Untitled Love

Untitled Love
Ep 66



Yuri masuk ke Swalayan. Ia melihat Pak Moko dan Derry masih dengan posisi mengintip lewat kaca. Saking asiknya ngobrol, mereka tidak menyadari bahwa Yuri sudah berada di belakang kalian.


"Oh, gitu. Jadi sekarang kalian senang membicarakan orang dari belakang ya?" Yuri membuat mereka membeku.


"Sepertinya tugas bapak masih banyak." Pak Moko mencoba menghindar. Begitu juga dengan Derry yang langsung ke meja kasir.


Pulang kerja, Yuri tidak ada kapoknya untuk mengambil makanan kadaluarsa. Baru saja ia ingin mengambilnya, tangannya sudah di tahan lebih dulu. Yuri tidak ingat bahwa Kenzie akan menjemputnya.


"Sayang, berhenti untuk makan makanan basi." Pinta Kenzie.


"Kamu lapar? Kita cari makan yuk." Ajak Kenzie.


Pertama kalinya Yuri dapat berkeliling Singapura. Mereka telah sampai di Chinatown. Tempat berbagai macam makanan dari yang ringan hingga makanan berat.


"Kamu duduk disini dulu ya. Jangan kemana-mana! Oke!" Kenzie takut sekali kehilangan Yuri.


Setelah sekian lama Yuri menunggu, Kenzie datang membawa makanan. Ada beberapa makanan yang Kenzie bawakan. Yuri melongo melihat makanan yang terlihat lezat.


"Zie, banyak sekali makanannya." Ucap Yuri sambil membantu Kenzie menaruh makanan di meja.


"Pilih semua yang kamu mau." Perintah Kenzie.


"Ini untuk aku semua?" Tanya Yuri. Kenzie mengangguk.


"Mana bisa aku menghabiskan semua ini, Zie." kata Yuri.


"Nanti sisanya aku yang makan." Jawab Kenzie.


Yuri mencicipi satu-persatu makanan yang ada di mejanya. Secara brutal ia menyantap makanan yang ada di depannya. Kenzie senang melihat Yuri makan dengan baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk merawat Yuri dengan baik.


"Pelan-pelan sayang makannya."


"Tenang saja, gak akan ada yang ambil." Kata Kenzie.


Kurang dari satu jam seluruh makanan ludes. Yuri menghabiskan seluruhnya dengan lahap. Kenzie memang sedang lapar. Melihat kekasihnya melahap seluruh makanan, membuatnya kenyang dan senang. Melihat Yuri kekenyangan membuatnya terkekeh.


"Yah, habis." Kata Yuri sambil memajukan bibirnya.


"Ini masih ada." Kenzie mengecup bibir Yuri.


"Zie!" Yuri melirik ke kanan dan kiri. Pipinya memerah.


"Biarin, biar semua orang tau kalau kamu Yuri Handayani. Hanya milik Kenzie Ishan seorang!" Jawab Kenzie.


"Ah iya," Yuri merogoh tasnya.


"Aku masih punya ini." Yuri mengambil roti yang ada di tasnya.


"Sayang, kamu masih belum kenyang?" Tanya Kenzie.


"Hem, ini roti terenak yang aku makan selama disini." Yuri menggigit setengah rotinya.


"Seenak apa sih?" Kenzie mengambil roti Yuri.


"Roti cream cheese dari Bread Joy ini memang enak. Apalagi roti tawarnya lembut loh. Bunda suka beli ini setiap ke Mart." Kata Kenzie.


"Tunggu! Ini kadaluarsanya hari ini loh, sayang." Kenzie melihat tanggal kadaluarsanya.


"Iya, aku tau. Selagi belum berjamur dan tidak merusak rasa aslinya. Masih bisa di makan kok." Kata Yuri sambil mengambil kembali rotinya.


"Gak! Gak! Gak boleh! Aku gak suka kamu memakan-makanan basi! Selama aku masih hidup aku gak akan membiarkan kamu makan, makanan basi lagi." Kenzie sedikit marah. Namun ia mengontrol emosinya.


"Besok akan aku bawakan roti ini. Bahkan jika kamu mau aku bawakan satu pabrik roti ini untuk kamu." Lanjut Kenzie.


Kenzie mengutarakan kesedihannya selama ini. Ia mengaku sedih setiap melihat kekasihnya memungut makanan kadaluarsa yang telah di buang. Ia juga mengaku jika selama ini Kenzie selalu memantaunya dari kejauhan.


"Sudah malam, kita pulang yuk. Aku sudah kenyang sekali." Pinta Yuri.


Kenzie mengantar Yuri sampai depan asramanya. Ia pulang setelah Yuri masuk ke dalam. Hari yang melelahkan namun ada keindahan di balik itu semua. Ya, ia senang bisa kembali lagi dengan Yuri.


Tak terasa ujian semester telah usai. Kenzie menunggu Yuri di depan gedung fakultas. Ia bertemu Derry yang juga ke gedung tersebut.


"Aku bisa saja merebutnya jika aku menginginkannya." Lanjut Derry.


"Tapi nyatanya, Yuri memang hanya milikku." Balas Kenzie.


"Jangan terlalu senang. Ingat perkataanku sebelumnya. Aku bisa saja merebutnya darimu." Kata Derry.


"Dan aku takkan membiarkan itu terjadi." Kenzie menghampiri Yuri yang sudah turun dari eskalator.


Yuri langsung menggandeng Kenzie. Ia juga menyapa Derry yang masih berdiri. Wenda dan Stella menyusul Yuri.


"Duh, yang sudah balikkan. Pelajaran selesai langsung menghilang." Sindir Stella.


"Jangankan pelajaran. Sama aku saja sudah lupa." Sahut Derry.


"Apa sih Derry? Kayak gak pernah ketemu saja. Padahal di tempat kerja ngobrol terus sama aku." Jawab Yuri. Kenzie cemburu mendengarnya.


"Ehem,," Kenzie berdehem.


"Sudah? Ayo. Bunda sudah menunggu kita." Ajak Kenzie.


"Kan, kita di tinggal." Canda Wenda.


"Lain waktu kita jalan ya." Balas Yuri.


"Sudah banyak duit sekarang? Sudah gak makan yang kadaluarsa lagi nih?" Tanya Stella.


"Eh, jagain teman aku ya. Jangan sampai dia makan makanan basi lagi." Pesan Stella.


Sampai di rumah, Naomi sudah menunggu kedatangan Kenzie dan Yuri. Ia senang sekali bisa berjumpa dengan Yuri. Sebelumnya ia hanya mendengar cerita dari anaknya tersebut dan mendengar cerita dari Hani.


Yuri sampai di pekarangan rumah megah dengan nuansa putih gading. Ada air mancur di tengah pekarangan. Yuri merasa takjub dan tak menyangka jika ia sedang berada di rumah keluarga Ishan.


"Selamat datang di kediaman Keluarga Ishan, Nona manisku." Kenzie membukakan pintu untuk Yuri.


"Sore Tuan, Nyonya sudah menunggu di ruang makan." Ucap seorang pelayan.


"Bunda." Panggil Kenzie.


"Jangan teriak-teriak Ken. Ini di rumah bukan di hutan." Jawab Naomi.


"Bunda, kenalin. Ini masa depan Kenzie yang suka Ken ceritakan." Kenzie mengenalkan Naomi.


"Ini pasti Yuri ya? Cantik ya seperti Mama kamu." Puji Naomi.


"Terimakasih Tante, Tante juga cantik. Masih terlihat sangat muda." Yuri membalas pujian Naomi.


"Yuk, kita makan dulu." Naomi meminta pelayannya menyajikan hidangan.


Di meja depan Yuri sudah tersedia beberapa makanan. Ia melihat meja penuh dengan empat sehat lima sempurna. Yuri memandangi Kenzie dan Naomi secara bergantian.


"Ayo di makan. Memang bukan masakan Tante. Tapi ini sangat lezat loh." Naomi menaruh semua hidangan sedikit-sedikit sampai nasi di piring Yuri tertutup.


"Mau pakai nasi tidak?" Tanya Naomi


"Sudah Tante, sudah banyak sekali." Jawab Yuri.


"Kalau kamu memang keluarga yang jarang makan nasi." Kata Naomi.


"Gimana kuliah kamu, Ri?" Tanya Naomi.


"Lancar Tante, Yuri juga gak nyangka bakal dapat kuliah di situ." Jawab Yuri.


"Sebentar ya Tante, saya angkat telepon dulu." Yuri sedikit menjauh.


Derry menghubungi Yuri karena ada kunjungan dadakan dari pemilik swalayan tempatnya bekerja. Ingin ia pergi, tapi jarak dari rumah Kenzie ke toko akan memakan waktu setengah jam.


Yuri mencoba pamit pulang namun tertahan oleh Naomi. Naomi ingin Yuri menyelesaikan makanannya lebih dulu. Apalagi ia ingat kalau selama Yuri tinggal di Singapura, Yuri selalu memakan makanan kadaluarsa. Naomi mengumpat air matanya agar tidak terlihat oleh Yuri.