
Malam harinya, Yuri mengajak Kenzie untuk pergi ke salah satu Cafe terkenal yang berada di mall. Hanya dengan Kenzie dia bisa mendapat izin dari Mamanya.
"Ada apa sih kesini?" Tanya Kenzie.
"Mau belanja?" Tanyanya lagi.
"Udah temenin aku dulu." Yuri merangkul tangan Kenzie.
"Haduh dasar cewek, gak bisa apa nongkrongnya di pinggir jalan gitu? Di warung kopi pinggir jalan gitu?" Kata Kenzie.
"Beda Ken, disini ada live musiknya." Jawab Yuri.
"Lah, disana juga ada kali Ri. Mungkin pas kamu lagi nongkrong, mereka libur." Balas Kenzie.
"Iya live musiknya pengamen itu mah." Yuri duduk di meja paling depan.
Pengunjung semakin ramai. Nuansa Cafe yang ternilai romantis dan nyaman. Membuat Cafe tersebut ramai pengunjung. Selain tempatnya romantis, menu makanan disana tak perlu di ragukan lagi.
"Selamat Malam para pengunjung Cafe dan khususnya untuk My Girlfriend and My friends yang sudah hadir disini." Kata sambutan dari Sang Vokalis.
My Girlfriend and My friends adalah panggilan untuk para fans Boys Band. Zein menyanyikan satu lagi pembukaan. Lagu wajib yang mereka bawakan setiap tampil dimanapun.
"Jadi ini yang buat kamu ngajak aku biar dapat izin dari Tante Hani?" Tanya Kenzie.
"Keren kan mereka kalau lagi akustikan gini." Jawab Yuri.
Pandangan Zein selalu mengarah ke Yuri. Bahkan ia sering tersenyum pada Yuri. Lagu kedua yang mereka nyanyikan berjudul pandangan pertama.
"Membosankan!" Kenzie membuang wajahnya begitu melihat Zein memandangi Yuri terus-menerus
"Kali ini, saya ingin mengajak seseorang untuk bernyanyi bersama saya di atas panggung." Ucap Zein.
"Persis seperti lagi Pandangan Pertama. Aku langsung jatuh cinta padanya. Aku selalu ingin berada di sampingnya, bersamanya dan menjaganya." Lanjut Zein.
Kenzie merasa seketika ruangan terasa panas dan gerah. Ia memutuskan untuk keluar dari Cafe itu. Sementara di dalam, Zein menghampiri Yuri dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Yuri naik ke atas panggung.
Zein meminta Yuri untuk memilih lagu favoritnya agar bisa di nyanyikan bersama. Yuri memilih lagu yang berjudul 'takkan bisa menyatu'.
Lagu itu sangat cocok dengannya saat ia tahu Jimmy di jodohkan oleh orang tuanya. Yuri semakin suka mendengarkan lagu tersebut ketika ia mengetahui kebenaran dari hubungannya dengan Jimmy.
Berbeda dengan Zein, ia merasa Yuri langsung menjawab dari pernyataan sebelumnya. Zein dan Yuri bernyanyi seirama.
Sehabis penampilan Boys Band selesai. Zein mendatangi Yuri yang sedang duduk berdua dengan Kenzie.
"Ri, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu." Kata Zein.
"Tapi, aku ingin menyampaikan ini denganmu saja." Lanjutnya.
"Emang kenapa sih? Aku lelah berdiri berjam-jam di luar. Tinggal ngomong doang kok." Sambung Kenzie.
"Aku suka sama kamu Ri!" Zein spontan menyatakan perasaannya.
"Shah Hah!" Kenzie risih dengan pernyataan Zein. Ia memilih pergi ninggalin Yuri berdua dengan Zein.
"A~aku,, aku suka sama kamu Ri. Saat kita bertemu di tangga sekolah kamu." Jelas Zein.
"Setiap hari wajah kamu selalu terbayang olehku Ri." Lanjutnya.
Yuri hanya bisa tersenyum dengan Zein sebelum dirinya pergi. Di sukai sama idola kesayangan kita tuh, bagaikan mencari kerang berisi mutiara di laut lepas.
Suatu hal yang tak mudah Yuri jawab. Ia masih trauma menerima cinta seseorang dengan cepat. Ia tak ingin terburu-buru dalam menjawab pernyataan cinta dari Zein. Ia juga merasa hatinya tak bisa menerima lelaki lain.
***
Yuri melupakan kejadian semalam. Ia menganggap semua hanya angin lalu. Baginya pernyataan cinta Zein semalam hanya sebuah mimpi. Mana mungkin seorang artis bisa menyukai orang biasa yang sangat sederhana sepertinya.
Yuri masih mengikuti setiap perlombaan teater. Ia juga menjadi contoh bagi juniornya. Yuri berperan sebagai pemeran utama. Nathan berperan sebagai pemeran kedua dan Prisa menjadi pemeran ketiga.
Mereka sangat mendalami peran mereka masing-masing. Prisa mulai mengisi panggung. Walau terbilang baru, ia mampu mendalami perannya. Sampai ketika dirinya adu peran dengan Yuri. Prisa benar-benar menunjukkan kemarahannya. Ia benar-benar mendorong Yuri dengan kencang dan juga memukulnya.
Penonton dan juri melihat Prisa yang terlihat profesional. Berbeda dengan Nathan dan anggota lainnya yang mereka tahu tak seperti itu. Begitu juga dengan senior mereka yang menyaksikan mereka saat latihan.
Mereka mendapat tepukan tangan yang meriah. Penampilan mereka terlihat sangat bagus. Selesai tampil, Yuri keluar dengan kaki yang pincang. Kakinya terkilir saat Prisa mendorongnya dengan kencang. Heels yang saat itu di pakai oleh Yuri tersangkut ke lubang dan saat itu juga Prisa mendorongnya.
Tak hanya itu, pipinya juga terasa sakit setelah Prisa memukulnya dengan kencang. Ingin menangis, tapi ia tak ingin terlihat lemah. Ia menahan tangisannya.
"Prisa! Kamu apa-apaan sih?" Nathan menegur Prisa.
"Maksud kamu?" Tanya Prisa.
"Kamu sengajakan melakukan itu ke Yuri?" Tanya Nathan.
"Sengaja? Bukankah itu membuat penampilan kita menjadi bagus ya? Seluruh penonton dan Juri juga puas dengan penampilan kita." Jawab Prisa.
"Sudah-sudah, aku gak kenapa-napa kok." Sambung Yuri.
"Kamu cedera kayak gini, kamu bilang gak apa-apa?" Tanya Nathan.
Nathan keluar dari ruangan tersebut. Menyusul dengan pemain yang lainnya. Tersisa Prisa dan Yuri yang masih merapikan atribut mereka.
"Ri, kamu gak apa-apa?" Marsha masuk ke ruang ganti.
"Gak apa-apa kok. Kan cuma akting saja Sha. Gak usah khawatir gitu ah." Jawab Yuri.
"Hah! Berlebihan banget sih." Ketua Prisa.
"Kamu yang berlebihan! Kalau kamu memang gak suka sama Yuri tuh bilang!" Jawab Marsha.
"Kalau memang aku gak suka sama dia kenapa? Masalah?" Prisa mulai menampakkan kekesalannya.
"Sudah aku duga, sejak awal kamu selalu mengikuti Yuri, bahkan kamu berani mencelakakan Yuri seperti ini." Kata Marsha.
"Udah, udahlah. Gak usah di perpanjang." Sambung Yuri.
"Gak usah sok baik deh!" Prisa menanggapinya perkataan Yuri.
Prisa menjelaskan bahwa dirinya sejak awal memang tidak suka dengan Yuri. Jimmy selalu melihat Yuri. Ia tidak pernah melihat tunangannya sendiri. Bahkan Jimmy selalu membandingkan Yuri dengan Prisa. Prisa selalu mencoba berbagai cara agar Jimmy suka dengannya. Tapi hasilnya, Jimmy masih saja mengharapkan Yuri. Jimmy selalu membicarakan kenangannya dengan Yuri. Walau terkadang hal itu sudah berkali-kali ia ceritakan. Sejak saat itu, Prisa mulai mengikuti Yuri.
Prisa semakin kesal, ia pun ikut masuk ke Teater dan menunggu momen seperti ini. Di saat ia bisa menindas Yuri tanpa banyak orang yang tahu.
"Aku rasa ini momen yang sangat tepat untuk menyadarkan kamu bahwa aku sangat membencimu!" Kata Prisa di akhir ceritanya.
"Kamu yang harusnya sadar! Kamu yang datang di antara mereka. Kamu yang buat Jimmy pisah dengan Yuri! Seharusnya Yuri yang melakukan itu ke kamu!" Balas Marsha.