Untitled Love

Untitled Love
Ep 94



Ya, Kaira memang bisa di bilang random. Kadang ia cuek, kadang bisa juga ia manja dengan Ayah dan Bundanya, kadang juga bisa galak melebihi Singa. Itulah alasan Kenzie tidak berani membuat Kakaknya marah.


"Ayah! Kenapa Ayah tega banget memisahkan aku dengan Derry!" Kaira mengguncang-guncangkan tubuh Rama.


"Bisa-bisanya Ayah bersantai-santai saat aku segalau ini!" Katanya lagi.


"Nak, sudah-sudah tenang dulu." Ucap Naomi.


"Gimana bisa tenang Bunda! Selama ini!" Jawab Kaira masih dengan kekesalannya.


"Nti!" Teriak Devan sambil tertawa.


Tak hanya Kaira, semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arah Devan. Begitu juga dengan Yuri, ia senang Devan mendapat kosakata baru. Rama merasa tenang dan memiliki kesempatan untuk sedikit menjauh dari putrinya.


"Aduh manisnya kesayangan Aunty. Sebentar dulu ya sayang, Aunty masih kesal dengan Opah kamu." Sahut Kaira. Kaira kembali menoleh ke Ayah nya. Tapi ternyata Ayah nya sudah berlindung di balik Sang Istri.


"Kaira!" Derry menegur Kaira dengan lembut namun tegas.


"Ayah!" Teriak Kaira meminta penjelasan dari Ayahnya.


"Baiklah, Ayah jelaskan." Kata Rama.


"Waktu itu Ayah mendapat kabar bahwa dokter yang berjaga di desa Bla sedang cuti dadakan. Sedangkan dokter yang lainnya juga tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Kebetulan saat itu Ayah mendapat kabar ada seleksi dokter baru. Ayah juga awalnya gak tahu kalau Nak Derry yang lolos seleksi. Langsung lah dia di minta praktek di desa tersebut." Jelas Rama.


"Setelah sebulan ia kerja, Ayah berkunjung ke rumah sakit itu dan Ayah melihat Derry sedang praktek. Dari situ Ayah tahu kalau Derry yang menggantikan Dokter itu. Selama masa magang, Ayah selalu mendapat perkembangan Derry. Karena kinerja Derry yang sangat bagus dan ramah pada pasien, Ayah meminta untuk masanya disana di tambahkan lagi." Lanjutnya. Ia terus menjelaskan pada putrinya.


"Dari situ Ayah yakin dia pantas untuk putri Ayah. Itulah kenapa Ayah meminta dia untuk kembali dan di tempatkan di rumah sakit pusat." Kata Rama.


Kaira terharu mendengarnya. Ia memeluk sang ayah dan mengucapkan maaf karena sudah kesal dengannya. Kaira senang sekarang Ayahnya merestui hubungan mereka. Derry mendekati Kaira yang berada di tengah Ayah Bundanya. Lalu ia berlutut di hadapan Kaira.


"Kaira, di depan keluarga kamu. Aku ingin mereka menjadi saksi keseriusan aku. Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Derry sambil mengeluarkan cincin berlian.


Kaira semakin terharu. Saat ini orang yang ia cintai melamarnya dan ingin menikahinya. Tanpa berpikir panjang Kaira mengambil cincin berlian tersebut dan mengenakannya sendiri.


"Jadi kapan kamu ingin membawa orangtua kamu menemui kami?" Tanya Rama.


"Mereka sedang jalan kesini Pak." Jawab Derry.


Tak lama sebuah mobil keluarga berwarna hitam memasuki kediaman keluarga Ishan. Seorang pelayan menyambutnya dengan membukakan pintu mereka. Derry menghampirinya dan ikut menyambutnya.


"Ma, Pa." Sapa Derry sambil menundukkan kepalanya.


"Lex." Seorang pria paruh baya membalas sapaan Derry.


"Pak Rama, Nyonya Ishan. Perkenalkan ini Mama dan Papa saya." Kata Derry.


"Saya Arka Alexander dan ini istri saya Elisabeth." Papa nya Derry memperkenalkan dirinya.


"Selamat datang di kediaman keluarga kami." Rama menyambut dengan ramah.


"Saya sudah mendengar tentang Kaira dari putra kami. Putra kami banyak bercerita tentang kekasihnya ini." Kata Arka. Arka juga menceritakan kisah Derry yang mereka kenal.


"Awalnya kami sempat melarang Alex untuk melanjutkan hubungannya dengan Putri Pak Rama. Karena setiap saya mendengar cerita tentang Kaira, kami sudah mengira bahwa status kami sangat jauh berbeda. Saya takut jika anak kami hanya menjadi benalu di keluarga Pak Rama." Kata Arka.


"Sejak Derry bekerja di tempat saya, saya sungguh senang, saya puas dengan kinerjanya, dengan semangatnya. Bahkan ketika saya meminta dia memilih, dia rela kehilangan pekerjaannya demi anak saya. Tapi ternyata dia kembali menjadi rekan saya di tempat yang berbeda dan dia membuktikan itu semua pada saya." Balas Rama.


"Tak di sangka ternyata Alex kami sudah tumbuh dewasa." Kata Arka.


"Jadi bagaimana? Kapan kamu ingin menikahi anak kami?" Tanya Rama.


"Untuk lokasi dan beberapa sudah saya selesaikan. Tinggal berkas dan design untuk acara pernikahannya nanti." Kata Derry.


"Wah, ternyata sudah terencana sebelumnya ya. Bagaimana jika hari ini saya tidak merestuinya ya?" Tanya Rama.


"Akan saya undur semuanya sampai anda merestui kami." Jawab Derry tanpa ragu.


Rama dan Naomi setuju. Sama seperti Kenzie putra kedua mereka. Melakukannya serba dadakan. Seakan dirinya mengerti apa yang di bahas oleh orang dewasa, Devan tertawa senang menyambut perkataan Derry.


"Wah, kesayangan Aunty mengerti ya apa yang di rasakan Aunty Nya. Devan ikut bahagia ya, sama seperti apa yang Aunty rasa?" Tanya Kaira.


"Tadi saja sudah seperti Singa mengamuk. Sekarang mah sudah seperti Rapunzel senyum-senyum." Sindir Kenzie.


"Mana ada Rapunzel rambutnya pendek seperti Kakak?" Tanya Kaira.


"Nih, ini Rapunzel saat rambutnya pendek." Kenzie memberikan gambar yang ia cari di pencarian internet.


"Itu Snow white Kenzie!" Ucap Kaira penuh penekanan.


"Tapi memang pernah ada loh Rapunzel rambutnya pendek." Pembelaan Kenzie.


"Maafkan anak kami yang suka bercanda ya." Kata Naomi.


Mereka kembali mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Derry menghubungi team wedding organizer untuk melengkapi keperluan mereka. Melalui panggilan video Derry dan Kaira membicarakan tema pernikahan mereka. Kenzie dan Yuri bermain di kamar Devan.


Menjelang makan malam, mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Pelayan pun mengabari bahwa makan malam sudah siap. Naomi dan Rama mempersilahkan keluarga Derry untuk makan malam bersama. Devan sudah duduk di kursi khususnya.


"Ma,, Ma,, Ma,," Kata Devan


"Mah!"


"Mam!" Devan seakan memberi tahu mama dan Omah nya untuk makan.


"Iya sayang, Devan mau makan kan?" Tanya Yuri.


"Mam!" Devan menunjuk makanannya.


"Aduh, cucu Omah sudah lapar ya?" Tanya Omah. Devan balas dengan senyuman.


"Cucunya lucu ya." Kata Elisabeth.


"Iya, ini cucu pertama kami namanya Devan." Kata Naomi.


"Yuri juga temannya Derry loh Jeng." Lanjut Naomi.


"Iya, saya juga pernah mendengar cerita tentang Yuri. Setiap malam Derry juga pernah menceritakan tentang Yuri. Katanya ia seperti memiliki seorang adik." Kata Elisabeth.


"Ehem," Kenzie dan Kaira sama-sama berdehem.


"Hahahaha, kami hanya berteman saja. Iya kan, Ri?" Tanya Derry.


"Alex memang dari dulu ingin sekali punya adik perempuan." Kata Elisabeth.


"Berbeda saat Alex menceritakan Kaira. Tidak pernah ada hentinya ia menceritakan Kaira pada kami. Awalnya kami hanya mengira Alex menganggap Kaira seperti ia dengan Yuri. Tapi semakin lama kami yakin bahwa Alex sangat mencintai Kaira." Kata Elisabeth.


Mereka mulai menikmati makan malam bersama. Setelah selesai mereka kembali mengobrol sampai larut. Derry juga sudah selesai rapat dengan Wedding organizer. Mereka pamit untuk pulang dan menyiapkan keperluan untuk besok.