Untitled Love

Untitled Love
Ep 45



Di salah satu ballroom sudah di hiasi bunga-bunga di sekeliling Altar. Tersedia satu meja yang di kelilingi enam kursi di tengah menuju Altar. Juga ada banyak meja bulat beserta kursi-kursinya yang ikut mengisi ruangan.


Satu-persatu tamu datang dan mengisi meja sesuai nama yang tertera di kursi. Semakin banyak yang datang dan semakin terisi penuh. Tamu undangan sudah duduk di tempat mereka masing-masing.


"Kamu cantik banget Ri." Ucap Nathan.


"Berkat Kak Melani yang sudah mendandaniku." jawab Yuri.


"Memang dasarnya kamu sudah cantik Yur." balas Melani.


"Pasti orangtua kamu campuran ya?" Tanya Melani.


"Ganda campuran maksud kakak?" Canda Yuri.


"Tapi memang dia campuran Kak. Kalau kakak lihat mamanya pasti kakak bakal ngira itu kakaknya Yuri. Wajahnya awet muda banget." sahut Nathan memuji Mamanya.


"Sudahlah, kenapa harus membahas aku sih?" tanya Yuri yang mulai malu.


Tak lama, Zein keluar duduk di depan penghulu, saksi dan ayah dari mempelai wanita. Seketika tamu undangan berhenti berbicara. Acaranya pun di mulai dengan hikmat.


Selesai ijab qobul Sora keluar dengan kebaya putihnya yang tampak elegan. Sora terlihat cantik dan bersinar. Beberapa wartawan yang di undang dalam acara tersebut mulai memotret momen sekali seumur hidup Zein dan Sora.


Para tamu undangan pun bertepuk tangan saat Zein dan Sora menunjukkan kedua buku nikah mereka. Momen akad nikah pun selesai. Kini mereka berdua kembali untuk mengganti pakaian mereka.


"Cantik ya." Ucap Yuri.


"Kamu lebih cantik Ri." Puji Nathan.


"Hei, ingat Grisella." Dita mulai terganggu melihat Nathan yang selalu mengagumi Yuri.


"Apa hubungannya sama Grisella? Aku hanya berteman dengannya." Jawab Nathan.


"Hei, kita di panggil tuh untuk foto bersama." Melani menyikut lengan Dita.


Mereka berempat naik ke Altar dan foto bersama Sang Pengantin. Yuri berada di tengah antara Zein dengan Nathan. Tak lupa ia memberikan selamat pada Zein. Begitu juga dengan Zein dan Sora yang berterimakasih pada Yuri. Berkatnya mereka sampai disini.


Selesai acara, Yuri dan yang lain pulang. Mereka memarkirkan mobil bersebelahan. Dita mengeluarkan sebatang rok*k.


"Loh, mas?" Nathan kaget melihat Dita merok*k.


"Udah lama Nat. Tanya aja tuh sama Melani." Dita menunjuk ke Melani yang sedang ngobrol dengan Yuri.


"Acaranya seru ya. Tempatnya juga bagus banget." Puji Yuri.


"Kalau kita nikah nanti mau yang lebih dari ini juga aku buatkan untuk kamu Ri." Kata Nathan.


"Inget Grisella Nath. Kalau di lihat tuh dia sayang banget loh sama kamu." Jawab Yuri.


"Wih, karyawan baru aku ini pintar juga ya. Benar tuh kata Yuri, Grisella tuh cinta banget sama kamu Nath." Sahut Dita.


"Sudah yuk ah pulang!" pinta Nathan kesal.


"Kamu cantik Yur!" Puji Dita berbisik.


***


Di tengah pekerjaannya yang semakin padat. Yuri malah merasa senang setiap melihat cafe ramai pengunjung. Apalagi setiap ada orang yang ingin menyewa tempat tersebut. Yuri semakin semangat mendekorasi. Yuri akan dapat bonus di saat-saat tersebut. Semakin banyak bonus yang ia dapat maka, akan semakin cepat ia terbang ke Singapura sekalian mencari beasiswa disana.


"Nathan." Yuri menyapa Nathan yang sedang duduk di salah satu meja tamu.


"Kak, aku pinjam Yuri sebentar ya." Teriak Nathan pada Melani yang ada di meja kasir. Suara itupun terdengar sampai ruang kerja Dita.


"Ada apa Nath? aku gak bisa lama. Aku gak enak dengan yang lain." Jawab Yuri.


"Aku masih mencintaimu, Ri." Nathan langsung mengatakannya tanpa basa-basi.


Yuri terdiam, padahal selama ini dia selalu menjaga jarak pada Nathan. Ia tidak ingin Nathan masih mengharapkan dirinya. Tapi ternyata usahanya tak sesuai dengan hasilnya.


"Nath, apa aku terlalu memberi harapan padamu?" Tanya Yuri.


"Aku tidak ada maksud untuk membuatmu jatuh cinta padaku." Ucap Yuri lirih.


"Ri, beri aku kesempatan sekali ini saja." Nathan memohon.


Yuri melihat Grisella datang. Seketika perasaannya menjadi takut yang berlebihan. Ia tampak bingung dan hendak pergi. Namun Nathan menahan dirinya agar tidak pergi.


"Jangan Nath, lepas!" Yuri ketakutan.


"Nath, lepas! Aku gak bisa!" Yuri memohon dan seketika air matanya jatuh.


Nathan nampak bingung melihat Yuri ketakutan. Padahal hanya sekedar menyatakan perasaannya. Apa terdengar sangat menakutkan? Sampai membuat Yuri seperti itu.


"Ri, kamu kenapa?" Tanya Nathan.


Nathan menoleh seseorang yang baru saja masuk Cafe. Grisella masih mencari keberadaan Nathan. Nathan melepaskan genggamannya. Yuri langsung pergi ke belakangan tempat di mana ruang karyawan berada.


"Nath, kamu disini? Aku tadi nyariin kamu." kata Grisella.


"Ya, aku ingin makan disini lagi." Jawab Nathan sambil melihat Yuri pergi dengan membawa tasnya.


Seminggu setelah Nathan menyatakan perasaannya. Yuri tidak masuk kerja. Bahkan setiap Nathan ke rumah, Hani selalu mengatakan bahwa Yuri tidak ada rumah.


Malam hari Dita dan Nathan sama-sama baru sampai rumah. Mereka berbincang dahulu sebelum masuk ke rumah masing-masing. Nathan membuka obrolan lebih dulu.


"Apa Yuri masuk hari ini?" Tanya Nathan.


"Seharusnya kamu bisa lebih tahu dariku. Kenapa kamu menanyakannya padaku?" Dita bertanya kembali.


Nathan terdiam, dia tak bisa berkata kembali. Sejak awal ia membanggakan dirinya di depan Dita. Apalagi saat Nathan merasa Dita juga menyukai Yuri.


"Marsha! Aku harus tanya sama dia!" Nathan langsung mengeluarkan ponselnya.


"Siapa dia?" tanya Dita


Nathan berkali-kali mencoba menghubungi Marsha. Berkali-kali juga Marsha menolak panggilannya. Nathan sedikit frustasi, dia khawatir jika Yuri sakit atau apapun.


"Sudah aku mau masuk duluan ya Mas." Nathan lebih dulu masuk. Sedangkan Dita masih terus menatap bintang di langit.


Yuri lebih sering mengurung diri di kamar. Masih ada rasa takut untuk keluar rumah. Selama seminggu ia juga tidak keluar kamar. Mamanya atau adiknya yang selalu mengantarkan makanan untuknya.


Setiap orangtua pasti khawatir melihat perubahan dari anaknya. Begitu juga Hani, sepertinya belum terlalu lama ia melihat Yuri lemas dan pucat. Kini ia kembali melihat anaknya yang mengurung diri tanpa berkata apapun.


Bayangan waktu dimana ia pernah di bully sama kakak kelasnya sampai waktu ia harus mendapat penanganan serius akibat insiden yang ia alami. Semua masih terekam dalam otaknya. Ketika Nathan menyatakan cintanya, Ia juga tahu bahwa Grisella menyukai Nathan. Seketika dirinya takut hal buruk itu akan terulang.


"Aku gak ada maksud untuk membuatnya jatuh cinta padaku. Aku juga tidak mencintainya." Yuri menangis di dalam kamar.


"Ken, seandainya kamu ada disini. Mungkin dia tidak lagi mencintaiku. Aku merindukanmu Ken." Yuri memeluk kakinya yang terlipat.