
Pulang kuliah Stella selalu langsung pulang ke rumah. Seluruh fasilitas sudah lengkap di rumahnya. Bahkan ia sudah bosan untuk menggunakan fasilitas yang ada di rumahnya. Ia juga tidak suka belanja yang tidak penting.
Stella terlahir dari keluarga kaya. Papanya Stella meneruskan usaha orangtuanya dan Mamanya turut bekerja sama membesarkan perusahaan hingga sesukses saat ini. Anya tetap berperan sebagai ibu. Ia tetap merawat Stella dan mendidiknya. Sesibuk apapun Anya, ia tetap mengutamakan anak satu-satunya.
"Baby, kamu sudah pulang?" Tanya Anya.
"Nanti malam Mama akan kedatangan tamu. Kita akan makan malam bersama." Kata Anya.
"Siapa Ma? Tante Lidya kah?" Tanya Stella.
"Iya, kok kamu tahu?" Tanya Anya.
"Tante Lidya sama siapa kesini Ma?" Tanya Stella.
"Sama suaminya sih." Jawab singkat Anya.
"Tante Lidya gak bawa anaknya Ma?" Tanya Stella.
"Kurang tahu deh. Dia hanya bilang ingin main kesini." Jawab Anya.
Setelah Anya keluar, Stella langsung mempersiapkan dirinya. Ia sudah lama menyukai anak dari Lidya. Ia mulai maskeran dan berendam. Setelah selesai ia mengacak-acak lemari untuk mencari pakaian yang akan ia pakai nanti malam.
Selesai berdandan, Stella turun membantu Mamanya. Sambil menunggu Lidya dan keluarganya datang, Anya memastikan ruang tamunya bersih dan tertata rapi. Tak lupa ia memesan beberapa bunga untuk menghias ruang tamunya menjadi lebih cantik.
"Ma, ini bunganya mau taruh dimana?" Tanya Stella. Anya dan Stella menata bunganya.
"Cantik sekali bunganya. Sama seperti kamu sekarang. Perasaan setiap ada teman mama yang datang ke rumah tidak pernah berdandan cantik seperti ini." Kata Anya.
"Anak mama kan memang cantik." Jawab Stella sambil tersenyum pada Anya.
"Papa belum pulang Ma?" Tanya Stella.
"Sebentar lagi katanya sampai." Jawab Anya.
Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu. Jonathan keluar dari mobilnya, ia tersenyum pada Anya dan Stella yang menyambut kedatangannya. Anya memang selalu menyambut suaminya setiap pulang kerja. Sedangkan Stella memang jarang sekali menyambutnya. Ia selalu sibuk dengan pelajaran kuliahnya.
"Anak Papa tumben cantik banget." Goda sang ayah.
"Anak Papa ini memang selalu cantik. Ya kan Ma?" Jawab Stella.
"Siapa dulu Mamanya? Primadona di dunia Papa." Kata Jonathan.
"Wow, Papa gombal deh." Sahut Anya.
"Sudah sampai mana mereka Ma?" Tanya Jonathan.
"Tadi sudah dalam perjalanan kesini. Mungkin sebentar lagi mereka sampai." Jawab Anya.
Jonathan langsung mandi dan berganti pakaian. Begitu sudah rapi, Mobil Chandra sudah berhenti di depan pintu rumah mereka. Mereka langsung menyambut kedatangan tamu makan malam mereka.
"Chandra, lama tidak bertemu ya." Sapa Jonathan.
"Hai Jeng, makin cantik saja." Begitupun Anya yang menyapa Lidya.
Berbeda dengan kedua orangtuanya. Stella nampak seperti orang kebingungan. Ia mencari sosok yang ia tunggu sejak tadi.
"Mana anakmu?" Tanya Anya.
"Yang pertama nanti dia bakal nyusul kesini. Masih ada klien katanya. Terus yang kedua masih di dalam mobil. Katanya nanggung masih main game." Jelas Lidya.
Stella berhenti mencari setelah mendengar penjelasan dari Lidya. Mereka sudah berada di ruang tamu. Saat sedang asik berbincang, seorang pria masuk dan bergabung dengan mereka. Stella yang sedari tadi menunggu seseorang terkejut melihat sosok pria yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Tapi ia lebih memilih diam seakan tidak mengenalinya.
"Wah, sudah besar ya sekarang. Perasaan dulu masih suka lari-larian mengejar remote kontrol." Sahut Anya.
"Sekarang kuliah atau sudah kerja?" Tanya Anya.
"Masih kuliah, sudah semester akhir." Jawab Lidya.
"Kuliah dimana?" Tanya Anya.
"Di kampus ***" Jawab Lidya.
"Wah, kebetulan sekali Stella juga kuliah disana." Kata Anya.
"Kalian tidak pernah jumpa?" Tanya Anya.
"Kan kampus luas Ma. Lagi juga Andre kuliah untuk belajar bukan untuk Road tour." Sahut Andre.
Mereka berpindah ke ruang makan. Aldo kakak dari Andre pun datang bersama seorang wanita cantik dengan gaun merah yang manis. Stella yang tadinya senang melihat kedatangan Aldo, berubah menjadi tak bersemangat dan sedih.
Stella merasa kecewa. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Tapi pada akhirnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Stella menahan kekesalannya dan terus melanjutkan makannya.
Selesai makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Lidya mengatakan niatnya datang ke kediaman Jonathan. Lidya ingin mengundang Anya sekeluarga dalam acara pernikahan Aldo dengan wanita pilihannya.
Hati Stella seketika semakin hancur. Tidak ada lagi harapan untuk dapat bersamanya. Mood Stella berubah bosan dan kesal. Aldo memperkenalkan wanita pilihannya pada Jonathan, Anya dan Stella. Dengan sangat berat hati Stella berjabat tangan wanita yang selalu berada di samping Aldo.
"Wah selamatnya Jeng." Anya memberikan selamat pada Lidya.
"Kami hanya satu sudah dewasa. Tapi saya tidak pernah melihatnya membawa pria dan mengenalinya pada saya." Keluh Anya.
"Sama Jeng, Si Andre tuh gak pernah membawa cewek dan mengenalkan nya pada kita." Balas Lidya.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?" Usul Anya.
Sejak saat itu, setelah acara pernikahan Aldo. Mereka kembali mengunjungi kediaman Jonathan dan Anya. Maksud kedatangan mereka tentunya berbeda dengan kunjungan mereka kemarin.
Lidya berniat menjodohkan Andre dengan Stella. Mereka sama sekali tidak membantah permintaan orangtua mereka. Namun dalam hati mereka, mereka masih belum bisa menerima perjodohan yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak.
Acara perjodohan Andre dengan Stella berjalan dengan lancar. Mereka makan malam bersama dan kembali lagi kumpul di ruang keluarga. Setelah acara, Andre menemani Stella yang tiba-tiba sudah berada di samping kolam renang mereka.
"Kenapa harus kamu sih yang di jodohkan oleh aku?" Tanya Stella masih dengan menahan kesalnya.
"Siapa juga yang mau di jodohkan dengan kamu?" Jawab Andre.
"Pokoknya jangan sampai ada yang tahu tentang perjodohan ini!" Kata Stella.
"Siapa juga yang mau mengasih tahu hubungan gak jelas seperti ini." Kata Andre.
Setelah menyepakati acara perjodohan tersebut. Lidya dan Chandra pulang bersama anaknya. Mereka bahagia dengan perjodohan anak kedua mereka. Begitu juga dengan Anya dan Jonathan. Mereka bahagia bahwa anak tunggal mereka setuju untuk di jodohkan dengan Andre.
Anya mengetuk pintu kamar Stella. Setelah mendapat izin untuk masuk ke kamar anaknya, Anya pun masuk. Stella sudah berganti dengan pakaian tidur.
"Honey," Sapa Anya
"Bagaimana dengan perjodohan kamu dengan anaknya Tante Lidya?" Tanya Anya.
"Sebenarnya aku suka dengan Kak Aldo Ma. Sejak dulu aku suka dengannya." Stella mencurahkan isi hatinya.
"Jika kamu mau, kamu bisa membatalkan perjodohan ini. Mama tidak akan memaksamu." Anya mengusap rambut Stella dengan lembut.
"Stella tidak ingin mengecewakan Mama. Stella bagaimana dengan Andre saja Ma. Jika Andre bersedia, aku juga dengan senang hati untuk melanjutkan perjodohan ini." Jelas Stella pada Mamanya.