Untitled Love

Untitled Love
Ep 65



Menyebarnya berita tersebut membuat Derry sibuk mencari si penyebar foto itu. Kenzie dan Jimmy mereka mencari Yuri di tempat yang berbeda. Tentunya hal ini membuat Jimmy terkejut. Tak hanya itu, hatinya seakan menangis melihatnya. Sedangkan Kenzie paham jika saat ini Yuri pasti sedang sedih dan malu. Ia khawatir jika kondisi Yuri kembali down.


Mereka bertiga bertemu di lantai bawah fakultas tempat Yuri belajar. Dengan ekspresi yang berbeda. Jimmy tak menyangka akan bertemu kembali dengan Kenzie. Sedangkan Kenzie dan Derry saling tatap-tatapan dengan tatapan tajam.


Jimmy merasa tidak tahu-menahu tentang hal yang satu ini. Ia menyingkir sedikit dan memberi ruang pada kedua insan manusia yang saling tatap-tatapan. Jimmy melemah karena tidak ada pukul-memukul di antara mereka. Berbeda dengan saat seperti dirinya yang tak sengaja menyakiti Yuri.


"Begini doang? payah ah." Jimmy memecahkan kekesalan mereka. Tatapan mereka kembali seperti biasa.


"Dimana Yuri?" Tanya Kenzie.


"Seharusnya kamu tahu dimana dia. Bukankah kamu mencintainya?" Jawab Derry.


Dari tempatnya berdiri, ia melihat sosok perempuan yang membuatnya kembali emosi. Kenzie meninggalkan Derry begitu saja. Jimmy pun hanya melongo melihatnya.


"Kayaknya banyak perubahan setelah sekian lama ini." Jimmy bicara pada dirinya sendiri.


Kembali ke asrama, Yuri masih bersama sahabatnya. Sejujurnya ia merasa malu. Hatinya terasa sakit melihat foto dirinya yang tersebar ke satu kampus. Tapi ia harus menyimpan perasaan itu. Ia tidak ingin terlihat lemah.


"Udahlah, kalian tuh kenapa sih? Lagi juga aku gak berbuat kejahatan." Kata Yuri.


"Memang bukan kejahatan. Tapi kan Ri, itu sama saja menjelekkan diri kamu. Dia mencoba menjatuhkan kamu." Kata Stella.


"Sudah ah, aku harus belajar. Lagi juga sebentar lagi kita Ujian Semester." Yuri kembali mengambil tasnya.


"Ri, kamu benar gak apa-apa?" Tanya Wenda.


"Kenapa sih?" Tanya Yuri begitu Wenda mengguncangkan tubuhnya.


Jam pelajaran di mulai. Yuri telah melewati mata kuliah pertama. Sejujurnya ia lelah, tidak berbuat apapun masih juga kena masalah.


Kenzie menarik tangan Yesha. Ia langsung merampas ponsel Yesha yang ada di tangannya. Kenzie melihat sesuatu yang membuatnya marah.


"Apa maksud kamu?" Kenzie memperlihatkan ke Yesha.


"Yesha! Jawab!" Ucap Kenzie dengan nada tinggi.


"Iya, aku yang menyebarnya! Aku yang gak sengaja melihat dia dan mengambil foto saat dia menjadi pemulung." Jawab Yesha.


"Argh!" Yesha teriak ketika ponselnya di banting oleh Kenzie.


"Ken!"


"Kamu keterlaluan Ken!" Ucap Yesha.


"Aku? Kamu bilang aku keterlaluan?! Seharusnya kamu berkaca Yesha!" Kenzie mendorong Yesha dengan jari telunjuknya.


"Dengan cara seperti itu, aku akan semakin membencimu!" Kata Kenzie.


Kenzie menarik Yuri dan membawanya ke Rooftop. Ya, tempat dimana hanya mereka berdua. Beberapa kali Yuri berontak agar terlepas dari genggaman Kenzie.


"Ken, lepas!" Pinta Yuri.


"Ken, sakit Ken!" Mendengar Yuri kesakitan, Kenzie beralih menggendongnya.


Sampai di Rooftop, Kenzie menuruni Yuri. Entah apa maksud Kenzie membawanya kesini. Yang ia khawatirkan, ia tidak ingin di lihat sebagai perusak hubungan orang atau apapun itu. Lamunannya terpecah ketika bibir Kenzie menempel di bibirnya.


"Kamu apa-apaan sih Ken?" Yuri mendorong Kenzie.


"Stop Ken! Kita sudah gak ada hubungan apa-apa!" Yuri kembali mendorongnya ketika Kenzie melakukan hal itu lagi.


"Ri, aku mohon kamu bisa percaya padaku!" Pinta Kenzie.


Kenzie menjelaskan hubungannya dengan Yesha. Ia mengungkapkan perasaannya pada Yuri. Apapun yang Yuri lihat tak seperti yang ia bayangkan.


"Tapi aku gak bisa Ken. Aku gak ingin berada dalam bahaya lagi. Cukup hal ini yang membuatku sakit. Aku gak ingin merasakan sakit melebihi ini." Yuri menundukkan pandangannya.


Kenzie tak banyak menjawab. Kenzie langsung memeluk Yuri. Tempat ternyaman bagi Yuri. Yuri meluapkan kesedihannya. Ia menangis di dalam pelukan Kenzie.


"Aku berjuang demi bisa bersama denganmu!"


"Aku mencari mu begitu sampai sini. Tapi ternyata aku malah melihatmu dengan perempuan lain."


"Sakit hati aku!"


"Aku takut! Bahkan aku gak berani mendekatimu, memelukmu."


Yuri meluapkan segala kesedihan yang ia pendam selama satu semester ini. Kenzie tak kuasa menahan kesedihannya mendengar keluhan Yuri. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku Ri." Ucap Kenzie.


"Kamu gak perlu takut lagi. Ada aku disini, Ri. Aku akan selalu melindungi mu." Lanjutnya.


Setelah puas menangis. Yuri menatap Kenzie yang masih setia memeluknya sambil menepuk pundaknya. Yuri membalas pelukan Kenzie. Rindu yang dulu ia rasakan, kini terobati.


"Jangan pergi dariku, Ri."


"Aku sangat-sangat mencintaimu, Ri." Kata Kenzie.


"Jangan takut, aku selalu ada di sampingmu, Ri." Lanjutnya. Yuri hanya membalas dengan senyuman.


Waktu berjalan begitu cepat. Yuri melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 03:00 sore. Yuri langsung pergi begitu saja.


"Ri, kamu mau kemana?" Tanya Kenzie.


"Aku harus pergi!" Teriak Yuri.


"Tunggu! Bukankah kamu sudah berjanji gak akan pergi." Balas Kenzie. Yuri berhenti tepat di depan pintu.


Yuri berbalik badan dan menunggu Kenzie. "Aku sudah terlambat kerja." Kata Yuri. Kenzie menariknya turun dan mengantarkan Yuri sampai ke tempatnya kerja.


"Terimakasih ya, Ken." Ucap Yuri.


"Ken? Kamu masih marah sama aku?" Tanya Kenzie. Yuri menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa masih manggil Ken?" Tanya Kenzie lagi.


"Iya, Terimakasih Zie sayang." Jawab Yuri.


Sudah ada dua pasang mata yang dari tadi melihat Yuri dengan Kenzie. Ya, mereka adalah Pak Moko dan Derry. Pak Moko menatap Derry cukup lama.


"Kenapa Pak?" Tanya Derry yang menyadari sedari tadi di tatap oleh Pak Moko.


"Kamu gak cemburu?" Tanya Pak Moko.


"Kenapa saya harus cemburu Pak?" Derry berbalik nanya.


"Loh, bukankah kamu punya perasaan pada Yuri?" Pak Moko nanya lagi.


"Hahaha, Pak Moko bisa saja." Jawab Derry.


"Memangnya terlihat ya Pak?" Tanya Derry.


"Awal memang aku langsung suka sama Yuri. Tapi, setelah di perdalam ternyata saya hanya sekedar menyukainya saja." Derry menjelaskan alasan dirinya menyukai Yuri.


"Apa bedanya cinta dengan suka? Bukankah sama saja?" Tanya Pak Moko.


"Sama halnya Bapak menyukai idola bapak. Pasti bapak memiliki alasan entah karena suara, musik, atau paras. Tapi berbeda dengan cinta, cinta itu tanpa alasan, ada rasa ingin memiliki dan ada rasa untuk ingin selalu melindungi." Jawab Derry.


"Bukankah arti Cinta itu luas ya?" Tanya Pak Moko.


"Ya, bagaimana sudut pandang kita saja Pak. Aku suka, aku sayang Tapi selayaknya seorang adik dan kakak. Gak bisa dikatakan cinta pandangan pertama. Karena cinta itu dapat di rasakan bukan hanya sekedar melihatnya saja." Kata Derry.


"Begitupun dengan Yuri, Dia nyaman dengan status pertemanan kita. Ia selalu menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjadi orang lain untuk mendapatkan perhatian dari orang sekitar." Lanjutnya.