dulu. Sepanjang perjalanan Yuri tertidur pulas walau tubuhnya merasa tidak enak. Sampai pesawat itu mendarat dan parkir dengan sempurna Yuri masih tertidur pulas. Kenzie membopong Yuri hingga masuk ke mobil yang menjemputnya saat turun dari pesawat.


"Sudah sampai ya?" Tanya Yuri.


"Kamu sudah bangun sayang?" Kenzie bertanya balik.


"Aku ngantuk banget." Jawab Yuri.


"Masih gak enak badan sayang?" Tanya Kenzie.


"Iya nih Yang." Jawab Yuri.


"Nanti sampai rumah kamu istirahat dulu ya sayang. Jangan banyak aktifitas dulu. Sepertinya kamu kecapekan." Kata Kenzie.


Mereka di jemput oleh supir pribadi. Sampai di apartemen miliknya Kenzie kembali menggendong Yuri. Barang-barang mereka di angkut oleh supir pribadi.


"Kita ada dimana Yang?" Tanya Yuri.


"Tempat tinggal kita. Kita akan tinggal disini selama di Singapura." Jawab Kenzie.


Apartemen itu ia beli untuk tempat singgah di kala pekerjaan dan tugas kampus yang banyak. Apartemen yang Kenzie beli letaknya dekat sekali dengan kampus mereka. Tak perlu waktu lama untuk sampai ke kampus.


"Barang-barang aku di asrama gimana?" Tanya Yuri.


"Nanti aku yang akan mengambilnya. Kamu istirahat saja dulu. Kamu lapar gak sayang?" Tanya Kenzie. Yuri menganggukkan kepalanya. Tidur cukup lama membuatnya merasa lapar begitu bangun tidur.


Kenzie meninggalkan Yuri di sofa birunya. Ia menyalakan TV agar Yuri bisa lebih relax sambil menonton TV. Yuri tetap memperhatikan suaminya yang sedang sibuk di dapur.


Mencium aroma masakan membuat Yuri mual tak tertahan. Ia pergi ke wastafel yang berada di dapur. Semakin aroma tersebut menyengat maka semakin mual yang di rasakan Yuri.


"Aku masak steak sayang. Aku belum belanja stok dapur lagi." Jawab Kenzie sambil membalikkan Steak Nya.


"Bisa gak di buang saja? Aromanya gak enak banget. Bikin bau seisi rumah yang." Keluh Yuri.


"Bau? Aku menggunakan cooker hood loh sayang. Jadi aromanya gak mungkin ngumpul se ruangan." Kenzie mengendus-endus ruangannya.


"Tapi ini aromanya menyengat banget, Yang." Yuri menutup hidungnya.


"Oke, ini sudah jadi. Bagaimana kalau kita makan dulu?" Yuri langsung duduk di kursi.


Baru saja piring tersebut di letakkan, Yuri sudah langsung menyantapnya. Kenzie tersenyum menatap istri kesayangannya dengan menopang satu tangannya bersandar di bawah dagunya. Yuri tak menghiraukan tatapan Kenzie. Ia sudah sangat lapar sekali. Sehabis Steak yang ada di piringnya, Yuri kembali di landa mual.


Selesai makan, Kenzie membawa Yuri ke kamarnya. Ia menggendong istrinya dan meletakkannya di atas kasur. Kenzie mengambil minyak kayu putih dan membalurnya di atas perut sang istri.


"Kamu mau ke dokter aja gak sayang? Aku gak tega lihat kamu begini atau kamu salah makan ya?" Kenzie khawatir sekali dengan Yuri.


"Aku cuma kecapekan saja, Yang. Di tambah aku masih terbilang baru dalam menggunakan kendaraan umum yang jalannya di udara." Jawab Yuri.


"Kalau gitu kamu istirahat saja dulu ya. Aku ada kerjaan yang harus di serahkan hari ini." Kata Kenzie.


Kenzie keluar dan mengambil laptopnya. Biasanya ia mengerjakan tugas ataupun pekerjaannya di ruang TV. Hari ini ia mengerjakannya di dalam kamar. Kenzie tidak ingin jauh dari sang istri.


Keesokan harinya, Kenzie membuatkan bubur untuk Yuri. Sebelum Yuri bangun, Kenzie sudah lebih bangun dan masak. Yuri terbangun karena mencium aroma masakan. Ia kembali mual-mual mencium aroma masakan yang berhasil masuk ke dalam hidungnya.


Yuri turun menghampiri Kenzie. Namun, semakin dekat Yuri akan semakin mual. Bahkan ia dengan cepat ke dapur dan memuntahkan seluruhnya di wastafel dapur. Kenzie kembali bingung dengan Yuri.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Kenzie.


"Kamu masak apa sih sayang? Wanginya maksa banget masuk ke hidung aku." Jawab Yuri.


"Gak ada apa-apa sayang. Aku hanya buat bubur untuk kamu. Itu juga gak terlalu beraroma." Kata Kenzie.


"Ini wangi banget, Yang. Tapi wanginya tuh bikin aku," belum selesai berkata Yuri sudah kembali mual-mual.


"Aku pulang kerja kita ke rumah sakit ya. Agar lebih cepat di tangani." Kata Kenzie.


"Aku sore masuk kerja sayang. Lagi juga besok udah sembuh kok." Balas Yuri.


"Gak ada kerja-kerja!" Yuri mengerucutkan bibirnya.


"Kamu lagi sakit sayang. Kemarin juga kamu baru sampai. Pak Moko juga paham kok." Kenzie membelai rambut Yuri.


Baru tiga jam lalu ia makan bersama Kenzie. Kini ia kembali lapar lagi. Yuri bingung ingin membuat makan apa sedangkan bahan yang ada tidak memenuhi bahan untuk memasak makanan yang sudah ia pelajari bersama mamanya. Yuri memutuskan untuk pergi ke swalayan.


Baru beberapa langkah dirinya sudah merasa lelah. Ia duduk lebih dulu di kursi lobby. Sepanjang perjalanan Yuri juga seperti itu. Normalnya jarak apartemen ke swalayan hanya menempuh waktu lima belas menit berjalan kaki. Tapi Yuri sampai swalayan menempuh waktu dua puluh lima menit.


"Ri, kamu jalan kaki?" Tanya Derry yang melihat Yuri yang sedang mengatur napas.


"Kenzie mana? Kenapa kamu sendirian?" Tanya Derry.


"Aku jalan kaki dari apartemen tadi. Kenzie kerja, dia melarang aku untuk kerja." Jawab Yuri sambil mengatur napas.


"Kamu pucat sekali Ri. Kamu istirahat dulu deh." Derry mengajak Yuri masuk.


Sampai dalam swalayan Yuri langsung mengarah ke makanan siap saji. Ia mengambil Nasi Ayam Teriyaki dan Nasi kepal ayam makanan kesukaannya sejak awal masuk kerja. Yuri membawanya ke meja panjang yang ada di dalam Swalayan.