Untitled Love

Untitled Love
Ep 81



Semenjak Kenzie tahu bahwa istrinya hamil. Ia menjadi lebih protektif pada Yuri. Bahkan hanya sekedar naik eskalator di kampus saja, Kenzie harus menggendong Yuri sampai ke depan kelasnya.


"Duh, pengantin baru. Harus banget ya gendong-gendongan sampai sini?" Sindir Stella.


"Turunin aku Zie." Pinta Yuri.


"Jaga istri sama calon anak aku ya. Jangan sampai dia terluka sedikitpun." Ucap Kenzie dengan wajah tanpa ekspresi.


Ia langsung pergi kembali ke kelasnya. Yuri masuk ke kelas bersama kedua temannya. Di dalam kelas, Wenda sudah lebih dulu menyiapkan kursi untuk Yuri.


Ponsel Stella berdering membuat mereka kaget mendengar alunan nada yang keluar dari ponsel Stella. Wenda dan Yuri penasaran dengan orang yang menghubungi Stella. Stella dengan ragu mengangkat panggilan telepon di depan mereka.


[Oke]


[Ketemu di tempat biasa saja]


[Aku sudah di kelas]


[Bye]


Begitulah jawaban yang mereka dengar dari mulut Stella. Yuri dan Wenda senyum-senyum melihat pipi Stella yang merah merona. Entah siapa yang menelponnya membuat Stella salah tingkah di depan kedua temannya.


"Ehem, kayaknya ada aroma bunga yang baru kuncup nih atau sudah mekar ya?" Sindir Yuri.


Stella semakin salah tingkah saat kedua temannya menggodanya. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya. Mereka mulai fokus belajar dan mendengarkan dosen menjelaskan materi.


Sampai jam istirahat, Mereka kembali berkumpul di meja Yuri. Selalu ada saja yang di bahas oleh mereka. Mereka juga suka membicarakan dosen yang tidak mereka sukai. Dering ponsel Stella kembali berbunyi. Yuri dan Wenda langsung memperhatikan Stella.


[Iya]


[Gak, gak usah!]


[Ini juga sebentar lagi mau ke kantin]


[Biasa sama Yuri dan Wenda]


[Oke]


[Ya, kamu juga]


Stella langsung menutup teleponnya. Yuri dan Wenda kembali menggoda Stella. Membuat pipinya kembali memerah. Wenda menertawakan sikap Stella yang salah tingkah.


"Ri, kalau dia menyebut nama kita. Berarti orang yang menelponnya kenal dengan Kitakan?" Tanya Wenda.


"Ah iya benar, Pasti dia kenal sama kita." Jawab Yuri.


"Jangan-jangan kamu sedang dekat dengan Paul?" Tebak Wenda.


"Hahaha, kayaknya seperti itu. Sejak pelajaran di mulai, Paul selalu melirik ke arah kamu." Sahut Yuri.


"Ah sudahlah! kalian makin tinggi sekali khayalannya dan yang pasti aku dengan Paul tidak ada hubungan apapun. Kenapa gak kamu saja yang pacaran dengan Paul?" Stella menyenggol tangan Wenda.


"Gak ah, aku gak ingin merebut dia dari kamu." Balas Wenda.


Merekapun memutuskan untuk ke kantin sebelum jam istirahat berakhir. Sampai di kantin Stella seperti sedang mencari seseorang. Setelah ia menemukan yang ia cari, Stella tersenyum dan mengajak kedua temannya duduk di dekat Kenzie dan teman-temannya.


"Berhubung Kenzie terlalu protektif, lebih baik kita duduk di dekat sini saja." Kata Stella.


Yuri dan Wenda mengikuti perkataan Stella. Lagipula ada beberapa meja yang kosong tapi dalam keadaan kotor. Kenzie juga senang bisa makan siang bersama dengan Yuri yang kini sudah menjadi istrinya.


"Kalau kamu mual, keluarkan saja. Aku akan menemanimu." Bisik Kenzie.


Tak lama Yuri mual dan pergi ke toilet yang ada di ujung kantin. Kenzie menemaninya sampai masuk ke toilet wanita. Mahasiswi yang ada di dalam langsung menjerit dan beberapa memukuli Kenzie sambil pergi keluar.


Selesai mengeluarkan semuanya, Yuri dan Kenzie kembali ke tempat duduk mereka. Teman-teman mereka sudah sibuk dengan makanannya masing-masing. Teman-teman Kenzie mulai menatap Kenzie yang sudah duduk bersama mereka.


"Kamu sakit, Ri?" Tanya Laras.


"Aku ada permen nih. Siapa tahu kamu membutuhkannya." Laras memberikan sebungkus permen asam.


"Kayak Dimas, aku sakit sedikit saja langsung di bawa ke rumah sakit." Laras memamerkan kemesraannya.


Andre, Kenzie dan Darren sudah terbiasa melihat kemesraan Laras dan Dimas. Walau terkadang mereka juga suka ribut. Mereka tetap mesra dan semakin saling mencintai.


"Dre, nanti kalau kamu punya pacar jangan kayak Kenzie ya. Kamu tuh harus memperlihatkan perasaan cinta kamu ke dia." Nasehat Laras.


"Sudah, sudah pada makan dulu." Kata Kenzie agar semua kembali fokus menghabiskan makanan mereka.


"Sayang, vitaminnya di minum dulu." Kenzie mendorong Darren yang ada di sebelah Yuri.


"Astaga, Ken. Ada orang disini woi!" Kesal Darren.


"Ih ampun deh sama Kenzie nih." Lanjut Darren.


Yuri kembali mual selesai makan. Ia pergi ke toilet sendiri. Darren sengaja menahan tangan Kenzie. Stella yang menggantikannya untuk menemani Yuri.


"Pasti gak enak ya jadi wanita hamil. Rasanya berat banget dikit-dikit mual." Keluh Wenda.


"Apa? Tadi kamu bilang apa?" Tanya Laras.


"Ah engga Kak." Jawab Wenda.


"Tadi tuh dia bilang sulit jadi wanita hamil." Yesha menegaskan ucapan Wenda.


"Yuri hamil? Ken?" Tanya Laras.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Dia tuh bukan wanita baik-baik." Yesha duduk di samping Kenzie.


"Ken, kalian gak melakukan itu lebih dulukan?" Tanya Laras.


"Sudahlah Ken, daripada kamu ngurusin anak orang lebih baik sama aku saja." Yesha mencoba merayu Kenzie.


Kenzie dengan malasnya mendengarkan ocehan Yesha. Sama seperti Kenzie, Wenda juga malas mendengarkan perkataan Yesha. Darren hanya tertawa kecil melihat Yesha yang masih juga mencoba merayu Kenzie. Stella dan Yuri kembali dari kamar mandi. Kenzie langsung merangkul Yuri.


"Sepertinya perkenalan kalian waktu itu hanya kenal begitu saja." Kata Kenzie masih dengan merangkul Yuri. Yuri sedikit takut melihat Yesha bergabung.


"Aku kenalkan kembali. Yuri, istri sah dan ibu dari anak-anak aku." Ungkap Kenzie. Teman-temannya hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Kok gak ada respon sih. Halo," Kenzie melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.


"Oh," Jawab singkat Dimas.


"Aku serius! Nih kalau kalian tidak percaya." Kenzie menunjukkan cincin nikah mereka. Dimas dan Laras juga tidak mau kalah dengan Kenzie.


"Kita juga punya ya." Kata Laras sambil menunjukkan cincin pertunangan mereka.


"Aduh, nih kalian lihat sendiri deh." Senjata terakhir yang Kenzie gunakan. Ia memperlihatkan foto yang ia pajang di layar ponselnya.


Andre mengambil ponsel Kenzie. Ia melihat lebih dekat dan terlihat foto Kenzie dan Yuri yang sedang menggunakan gaun biru dan jas putih. Ponsel Kenzie pun berpindah tangan ke Darren lalu ke Dimas.


"Secepat ini? Padahal libur gak lama loh." Komen Dimas.


"Kalian gak kejebolan duluan kan?" Tanya Dimas.


Kenzie akhirnya menceritakan jalan pernikahan mereka yang serba mendadak. Ia juga menjelaskan alasan mengapa ia melamar dan dalam waktu singkat ia menikahi Yuri. Keempat teman-temannya cukup mendengarkan cerita Kenzie. Sedangkan Yesha semakin panas dan kesal mendengarnya.


"Jadi begitulah ceritanya." Kata Kenzie.


"Berani juga ya kamu." Kata Dimas.


"Sweet, aku jadi pengen cepat nikah." Sahut Wenda.


"Cari dulu calonnya. Kalau tidak sama Paul saja sana." Goda Stella.


"Paul kan milik kamu Stella. Buktinya tadi mau kesini saja pakai telepon-teleponan." Secara bersamaan dengan perkataan Wenda, Andre menyemburkan minumannya tepat di wajah Dimas.


"Eh, aku gak perlu di sembur juga sudah tampan Andre Putra Abraham!" Dimas menekankan menyebut nama Andre.