
Yuri telah mempelajari situasi dan kondisi swalayan. Ia hanya mendapat makan gratis sekali dan itu untuk makan siangnya. Makan malamnya ia selalu makan, makanan yang sudah kadaluarsa di swalayan tersebut. Baginya selama makanan tersebut masih baik-baik saja tidak perlu di buang.
"Ri, itukan sudah kadaluarsa." Ucap Derry.
"Masih enak kok Kak. Rasanya juga gak berubah." Jawab Yuri sambil menyodorkan makanannya.
"Sayang kalau masih bagus dan masih enak harus di buang. Lagi juga kan kadaluarsanya baru hari ini." Lanjutnya.
"Hahaha, baiklah. Oh iya Ri, aku minta nomor kamu dong. Biar kalau ada apa-apa aku gampang hubungi kamu." Pinta Derry.
"Ponselku hilang kak. Aku belum membelinya lagi." Lirih Yuri.
"Bukannya hari ini sudah gajian? Kenapa tidak kamu beli saja?" Tanya Derry.
"Iya sih kak, tapi kalau aku pakai semua untuk beli ponsel bulan selanjutnya aku makan apa?" Yuri berbalik bertanya.
"Iya juga sih. Ya sudah kamu tabung dulu saja. Kalau sudah cukup baru bisa beli ponsel." Jawab Derry.
Mereka kembali bekerja. Banyak mahasiswa yang datang dan nongkrong di swalayan tempatnya bekerja. Setiap sore hari sampai malam, swalayan mereka selalu ramai pengunjung. Beberapa mahasiswa juga suka membeli makan malam mereka di swalayan tersebut.
"Kak, aku bawa mie instan ini ya." Kata Yuri.
"Eh tunggu! Itukan sudah kadaluarsa, Ri." Derry menghampiri Yuri.
"Gak apa-apa kak. Lagi juga kan nanti di masak lagi. Paling aku gak pakai bumbunya." Yuri memasukkan mie instan nya ke dalam tas.
Mereka mulai berganti shift dengan yang lain. Derry pulang ke asramanya, begitu juga Yuri. Gedung mereka saling berseberangan. Jarak gedung mereka tidak terlalu jauh. Bahkan kamar Yuri dengan Derry juga ternyata saling berseberangan.
Setiap kamar sudah di fasilitasi layaknya apartemen dengan satu kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ada ruang TV yang berukuran kecil. Yuri menaruh mie instan tadi ke lemari kecil yang ada di dapur. Setelah membersihkan dirinya, Yuri mulai mengerjakan tugas kampusnya.
"Apa aku harus beli ponsel dulu saja ya? Toh kalau makan aku sudah dapat dari kampus dan dari swalayan." Gumamnya. Ia sangat merindukan mama dan papanya.
Bangun tidur, Yuri langsung memasak mie instan yang kemarin ia bawa. Melihat mie instannya masih bagus, Yuri memasak beserta bumbunya. Setelah makan, Yuri bersiap untuk ke mall untuk mencari ponsel bekas yang sesuai dengan budgetnya.
Beberapa toko di dalam mall telah ia telusuri. Ia hampir lelah mencari ponsel dengan budget yang minim. Sampai ia menemukan toko ponsel yang terakhir.
"Saya mau cari ponsel bekas, ada?" Tanya Yuri sambil menjelaskan budget yang dia miliki.
"Ah, ada. Tunggu sebentar ya." Jawab petugas toko.
Petugas toko tadi mengeluarkan ponsel bekas yang mereka miliki. Semua masih terlihat bagus dan tidak terlihat cacat sedikitpun. Yuri melihatnya saja sudah tidak yakin akan di jual murah.
"Gak ada yang agak jelek gitu Pak? Saya hanya ada segini." Yuri kembali menunjukkan nominalnya.
"Ya ini, ponsel-ponsel ini harganya segitu."
Yuri mencari-cari sampai ia bertemu dengan ponsel yang mirip dengannya. Ia melihat ada sedikit lecet yang sama persis dengan ponselnya. Ia pun bertanya pada petugas toko mengenai harganya.
"Oh, itu murah Non. Karena gak ada kelengkapan seperti charge, ear phone dan kotaknya." Jawab petugas toko tersebut.
"Ya, iyalah. Itu hape curian. Dia gak tau aja kalo pemilik hape itu ya aku." Desis Yuri dalam hati.
"Saya pilih ini saja Pak. Gak apa-apa gak lengkap yang penting murah." Petugas toko tersebut memberikan kotak ponsel yang mereka buat sendiri.
"Terimakasih Pak." Ucap Yuri.
Sampai asrama Yuri langsung mengisi daya ponselnya. Sambil menunggu terisi penuh, Yuri merapikan asramanya agar terlihat rapi. Sudah selesai, ia masih harus menunggu ponselnya. Dari gedung seberang terlihat Derry melambaikan tangannya.
"Tes,, Tes,," Ucap Derry dari seberang gedung.
"Gimana?" Teriak Derry. Yuri tertawa melihat tingkah Derry.
"Apa kamu sudah makan?" Teriak Derry lagi.
"Sudah." Jawab Yuri.
"Makan apa? Mie kemarin?" Tanya Derry. Yuri cukup menganggukkan kepalanya.
"Nanti kamu kerja?" Tanya Derry. Yuri kembali menganggukkan kepalanya.
"Semangat!" Derry kembali berteriak.
"Woi, berisik!" Tetangga bawah Derry dan samping sama-sama keluar dari jendela.
Yuri tertawa melihatnya. Ia langsung menutup kaca jendelanya dengan gorden. Ia kembali melihat ponselnya yang sudah hampir penuh 100%.
Jenuh memang menunggu ponselnya terisi penuh. Ia langsung duduk di tepi ranjangnya dan memegang ponselnya. Setelah 100% terisi penuh, Yuri mencabutnya dan mengutak-atik ponselnya.
Sayangnya kontak dan seluruh penyimpanannya sudah kosong. Bahkan ia lupa menyimpan nomor Kenzie yang baru di email-nya. Ia hanya mengingat nomor mamanya. Tak perlu menunggu lama, ia langsung menghubungi mamanya. Beberapa kali sempat di tolak oleh mamanya. Ia mengirimkan pesan sebelum meneleponnya kembali.
[ Ma! Ini Yuri. ] Sapa Yuri begitu mamanya mengangkat telepon.
[ Yuri kehilangan ponsel Yuri. Jadi baru sempat menghubungi sekarang. ]
[ Ini udah beli lagi kok. ]
[ Gak perlu Ma. Yuri masih ada pegangan kok. Nanti juga kalau habis Yuri pasti minta kok ke Mama sama Papa. ]
[ Mama sama Papa sehat kan? ]
[ Yuri sehat Ma. ]
[ Iya Ma, Yuri banyak makannya kok. Kan dapat makan gratis dari kampus pagi, siang sama makan malam. ] Yuri berbohong pada Mamanya agar tidak buat mereka khawatir. Karena memang biaya hidup di Singapura lumayan mahal.
[ Udah dulu ya Ma. Kenzie sudah nunggu Yuri di bawah. ] Yuri kembali berbohong. Agar orangtuanya tidak terlalu khawatir. Karena memang orangtuanya sudah percaya bahwa Kenzie pasti akan menjaga anaknya dengan baik.
Keesokkan harinya, Stella menyapa Yuri yang sudah berada di kursinya. Mereka duduk bersebelahan. Yuri langsung meminta nomor hape Stella.
"Ciye, yang punya hape." Tiba-tiba Wenda sudah ada di belakangnya. Entah kapan ia sampai ke kelas dan berada di belakangnya.
"Kemarin waktu pertama datang ke sini hape ku di curi orang. Nah, pas aku lagi cari hape bekas aku menemukan hapeku yang hilang." Jawab Yuri.
"Hapeku yang dulu hilang. Kini datang kembali pulang.] Wenda nyanyi ala Kangen.
"Kekasih Woi!" Yuri membetulkan lirik yang Wenda nyanyikan.
"Kalau kekasih kan gak ada." Balas Wenda.
"Sebenarnya sih aku ada. Tapi aku gak yakin." Jawab Yuri.
"Oh iya, Ri. Aku lupa kamu di cari Kak Andre tuh di bawah. Tadinya aku mau bilang begitu tapi keburu ada topik baru." Kata Wenda.
Yuri malas sekali untuk menghampiri Andre. Ia tidak ingin memberi harapan ke orang lain. Tapi ia juga percaya kalau Andre gak akan jatuh cinta padanya. Ia pun keluar dan menghampiri Andre.