Untitled Love

Untitled Love
Ep 53



Hari terakhir Yuri berada di Cafe. Setelah satu Minggu menunggu di ACC oleh Dita. Dengan berat hati Dita menyetujui surat pengunduran diri Yuri. Setiap hari Kenzie selalu mengantar jemput Yuri. Di hari terakhir Yuri bekerja, Kenzie menunggu Yuri di dalam mobil.


Lama di dalam mobil membuat Kenzie bosan. Kenzie keluar bareng dengan kedatangan Audrey. Kenzie duduk di sudut jendela. Dari situ, ia bisa melihat kampus swasta yang populer dan juga bisa melihat sekeliling ruang Cafe.


Meri dengan gaya gemulainya mendatangi Kenzie. Kenzie hanya tersenyum melihat Meri. Ia melihat daftar menu dan memesannya.


"Eh kamu!" Teriak Audrey pada Yuri.


"Sini!" Perintahnya.


"Lama banget sih! Saya lapar nih!" Ucapnya.


"Saya mau pesan ini sama ini." Pinta Audrey usai melihat menu makanannya.


Kenzie hanya menyaksikan dengan santai sambil melipat kedua tangannya. Pesanannya pun sudah datang semua di meja. Ia memesan beberapa menu andalan di cafe tersebut.


"Ganteng-ganteng makannya banyak ya." Gurau Meri.


Kenzie memang tak senang dengan sikap Audrey. Tapi ia tetap tenang selama semuanya baik-baik saja. Makanan dan minumannya pun sudah ada di meja.


"Lama banget sih! Saya keburu kenyang!" Bentak Audrey pada Yuri.


"Untukmu saja!" Audrey menumpahkan minumannya di kepala Yuri.


"Kamu! masih juga berani berulah!" Melani langsung menghadapi Audrey yang sudah keterlaluan.


"Kenapa? kamu gak suka?" Audrey kembali menumpahkan makanannya ke Yuri. Kenzie sudah sangat marah. Namun langkahnya terhenti. Ketika ia melihat temannya Yuri melayangkan tamparan ke wajah Audrey.


"Kenapa? Gak suka?" Tanya Melani.


"Gak senang?" Melani kembali menampar Audrey.


"Kuntilanak seperti kamu itu memang udah gak bisa di kasih kesabaran!" Ucap Melani.


"Kamu!" Audrey menunjuk ke Melani.


"Kenapa?" Tanya Melani.


"Aku akan adukan kelakuanmu pada Dita!" Ancam Audrey.


"Gak perlu di adu, aku sudah melihatnya." Jawab santai Dita keluar ruangan.


"Kamu itu memang pantas mendapatkan itu." Kata Dita sambil merangkul Melani.


"Kalau kamu menargetkan Yuri sebagai saingan kamu. Kamu salah besar Audrey!" Lanjutnya.


"Kekasih aku yang sesungguhnya itu ya dia." Dita menatap Melani.


"Jadi lebih baik kamu gak usah ganggu aku lagi." Ungkap Dita.


Audrey semakin panas dan kesal. Apalagi saat Dita mencium Melani di depannya. Yuri masih diam terpaku bagaikan patung. Ia sudah tak mampu bergerak. Traumanya kembali menguasai dirinya. Audrey membalikkan badannya. Ia hendak keluar namun terhalang oleh Kenzie.


"Mau kemana? Meskipun kamu wanita, jangan harap aku akan bersikap baik pada orang yang sudah menyakiti kekasihku!" Kenzie mencengkram tangan Audrey.


"Kalau pesan tuh jangan lupa di habiskan." Kenzie mengambil gelas plastik berisi air es yang ada di meja Audrey. Ia tumpahkan ke kepala Audrey.


"Sekalian buang sampahnya di tempat sampah! Jangan ketukar!" Gelas tersebut Kenzie letakkan di kepalanya.


Kenzie menarik tangan Yuri untuk pergi dari cafe tersebut. Namun Dita menahan Yuri dengan menarik tangannya. Sedangkan Yuri masih diam seperti patung.


"Lepas!" Kenzie meminta Dita untuk melepas genggamannya.


Kenzie membawa Yuri ke dalam mobil. Ia langsung mengendarai mobilnya keluar dari halaman Cafe. Ia membawa Yuri ke rumahnya. Kenzie dan Yuri masuk ke rumah Kenzie.


"Sudah ya sayang. Semua akan baik-baik saja." Kenzie memeluk Yuri tanpa memikirkan pakaiannya yang ikut kotor. Tangisan Yuri pun pecah ketika Kenzie memeluknya.


"Ada aku disini sayang. Kamu akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani menyakitimu." Ucap Kenzie. Kenzie tidak tega melihat Yuri yang trauma akan masa lalunya. Ia harus mengalami hal seperti itu lagi.


"Kamu bersih-bersih dulu ya atau mau aku bantu untuk membersihkannya?" Tanya Kenzie.


Yuri masih memeluk Kenzie dengan erat. Ia masih terus menangis sampai tertidur di sofa. Tangannya masih sangat erat memeluk Kenzie.


Perlahan Kenzie melepaskan pelukan Yuri. Kenzie menghubungi Marsha untuk membantunya. Pertama kalinya Kenzie memberikan alamat rumahnya pada orang lain.


Kenzie meminta bantuan pada Marsha untuk membersihkan tubuh Yuri dan memintanya untuk mengganti pakaian Yuri. Kenzie memberikan pakaian bersih miliknya. Selesai membantu Kenzie, Marsha turun ke bawah untuk berkumpul bersama Kevin dan Kenzie.


"Apa sih yang buat Yuri kayak gitu?" Tanya Marsha. Kenzie menjelaskan kejadian tadi.


"Pasti Yuri sangat terpukul sekali. Dia benar-benar membutuhkan dirimu Ken. Kamu yang membuatnya nyaman dan aman." Balas Marsha.


Kenzie tak menyangka akan separah ini kondisi Yuri. Begitu juga dengan Kevin yang mendengarnya. Ia menjadi tak tega pada Yuri.


"Minggu depan aku sudah harus kembali ke Singapura. Aku titip Yuri ya Sha." Pinta Kenzie.


"Secepat itu Ken?" Tanya Marsha.


"Iya, bokap minta aku menemaninya kerja." Jawab Kenzie.


"Lain kali main-main ke Singapura ya." Kata Kenzie.


"Pasti itu bro, Akomodasi amankan?" Tanya Kevin.


"Aman semua, kabari aku saja ya." Jawab Kenzie.


Tak lama, Yuri keluar dan ikut bergabung dengan yang lain. Yuri memeluk Marsha dengan erat. Sahabat yang paling mengerti ya sejak SMA.


"Ri, kamu bisa kok lewati semua. Kamu harus lawan takut kamu. Jangan sampai ketakutan mu menguasai diri kamu. Kamu yang punya diri kamu. Kamu yang berhak atas semuanya." Marsha memberi nasihat pada Yuri.


"Ri, Ada aku, Kenzie dan Kevin yang bakal lindungi kamu. Jadi kamu gak perlu takut. Jalani yang ada di depan mata kamu." Lanjut Marsha.


"Terimakasih ya Sha. Kamu memang sahabat aku yang paling mengerti aku." Balas Yuri.


Mereka pun kembali mengobrol bahkan sesekali tertawa. Sampai waktu menjelang malam hari. Yuri membantu Marsha masak, Kevin membantu Kenzie menata meja makan.


Kenzie masih penasaran dengan kisah cinta Marsha dan Kevin. Marsha pun menceritakan kisahnya saat SMA. Kenzie tak menyangka gadis seperti Marsha yang pintar mencintai Kevin jauh dari kata perfect.


Marsha dan Kevin pun pulang. Begitu juga dengan Kenzie, ia mengantar Yuri pulang. Mereka berempat turun bersama menuju Lobby.


Saat di mobil, Kenzie menjelaskan tentang rencananya yang pulang lebih awal. Awalnya memang terasa berat bagi Yuri. Tapi Yuri paham jika hal itu demi keluarganya. Yuri pun mengizinkan Kenzie pulang lebih awal.


Selama seminggu terakhir, Kenzie lebih sering mengajak Yuri ke Kedai kopinya sambil melihat perkembangan renovasinya. Kenzie juga mengganti semua perabotan. Kenzie memberikan ponsel pada Hanif dan Arif. Dia juga meminta mereka untuk menyimpan nomor barunya.


Kenzie juga memberikan nomor ponsel terbarunya selama dirinya di Singapura. Kenzie juga mengecek semua yang tadi di perbaiki.