Untitled Love

Untitled Love
Ep 42



Hani buru-buru memastikan ke kamar Yuri dan benar saja Yuri sudah lemas, wajahnya pucat dan suhu tubuhnya panas. Telapak tangan dan kakinya sudah dingin sekali. Hani cemas sampai ia lupa mematikan panggilan videonya.


"Keenan panggil taksi sekarang!" pinta Hani.


"Kenapa bisa gini sih kamu?" Hani sangat panik.


Keenan dan Hani mengantar Yuri ke rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit Yuri langsung di bawa ke UGD. Hani masih panik dengan kondisi Yuri.


"Gimana dok anak saya?" tanya Hani.


"Untuk sementara ini, anak ibu harus di staycation di rumah sakit dulu." Jawab sang dokter.


"Memang kenapa anak saya Dok?" tanya Hani.


"Loh, ya berarti anak ibu harus istirahat, harus liburan dulu disini." Jawab Dokternya.


"Iya kenapa penyebabnya Dok?" Tanya Hani.


"Ya karena butuh istirahat toh, Bu." Jawab Dokter dengan santai.


"Astaga Dok." Hani menangis Bombay di depan sang dokter.


"Sakit apa Dok anak saya?" Tanya Hani.


"Oh, kalau di tanya penyakitnya. Coba kita tunggu hasil pemeriksaan darah dulu ya Bu. Tapi kalau di lihat dari gejalanya sih, putri ibu fix Tipus." Jawab Dokter.


"Gak bisa fifty-fifty gitu Dok? atau pilih bantuan ke kerabat atau saudara?" Tanya Hani.


"Tadinya juga saya ingin seperti itu Bu." Jawab Dokter.


"Bagaimana kalau ~"


"Sudah! Sudah!" Ucap Keenan yang pusing mendengar percakapan dokter dengan Mamanya.


"Kalian tuh ngomongin apa sih?" Tanya Keenan.


"Permisi Dok, ini hasil pemeriksaan darahnya." Dokter melihat hasil yang di bawa oleh perawat.


"Tuh kan Bu, Saya bilang juga apa. Fix udah, udah ini mah benar-benar Fix Bu. Putri Ibu Tipus." Dokter memperlihatkan hasil tes darah Yuri.


"Terus gimana tuh dok?" Tanya Hani.


"Loh, ya staycation dulu disini." Jawab Dokternya.


"Ibu bisa langsung kesana, nanti tinggal pilih kamar mau yang superior, Deluxe, Junior Suite, Senior Suite, Alumni Suite atau apapun." Lanjutnya.


"Senior Suite? Alumni Suite? Dokter makin gak jelas ih!" Hani mulai sewot.


"Kalo Alumni Suite itu ada di ujung sana. Tapi rata-rata tidak ada yang mau di Alumni Suite." Kata Dokternya.


"Kenapa gitu Dok? Gak ber AC ya Dok?" Hani malah menanggapinya dengan serius.


"Ya, siapa juga Bu yang mau staycation di kamar mayat." Pak Dokter Nya dengan santai ia berjalan meninggalkan Hani.


"Eh, Dokter koplak!" Hani kesal sendiri.


"Apa bedanya sama Mama? Udah tau Koplak masih aja di ladenin." Keenan gak habis pikir dengan Mamanya.


Yuri di bawa ke ruang VVIP. Agar Hani bisa menemaninya dengan nyaman. Karena Hani tidak nyaman jika ada orang lain.


Di negara lain, Kenzie panik mendengar kabar dari Bundanya. Kenzie memaksa untuk balik ke Indonesia. Namun Bundanya menahannya agar tidak terburu-buru. Apalagi Ayahnya Kenzie sedang membutuhkan anaknya untuk terjun langsung meninjau bisnis sang ayah.


"Kamu tahan dulu Ken." Ucap Naomi.


"Bunda sudah meminta orang yang disana untuk mengurus seluruh keperluan Yuri." Lanjutnya.


"Tapi Bunda, Kenzie khawatir. Kenzie gak tenang Bun jika Yuri masuk rumah sakit." Jawab Kenzie.


"Kan bisa lewat video call Ken. Zaman sekarang tuh sudah semakin maju." Naomi terus meyakinkan Kenzie.


Bukannya ingin menahan Kenzie atau melarang Kenzie bersama dengan Yuri. Hanya saja sejujurnya Naomi dengan sang suami sangat merindukan Kenzie. Ia juga sangat khawatir jika jauh dari anaknya.


Sejak SMP Kenzie memilih untuk menetap di Indonesia. Sedangkan kedua orangtuanya dan kakaknya pindah ke Singapura. Berawal dari ia meminta modal dari sang ayah untuk membangun usaha sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMP.


Dengan bantuan sang ayah ia membuat warung kopi. Sejak saat itu, biaya kehidupan Kenzie dari hasil warung kopi tersebut. Ia tidak meminta jatah lagi pada sang ayah. Hal itu yang membuat Naomi dan Rama khawatir dengan anaknya.


Itu alasan Naomi dan Rama meminta anak pertamanya untuk menjemput adiknya. Dan ketika Kenzie meminta ingin kembali ke Indonesia, Naomi merasa sangat berat untuk mengizinkannya. Ia ingin anaknya hidup lebih baik.


Kembali lagi ke Yuri yang masih tertidur. Hani menunggu sambil duduk di samping Yuri. Keenan kembali ke rumah untuk membawa beberapa baju dan keperluan untuk Yuri.


Saat hendak keluar rumah, ia tertahan oleh sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumah mereka. Seorang pria turun dari mobilnya. Keenan menghampiri pria tersebut.


"Yuri ada Ken?"


"Kakak masuk rumah sakit tadi siang. Ini saya baru mau balik kesana lagi." Jawab Keenan.


"Kalau gitu Aku antar yuk."


"Wah, saya jadi gak enak nih sama Mas Nathan." Gak enak tapi Keenan tetap masuk ke dalam mobil Nathan.


"Yuri sakit apa Ken?" tanya Keenan.


"Tipus Mas, kata dokter sih karena pola makan sama makanan yang memicu bakteri yang menyebabkan tipus." Jawab Keenan.


"Oh gitu, terus sekarang gimana kondisinya?" Tanya Nathan.


"Tadi sih sebelum aku pulang Kakak masih tidur." Jawab Keenan.


Mereka sampai di rumah sakit. Keenan lebih dulu turun di pintu lobby. "Terimakasih ya Mas." ucap Keenan sebelum ia menutup pintunya.


Setelah memarkirkan mobilnya. Nathan menyusul Keenan di Lobby. Tapi saat ia sampai lobby, ia tidak menemui Keenan. Akhirnya ia menanyakan ruangan Yuri pada Resepsionis.


Resepsionis itu menunjukkan ruangan dimana Yuri di rawat. Keenan langsung menuju ke lift untuk naik ke lantai dua. Disana hanya ada beberapa ruangan yang seluruhnya ruangan tipe VVIP.


Nathan mengetuk pintu ruang Yuri. Lalu, ia masuk ke dalam ruangan Yuri. Ia melihat Yuri yang baru saja ingin bangun dari tidurnya.


"Loh, Mas Nathan. Saya kira Mas cuma mau antar saya saja. Makanya saya langsung ke ruangan Kakak." kata Keenan.


"Gak apa-apa Ken." Jawab Nathan.


"Kamu ini gimana sih Ken." ucap Hani pada Keenan.


"Gimana kondisi kamu Ri?" Tanya Nathan.


"Sudah membaik. Tapi kata Mama aku disuruh staycation disini dulu." Jawab Yuri.


"Ih, bukan kata mama. Kata Pak dokter tuh." sahut Hani.


"Udah gitu tadi di tawarin nginep di Alumni Suite. Ya mana mau Mama. Enak aja!" lanjutnya.


"Alumni Suite?" Yuri dan Nathan sama-sama nanya.


"Iya, kamar mayat maksudnya." Jawab Keenan.


Nathan dan Yuri sama-sama tertawa mendengarnya. Usai menjenguk Yuri, Nathan pulang mampir ke Cafe terlebih dahulu. Ia ingin menyampaikan pada tetangganya bahwa Yuri untuk sementara ini izin dulu.


"Yuri sakit?" Tanya Dita.


"Di rumah sakit mana?" Tanyanya lagi.


Dita merapikan barang-barangnya. Sementara itu Nathan menuliskan nama rumah sakit, ruangan dan lantai dimana Yuri di rawat. Nathan bingung melihat Dita yang tiba-tiba repot beberes.


"Kamu kapan mau pulang dari sini?" tanya Dita.


"Loh, Mas Dita ngusir aku?" tanya Nathan.


"Aku pergi dulu ya. Ada keperluan mendadak." Dita menepuk pundak Nathan dan keluar dari ruangannya.