
"Barang-barang ku sudah lengkap kan Kak?" Tanya Kenzie.
"Sudah, semua sudah di masukkan ke bagasi." Jawab Kaira.
Tanpa sepengetahuan Yuri, Kenzie dan sekeluarga ikut ke Jakarta menggunakan pesawat yang berbeda. Sampai di Jakarta mereka langsung pulang ke rumah yang di tempati oleh Kenzie. Semua tertata rapi dan tidak ada yang berbeda.
"Ya ampun, Bunda kangen banget." Naomi berputar melihat sekeliling dan mendarat di sofa.
"Rumah pertama kita ya Bun." Sahut Rama.
Berbeda dengan ayah bundanya. Kaira langsung ke kamarnya dan Kenzie bersiap kembali untuk pergi menengok kedai kopinya. Melihat anaknya hendak keluar, Rama langsung menghentikan langkah Kenzie.
"Mau kemana Ken? Baru juga sampai."
"Katanya mau buat kejutan untuk Yuri. Masa sudah mau ketemu saja." Kata Rama.
"Kenzie mau nengok kedai kopi Kenzie, Yah. " Jawab Kenzie.
"Ayah ikut dong." Rama meminta ikut.
"Bunda juga mau ikut." Gak ingin kalah. Naomi juga ingin ikut melihat usaha anaknya.
Kenzie gak bisa menolak permintaan mereka. Ia langsung menukar kunci motornya dengan kunci mobilnya. Sudah lumayan lama ia tidak menggunakan mobil tersebut. Posisi stir juga berbeda dengan di Singapura.
"Pada mau kemana sih?" Tanya Kaira.
"Mau nengok kedai kopi Ken." Jawab Naomi.
"Kaira ikut dong." Kaira tak ingin sendiri di rumah. Ia juga ikut ke kedai kopi Kenzie.
Sampai disana, Kenzie mengenalkan keluarganya pada Arif dan Hanif. Kenzie minta di buatkan semua menu Roti bakar ala mereka. Hanya selai yang mereka gunakan yang berbeda dari yang lain.
Selai yang ia gunakan semua hasil sendiri. Kenzie yang mengajari mereka dan memberikan resepnya. Itu yang membuat roti bakarnya sangat di gemari oleh pelanggan. Bahkan ada beberapa pelanggan yang rela jauh-jauh untuk menikmati roti bakar mereka.
"Beginilah kedai kopi Ken, Yah." Kenzie memperlihatkan semuanya.
"Mau di antar ke meja atau ke dalam bos nanti?" Tanya Hanif.
"Dalam? Memang di dalam ada ruangan lagi?" Tanya Rama.
Kenzie mendesain kedainya dengan sangat rapi. Bahkan pintu ke ruangannya nyaris tidak terlihat jika di lihat selintas. Itu sengaja ia buat seperti itu agar ruangannya aman.
Kenzie mengajak keluarganya untuk mengikutinya. Kenzie membuka pintu ruangannya. Dimana dalam ruangan tersebut ada tiga kamar yaitu kamar untuk kedua karyawannya, kamar teman-temannya dan juga kamarnya.
Di ruangan tersebut juga ada ruangan untuk kumpul yang di lengkapi dengan sebuah sofa, meja panjang dan juga TV yang berukuran sedang. Dengan Izin Kenzie, kedua karyawan tersebut menatanya dengan sangat rapi. Hanya ruangan Kenzie yang tidak di sentuh oleh karyawannya.
"Ini ruangan mereka, ini ruangan teman-teman Ken kalau mereka ingin istirahat usai pulang sekolah. Kalau yang di ujung sana kamar Ken kalau sedang ingin nginap disini." Jelas Kenzie.
Rama dan Naomi melihat takjub. Sebuah bangunan yang awalnya terlihat kecil kini sudah menjadi besar. Dengan budget minim yang diberikan oleh Rama bisa membuat sebuah Kedai kopi yang sangat nyaman.
"Ayah mau lihat kamar kamu." Pinta Rama.
"Buat apa Yah?" Kenzie bertanya balik.
"Kenapa kamu takut ya ketahuan Ayah. Kamu gak nakal kan selama jauh dari kami?" Kata Rama.
"Takut apa coba? Lagi juga kamar Ken gak menarik Yah." Jawab Kenzie.
"Ayah! Bunda! Lihat deh sini!" Teriak Kaira yang sudah membuka pintu kamar Kenzie.
Kedua orangtua Kenzie menghampiri Kaira. Kenzie hanya bisa menepuk jidatnya. Ia malu dengan ayah bundanya juga dengan Kakaknya.
"Kamu sampai segitunya nak mencintai lawan jenismu?" Tanya Naomi.
"Ya, begitulah Bun," Kenzie menceritakan awal ia menyukai Yuri.
"Selama itu Ken?" Tanya Kaira.
"Kakak jadi iri sama Yuri." Lanjut Kaira.
"Cepat-cepat di ikat. Jangan sampai kamu malah jagain jodoh orang." Kata Kaira.
Keesokan harinya, sesuai rencana mereka. Mereka sudah rapi dengan pakaian resmi. Usai sarapan mereka langsung pergi menuju rumah kediaman keluarga Irawan.
"Pencet belnya dong Ken." Ucap Kaira.
"Ken gugup nih Kak." Jawab Kenzie.
"Ah, lebai kamu mah. Udah ayo, mau nunggu kita kering dulu nih di luar?" Tanya Kaira.
Kaira mendahului Kenzie untuk menekan bel. Naomi dan Rama hanya berdiri dengan santai. Mereka juga terlihat gugup untuk bertemu dengan orangtua Yuri.
"Pagi Keenan." Sapa Kenzie.
"Kak Kenzie? Masuk sini." Ajak Keenan.
"Kenzie?" Yuri tak menyangka pagi-pagi ia kedatangan tamu.
Keluarga Kenzie sudah terlihat rapi sedangkan Yuri masih berbalut piyamanya yang bergambar hello Kitty. Hani memang selalu tampil rapi walau hanya di rumah. Begitu juga dengan Indra yang hari ini berencana untuk keluar bertemu dengan teman-temannya.
"Maaf nih Jeng, pagi-pagi sudah bertamu." Ucap Naomi.
"Tidak apa-apa Jeng." Hani mengeluarkan teko putih yang berisi teh hangat.
Marsha membantu Hani menyiapkan minuman dan mengeluarkan biskuit yang ada di lemari. Sedangkan Yuri sudah lari untuk mandi dan berpakaian rapi. Indra dan Hani sudah duduk di ruang tamu yang tidak terlalu besar.
"Perkenalkan ini," Naomi mengenalkan suami dan anak pertamanya. Begitu juga dengan Hani.
"Langsung saja ke maksud dari kedatangan kami kesini." Ucap Rama. Sebelumnya ia menceritakan bahwa ia senang dengan pilihan anaknya.
"Jadi, maksud kedatangan kami pagi-pagi ini untuk membantu anak kami melamar Yuri." Ucapan Rama cukup membuat Hani dan Indra terkejut. Tidak ada persiapan apapun dari mereka.
"Wah, cukup mengejutkan juga ya. Karena sebelumnya Yuri tidak membicarakan hal ini pada kami." Jawab Indra.
Rama menjelaskan maksud dari kedatangan mereka dan menjelaskan niat mereka. Tepat mereka selesai membicarakan hal tersebut. Yuri keluar dengan tampilan yang sangat rapi. Marsha yang mendengar maksud kedatangan mereka, langsung ke kamar Yuri dan menyiapkan pakaian untuk Yuri.
Yuri duduk di Sofa bersebelahan dengan Kenzie. Indra langsung menjelaskan sesuai dengan yang Rama jelaskan. Benar saja, Yuri terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka akan secepat itu.
"Kalau Kamis bagaimana dengan anak kami saja. Hanya saja ia harus fokus untuk menjalani kuliahnya." Kata Indra.
"Bagaimana Yuri?" Tanya Rama.
"Yuri terima lamaran Kenzie." Jawab Yuri dengan sedikit gugup.
Dengan perasaan senang Kenzie mengambil kotak kecil dari saku jasnya. Mengartikan bahwa dirinya telah mengikat Yuri. Setelah memasangkan cincin ke jari manis Yuri, Rama menanyakan rencana pernikahan mereka.
"Bagaimana kalau Minggu depan?" Tanya Kenzie yang membuat semuanya kembali terkejut.
"Berkas semua sudah Kenzie siapkan. Tinggal di serahkan ke KUA." Lanjut Kenzie.
"Minggu depan cukup nikahnya. Untuk resepsi akan di adakan sebelum kami kembali pulang ke Singapura." Jelas Kenzie.
Indra dan Hani setuju. Begitu juga dengan kedua orangtua Kenzie. Mereka cukup menggelengkan kepalanya dengan pernyataan anaknya tersebut.
Setelah semua niat mereka tersampaikan dengan baik. Mereka pulang dan memberi waktu untuk keluarga Yuri menyiapkan seluruh keperluan. Marsha merasa sangat beruntung telah menyaksikan lamaran sederhana dan singkat yang di alami oleh sahabatnya.