Untitled Love

Untitled Love
Ep 39



Nathan keluar dari mobilnya. Ia berniat untuk menjemput Yuri. Sampai di depan pintu, Nathan malah masuk ke cafe tersebut.


"Mas Dita?" Nathan menyapa si pemilik Cafe.


"Mas Dita ngapain disini?" tanya Nathan.


"Loh Nathan? Gimana kabar?" tanya Dita.


"Baik Mas. Mas Dita kapan balik kesini?" tanya Nathan.


"Ini baru balik langsung mampir kesini." Jawab Dita.


Mereka kembali berbincang-bincang. Sedangkan Yuri masih berada di dalam untuk mengambil tasnya. Meri hanya menatapnya sinis.


"Itu, aku menjemput dia." jawab Nathan menunjuk Yuri.


"Loh, kamu gak takut di marahin sama pacarnya?" tanya Zein.


"Pacarnya? Siapa? Kenzie maksudnya?" Nathan bingung.


"Siapapun itu yang di sampingnya Yuri terus. Aku gak tau namanya."


"Iya dia sahabatnya Yuri. Tapi pas kenaikan kelas tiga dia pindah ke Singapura." Jelas Nathan.


"Wah, tau gitu aku kejar dia." Sora memukul pundak Zein.


Dita gak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dita meminta Melani untuk tetap menemani temannya yang lain. Zein dan Sora memang sahabat Dita yang paling dekat dengannya.


"Ini gimana sih? Jadi kalian semua kenal Sama karyawan baruku?" tanya Dita.


"Ya, aku sama Yuri satu sekolah mas. Itulah cewek yang suka aku ceritain." jawab Nathan.


"Oh, paham! Jadi dia cewek yang kamu suka yang satu ekskul sama kamu? dan dia artis gak jelas yang ngejar-ngejar cewek yang kamu suka itu?" Dengan polosnya Dita mengatakan itu.


Zein menatap tajam Nathan. Bagaimana bisa Nathan menganggap dirinya artis gak jelas. Padahal dirinya sudah sangat terkenal.


"Dan dia yang membantu aku mendapatkan hatinya Zein." ungkap Sora.


Mereka saling menceritakan momen-momen dimana mereka saling bertemu. Sora ikut mendengarkan cerita mereka berdua. Ia juga sedikit malu saat dirinya mengikuti Zein sampai ke sekolah mereka.


"Jadi dulu kamu cinta banget ya sama dia?" tanya Dita.


"Iya." Zein dan Nathan menjawab secara bersamaan.


"Ah, kalian ini." Dita menarik rambutnya yang tebal.


"Tapi aku akan terus berjuang mendapatkan hati dia." kata Nathan.


Sampai saat ini Nathan masih mencintai Yuri. Sejak ia bertemu kembali dengan Yuri, Nathan kembali memberi perhatian lebih pada Yuri. Walau kadang Yuri suka menolaknya agar memberi jarak antara mereka.


"Gimana dengan Grisella?" tanya Dita.


"Aku gak ada hubungan apapun dengan Grisella Mas. Dia sudah seperti keluargaku sendiri. Sama seperti Mas Dita yang sudah aku anggap kakak sendiri." Kata Nathan.


"Sudah Mas, aku balik duluan ya." pamit Nathan.


"Aku pamit bawa Yuri ya Mas." Nathan permisi pulang lebih dulu.


Zein, Sora dan Dita kembali berkumpul dengan yang lainnya. Kesempatan bagi Meri untuk bisa mendapat perhatian salah satu di antara mereka. Namun sayangnya mereka sama sekali tak memperhatikan Meri. Mereka lebih asik mengobrol dan tertawa bersama.


Dita mengizinkan karyawannya pulang lebih dulu. Karena ia yakin pertemuan mereka akan berlangsung hingga larut malam. Dia tidak ingin membebani karyawannya untuk menunggunya berkumpul dengan temannya.


"Meri, Fitri dan yang lainnya. Kalian boleh pulang duluan." perintah Melani begitu semuanya sudah kumpul.


"Kak, apa aku gak boleh untuk tetap disini?" tanya Fitri.


"Modus dia Kak." Meri berkata dengan judes.


"Boleh saja, tapi saya tidak tanggung ya jika besok kamu kelelahan menunggu kami. Karena kami pasti akan selesai hingga larut malam." Jawab Melani.


"Lain waktu akan aku undang dia kesini lagi kok." bisik Melani pada Fitri.


"Siap Kak!" Fitri kembali semangat pulang.


"Yuk ah pulang!" Fitri mengambil tasnya dan pulang dengan perasaan yang senang.


Di perjalanan Nathan sesekali memandangi Yuri. Yuri masih meringis merasakan sakit walau tak sesakit saat awal. Tangannya masih terasa perih.


"Dunia sempit banget ya." Ucap Nathan memecahkan suasana sepi di dalam mobil.


"Ya, aku kira tidak akan bertemu dengan mereka lagi." Sahut Yuri.


"Mas Dita itu memang banyak teman-temannya dan banyak juga yang sukses seperti mereka." Kata Nathan.


"Kamu kenal?" tanya Yuri.


"Siapa? Mas Dita? Dia itu tetangga aku. Sudah seperti kakakku sendiri. Begitulah dia sejak dulu, suka mengajak temannya kumpul." Nathan menjelaskan tentang Dita.


"Awalnya aku kira pemilik cafe itu perempuan. Karena namanya Dita." Nathan tertawa mendengar cerita Yuri yang salah paham.


"Jadi Mas Dita itu yang punya Cafe tersebut?" tanya Nathan.


"Loh, katanya tetangga masa gak tau sih?" Yuri bingung.


Nathan menjelaskan kembali tentang Dita. Sepanjang perjalanan dia menceritakan kisahnya bersama tetangganya itu. Yuri mendengarkannya sampai tertawa setiap mendengar cerita lucu antara Nathan dengan Dita.


"Wah, hebat juga ya Pak Dita. Dia membuka usaha sendiri dengan hasilnya sendiri." Yuri merasa kagum pada Dita.


Sampai di depan rumah Yuri, Yuri sedang tertidur lelap. Nathan tidak tahu bagaimana membangunkannya. Dia bingung antara membangunkannya atau membawanya masuk.


Dia memutuskan untuk mengetuk pintu rumah terlebih dahulu. Keenan membukakan pintunya. Setelah pintu terbuka, Nathan baru menggendong Yuri sampai ke dalam kamarnya.


Banyak foto-foto Yuri dan Kenzie yang terpajang di kamarnya. Namun Nathan cukup senang ketika ia juga melihat ada foto dirinya dengan Yuri saat pentas terpajang di dindingnya. Foto saat pertama kali mereka berdua satu panggung.


"Terimakasih ya Kak sudah mengantar Kakak saya. Dia memang tukang tidur." ucap Keenan.


"Kalau gitu saya keluar balik dulu ya." Nathan pulang.


Entah kenapa hatinya merasa senang. Padahal hanya sebuah foto biasa. Ia berjalan menelusuri kota dengan perasaan yang senang. Sampai di rumah, Ia datang bersamaan dengan Dita.


"Loh, kok bisa bareng? bukannya kamu udah lama pulang?" tanya Dita.


"Hayo, habis ngapain dulu?" canda Dita.


"Apa sih Mas? Tadi dia ketiduran di mobil. Aku jadi gak enak banguninnya." Jawab Nathan.


"Mas, jadi itu cafe milik Mas?" tanya Nathan.


"Hush, jangan bilang-bilang mereka ya." bisik Dita.


Mereka melanjutkan berbincang sampai lelah dan masuk ke rumah mereka masing-masing. Nathan juga senang bisa kembali bertugas cerita dengan Dita. Nathan merupakan anak satu-satunya. Tak ada tempat bercerita selain dengan Dita. Walaupun dia dekat dengan Grisella, Tapi Nathan merasa sungkan untuk bertukar cerita dengannya.


Begitu juga dengan Dita. Dia lebih suka bercerita dengan Nathan di banding dengan adiknya sendiri. Adiknya juga suka sekali menjodohkan dirinya dengan teman-temannya. Itulah kenapa Dita tidak suka bercerita dengan adiknya.


Usianya yang sudah pas untuk menikah dan sudah mapan. Membuat dirinya sering di jodohkan dengan gadis lainnya.