
Di kediaman keluarga Irawan. Mereka sedang sibuk merapikan barang-barang mereka. Hani tidak tenang jauh dari Yuri yang sedang mengandung. Walau ia sangat mengenali temannya, tetap saja ia ingin sekali membantu anaknya, menemaninya.
"Ma, apa sebaiknya kita kabari Yuri dulu saja?" Tanya Indra.
"Gak apa-apa Pa, Mama mau buat kejutan untuk Yuri." Jawab Hani.
"Ken, kamu benar-benar gak mau ikut?" Tanya Keenan.
"Gak Ma, nanti kalau Keenan libur atau ada waktu, Keenan bakal berkunjung kesana kok." Jawab Keenan.
"Nanti kalau butuh sesuatu hubungi Papa ya." Pinta Indra.
"Iya Pa, lagi juga anak Papa ini bisa mandiri kok. Papa sama Mama tenang saja." Kata Keenan sambil membantu mengemas barang Mama dan Papanya.
Selesai beberes, Hani dan Indra istirahat sejenak sambil menonton TV bersama Keenan. Tanpa sepengetahuan Hani, Keenan menghubungi Yuri dan mengabarkan bahwa kedua orangtua mereka akan menetap disana.
Pagi harinya, selesai mengirim barang. Hani dan Indra kembali memeriksa barang bawaan mereka agar tidak ada yang tertinggal. Siang hari, Keenan mengantar Mama dan Papanya ke bandara.
***
Pagi-pagi Yuri sudah di buat terkejut dengan isi pesan yang di kirim oleh Keenan. Yuri turun dan mencari keberadaan Kenzie. Sampai di dapur, perut Yuri terasa sakit.
"Sayang, aduh." Keluh Yuri.
"Kamu kenapa sayang?" Kenzie langsung meletakkan pisau dan menghampiri Yuri.
"Perutku sakit banget." Kata Yuri.
"Kita ke dokter sekarang yuk." Kenzie tanpa melepas apron nya, berlari sambil menggendong Yuri.
Seluruh pengunjung rumah sakit tertuju pada Kenzie. Tak hanya itu, petugas rumah sakit, perawat dan beberapa dokter juga memperhatikan Kenzie yang sedang panik membawa sang istri. Tapi ia juga tidak sadar bahwa dirinya masih menggunakan Apron.
"Kenzie." Sapa salah satu dokter.
"Dok, tolong istri saya dok." Pinta Kenzie.
"Ayo masuk dulu ke ruangan." Kata Dokter tadi.
"Ada apa Ken? Apa ada kendala? Bukankah usia kandungannya belum waktunya?" Tanya Dokter.
"Tadi pagi istri saya ngeluh mules, Dok. Katanya sakit perutnya." Kata Kenzie.
"Baik saya periksa dulu ya." Dokter tersebut memeriksa kondisi janin. Ia juga melontarkan beberapa pertanyaan pada Yuri.
"Begini Nak Kenzie, tidak ada masalah dalam janin yang ada di kandungan istri kamu." Dokter tersebut memberi penjelasan sampai Kenzie merasa lega.
"Jadi begitu, itu hal wajar tapi jangan terlalu sering ya Nak." Dokter memberi nasehat pada Kenzie dan Yuri.
"Begini Nak," Dokter tadi menghentikan langkah Kenzie dan Yuri.
"Ada apa lagi ya Dok?" Tanya Kenzie.
"Ada baiknya, sebelum kamu keluar dari ruangan saya harap melepaskan Apron kamu terlebih dahulu." Kata Dokter tadi.
"Ya ampun sayang, kamu gak lepas celemek nya?" Tanya Yuri sambil tertawa kecil melihat suaminya yang terlihat menggemaskan.
"Ya aku kan khawatir tadi. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku juga takut terjadi apa-apa sama bayi kita." Jawab Kenzie.
Sepanjang perjalanan Yuri masih terus tersenyum mengingat wajah suaminya yang menggemaskan dengan memakai Apron ke rumah sakit. Kenzie berhenti di swalayan miliknya. Sudah ada Pak Moko yang baru saja datang.
"Wah, ada apa nih pagi-pagi sudah main kesini?" Tanya Pak Moko.
"Pak Kenzie, tumben tidak Serapi biasanya? Kemarin sudah saya serahkan ke Pak Rama laporannya. Karena kata Pak Rama, Pak Kenzie sedang sibuk mengurus kantor pusat." Kata Pak Moko.
"Waduh, saya bingung nih jawabnya yang mana dulu." Kata Kenzie.
"Jangan panggil saya Pak dong Pak Moko. Saya ini masih muda, lagi juga inikan sedang berada di luar jam kerja." Pinta Kenzie.
"Oh iya, Yuri memang senang sekali Sandwich Tuna." Jawab Pak Moko.
Setelah memilih menu sarapannya, Yuri dan Kenzie sarapan lebih dulu di swalayan. Mereka duduk di dalam swalayan. Sambil terlihat beberapa mahasiswa yang sudah berdatangan, ada juga yang sedang di luar asrama.
"Astaga sayang, aku lupa." Yuri menepuk jidatnya tiba-tiba.
"Ada apa sayang?" Tanya Kenzie.
"Hari ini Mama sama Papa berangkat kesini." Jawab Yuri.
"Bagus dong, jadi kamu ada temannya kalau aku sedang kerja. Gak perlu main-main ke Swalayan terus." Jawab Kenzie.
"Ih, bukan itu sayang. Mama sama Papa mau menetap disini. Katanya Mama ingin tinggal bersamaku." Kata Yuri.
"Oh, jadi itu masalahnya." Dengan tenang Kenzie menjawabnya.
Sampai di apartemen, Kenzie hanya mengantar Yuri sampai depan Apartemen mereka, Kenzie kembali turun. Sampai di atas Kenzie masuk dengan santai. Yuri sudah menunggunya di sofa.
"Kamu habis kemana sih?" Tanya Yuri.
"Aku ada urusan sebentar sayang." Jawab Kenzie.
"Urusan apa? Kenapa harus antar aku dulu terus pergi gitu saja?" Yuri memajukan bibirnya.
"Aduh cantiknya istri Kenzie Ishan. Apalagi kalau sedang cemburu seperti ini. Rasanya ingin aku gigit saja." Tanpa aba-aba Kenzie langsung mencium bibir Yuri.
Yuri sedang libur menyiapkan untuk ujian semester. Sedangkan Kenzie harus tetap berangkat kerja. Yuri merasa sedikit suntuk setelah Kenzie pergi kerja. Ia merapikan satu kamar untuk tempat orangtuanya tinggal.
Yuri menonton TV sampai ketiduran di depan TV. Ia terbangun ketika bel apartemen mereka berbunyi. Yuri membukakan pintunya karena ia yakin yang datang adalah orangtuanya. Benar saja, saat ia membuka pintu suara Hani sudah terdengar memenuhi lorong.
"Mama? Papa?" Sapa Yuri.
"Anak Mama, gimana kabar kamu Nak?" tanya Hani.
"Halo cucu Nen, Sehat-sehat ya Sayang." Hani mengelus perut Yuri yang terlihat sedikit membesar.
"Nen? Apa tuh?" Tanya Indra dan Yuri.
"Nenek, tapi kan biar gak tua gitu." Jawab Hani.
"Ya ampun Ma, ada-ada saja. Kalau tua ya tua saja." Kata Indra.
"Halo cucu Kakek." Indra mengelus perut Yuri.
Yuri senang melihat kedua orangtuanya bahagia mengelus perutnya yang tak lagi rata. Mereka saling bercanda di ruang TV. Tak lupa Hani mengeluarkan cemilan yang ia buat sebelum berangkat.
Yuri mengajak kedua orangtuanya ke kamar yang sudah ia rapikan. Setelah meminta Mama dan Papa nya istirahat, Yuri juga ikut istirahat di kamarnya. Sampai sore tiba, Hani sudah berada di dapur. Dengan bantuan dari google, ia bisa menggunakan kompor dan masak dengan bahan yang di sediakan di lemari pendingin.
"Ma, Mama masak apa?" Tanya Yuri.
"Yang ada saja di kulkas Mama masak." Jawab Hani.
"Ri, Surprise gak tiba-tiba mama datang?" Tanya Hani.
"Bukan surprise lagi Ma. Kenzie sampai lupa buka celemek ke rumah sakit." Jawab Yuri.
"Loh, kenapa?" Tanya Hani.
"Kaget mungkin Ma. Karena semalam ketika Keenan chat Yuri, Yuri sudah tidur. Baru Yuri baca tadi pagi. Yuri kaget," Yuri menceritakan kronologi tadi pagi. Mendengar cerita Yuri, Hani ikut tertawa. Membuat Indra penasaran dengan cerita mereka.
"Ada apa ini? Kayaknya seru banget." Tanya Indra.
"Ini Pa, tadi Kenzie khawatir sekali ketika mendengar Yuri sakit. Dia ke rumah sakit sampai lupa lepas Celemek." Jawab Hani. Indra pun ikut tertawa.
"Mama jadi ingat saat hamil kamu Nak. Papa kamu juga sama seperti Kenzie. Khawatir sekali," Hani ikut menceritakan tentang dirinya saat hamil anak pertama.