
"Kok tumben rumahmu gelap." tanya Nathan ketika sampai depan rumah Yuri.
"Aku juga gak tau. Mungkin lupa menyalakan lampu." jawab Yuri.
"Masuklah, aku akan disini sampai kamu masuk." kata Nathan.
Yuri membuka pintu pagarnya. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada Nathan. Sampai depan pintu Yuri mengetuk pintu lalu ia masuk.
"Surprise!!" Teriak dari dalam rumah Yuri.
Mereka menyanyikan lagu happy birthday untuk Yuri. Nathan hanya tersenyum mendengar nyanyian tersebut. Ia tidak masuk dan bergabung. Ia memilih untuk pulang ke rumah.
Marsha membawa kue untuk Yuri dan yang lainnya menyanyi sambil bertepuk tangan. Ya, tahun lalu mereka juga yang merayakan ulangtahun Yuri. Yuri ingin sekali merayakan ulangtahunnya bersama Kenzie.
Baru selesai tiup lilin, bel rumah Yuri berbunyi. Keenan keluar untuk memastikan siapa yang datang. Tak lama Keenan masuk dengan membawa satu kotak besar, satu kotak kecil dan juga satu buket bunga.
"Uh, romantisnya punya adik yang perhatian seperti Keenan." Puji Marsha.
"Ehem." Kevin berdehem.
"Kamu juga romantis kok." Marsha memuji kekasihnya.
"Maaf nih Kakak-kakakku yang cantik. Ini bukan dariku." Ucap Keenan sambil menaruhnya di meja makan.
Kotak besar itu berisi kue tart berbentuk hati dengan desain yang sangat cantik. Sedangkan kotak kecilnya, Keenan langsung memberikan ke Kakaknya. Yuri pun membuka kotak kecil itu. Semua heboh melihat isinya kecuali Yuri. Tak terasa air matanya turun, hatinya terasa sakit akibat rindu yang teramat.
Dalam buket tersebut ada sepucuk surat yang di ketik.
Dear My Love,
Maafkan aku yang pergi tanpa pamit. Maafkan aku yang pergi meninggalkan luka tanpa mengobatinya lebih dulu.
Aku janji akan pulang dan menemui mu kembali. Aku akan buatmu bahagia bersamaku. Aku sangat-sangat mencintaimu dan hanya kamu yang ada di hatiku.
Tunggu aku kembali.
Dari
Orang yang sangat mencintaimu.
Yuri menatap kalung berlian yang ada di kotak kecil tersebut. Ia meminta mamanya untuk memasangkannya. Kalung itu terlihat semakin cantik.
"Pasti dari Kenzie ya?" Tanya Hani.
"Pantas saja kemarin Kenzie menghubungi Mama." ucap Hani.
"Dia kemarin mencari kamu. Tapi kamu sedang kerja. Terus Mama lupa mengabari mu." lanjutnya.
"Kenapa dia tak pernah menghubungiku Ma?" tanya Yuri dengan lirih.
"Seharusnya jika dia cinta sama aku, dia gak pergi dengan cewek lain. Dia juga tidak menghubungiku." curhat Yuri. Marsha memeluknya dan menepuk pundaknya Yuri.
"Cewek lain? Dia gak hubungi kamu karena ponselnya tertinggal di rumahnya. Kemarin dia menghubungi Mama pakai nomor ponsel Bundanya." kata Hani.
"Iya Ma, aku waktu itu melihat dia pelukan dengan cewek lain di rumahnya. Yuri tau, dia memang lebih cantik dari Yuri. Bahkan dia lebih dari segalanya dari Yuri." Yuri semakin menangis.
"Oh itu, Itu Kaira." Hani teringat yang di maksud Yuri.
"Kaira itu kakak kandungnya Kenzie." Hani menjelaskan siapa Kaira.
Tangis Yuri semakin kencang karena telah salah paham. Ternyata bukanlah Kenzie yang melukainya, melainkan dirinya yang telah melukai Kenzie. Selama dua tahun ini ia selalu mengira Kenzie menyakitinya.
"Cha, aku harus gimana? aku sudah salah paham dengannya." Yuri meminta solusi pada sahabatnya.
"Jika kamu memang mencintainya, ya kamu tunggu saja." jawab Marsha.
"Kejarlah! Kenapa harus cowok yang selalu mengejar cinta? Kenapa gak sesekali cewek yang mengejar?" tanya Kevin.
Pertanyaan Kevin tak di tanggapi oleh mereka. Mereka kembali menikmati kue dari Marsha dan dari Kenzie. Hani juga sudah membuat beberapa hidangan.
"Kamu belum pulang Yur?" tanya Melani.
"Masih nunggu teman Kak." Jawab Yuri.
"Yur, saya minta tolong ambilkan air mineral dong." pinta Dita masih fokus dengan layar laptop.
"Yur, udah di jemput tuh!" teriak Melani melihat mobil milik Nathan masuk ke parkiran.
"Ini Pak airnya. Saya permisi ya Pak, Kak Melani." pamit Yuri.
Baru keluar pintu, Nathan ikut keluar dari mobil sambil memberikan surprise. Ia membawa buket bunga dan Kue tart cantik yang juga di hiasi dengan lilin. Nathan juga menyanyikan lagu birthday untuk Yuri.
Aksi Nathan menarik perhatian Melani. Melani melihat Nathan yang memegang bunga dan Kue tart sambil bernyanyi dan mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Melani menarik Dita keluar dan bergabung dengan Nathan.
Yuri tak menyangka akan mendapat surprise walau ulangtahunnya sudah berlalu kemarin. Ia sangat menyukai kejutan dan suasana bahagia seperti ini. Lelahnya seketika hilang terganti dengan perasaan senang.
"Selamat ulang tahun Yur." Ucap Melani.
"Terimakasih Kak." Yuri memeluk Melani.
"Kan yang ngasih surprise aku. Kenapa aku gak di peluk?" tanya Nathan.
Tiba-tiba Dita memeluk Nathan. Melani dan Yuri tertawa melihat Nathan. Mereka kembali ke dalam cafe untuk menikmati kue yang di bawa oleh Nathan.
Yuri ingin sekali mengabadikan momen tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya dan memotret beberapa kali dengan gaya yang berbeda. Niatnya hanya ingin satu kali foto. Tapi nyatanya ada puluhan foto yang di ambil.
Selesai bersenang-senang, Nathan mengantar Yuri pulang. Begitu juga Dita yang mengantar Melani pulang. Moment yang sangat menyenangkan bagi Yuri. Tapi rasanya masih kurang lengkap tanpa Kenzie.
Ia berniat untuk menabung sebagian gajinya. Ia juga mulai mencari-cari beasiswa untuk ke Singapura. Yuri bahkan sering menggantikan temannya yang izin tidak masuk.
Walaupun gajinya ia tabung sebagian, Yuri masih tetap membantu membiayai adiknya sekolah. Ia sebenarnya juga ingin sekali memiliki kendaraan. Tapi apa boleh buat, Yuri lebih memilih di tabung untuk biaya kuliah di Singapura.
"Yuri! bangun Nak!" Teriak Hani.
Selama kerja, Yuri tak pernah di bangunkan oleh Mamanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:45. Sudah menandakan bahwa dirinya akan telat. Tapi tak juga Yuri keluar kamar.
"Tumben banget sih Yuri gak bangun. Apa tadi dia sudah keluar duluan ya?" Tanya Hani pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, aku bereskan meja dulu." Hani merapikan meja makannya.
"Loh, ini punya Yuri kok masih utuh ya? Pasti buru-buru deh berangkatnya." Hani membawa gelas dan piringnya.
Rutinitas Hani, ia merapikan rumah sendiri. Setelah sudah di pastikan rapi, Hani mulai bersantai sejenak di depan TV. Lalu ia kembali memasak untuk makan malam.
"Iya Jeng, Jeng mah enak. Mau makan udah ada yang masakin. Lah aku mah mesti bermain musik dulu di dapur." Kata Hani.
Keenan datang dan langsung tiduran di sofa. Ia naik ke kamar kakaknya untuk mengambil sesuatu. Mama Hani bertanya pada Keenan.
"Kamu mau kemana?" tanya Hani.
"Keenan mau pinjam buku catatan kakak dulu." Jawab Keenan.
Hani melanjutkan masaknya sambil melakukan panggilan Video dengan sahabatnya yaitu Naomi. Sedang asik mengobrol, Keenan lari tergesa-gesa.
"Ma, Kak Yuri! Kak Yuri pingsan!" teriak Keenan.
"Loh? bukannya Kakak kamu kerja? Kamu salah lihat sepertinya Ken." Jawab santai Hani.
"Ih Mama, terus kalau bukan kakak siapa? ya kali siang hari ada itu Ma." balas Keenan.
"Iya juga ya. Kamu kan gak punya sixpack ya. Mana mungkin kamu bisa melihat mereka." kata Hani.
"Six sense Ma! bukan Sixpack." bantah Keenan.
Hani buru-buru memastikan ke kamar Yuri dan benar saja Yuri sudah lemas, wajahnya pucat dan suhu tubuhnya panas. Hani cemas sampai ia lupa mematikan panggilan videonya.