
Marsha meminta Nathan dan Dita untuk pulang. Bukannya melarang mereka, tapi ia mengerti kondisi sahabatnya tersebut. Marsha juga ingin berbicara pada Yuri. Mereka mengikuti permintaan Marsha. Tanpa membantah Nathan dan Dita pulang bersama.
"Ri, kamu kenapa?" Tanya Marsha.
"Aku takut Sha." Pertanyaan yang sangat sensitif bagi Yuri. Ia meneteskan air matanya.
"Aku dengar semua dari Dita dan Nathan." Balas Marsha.
"Aku sangat merindukan Kenzie Sha." Kata Yuri.
"Kenapa kamu gak coba hubungi dia?" Tanya Marsha.
"Aku malu Sha. Aku sudah menuduh dia. Bahkan aku sendiri yang tidak ingin menemuinya." Jawab Yuri.
"Aku yakin disana dia juga merindukan kamu, Ri." Balas Marsha.
Pagi hari Yuri masih terlelap. Ia baru bisa tidur saat jam 5 pagi. Marsha tidur di kasur lipat yang di bawa oleh Kevin. Sedangkan Kevin tidur di sofa yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
"Vin, bangun!"
"Ken?" Kevin terbangun setelah samar-samar ia melihat wajah sahabatnya.
"Hush, jangan kencang-kencang." Ucapnya.
"Gimana keadaan Yuri?" Tanyanya.
"Dia baru terlelap tadi pagi jam 5." Jawab Kevin.
"Kenzie!" sapa Marsha yang terbangun mendengar Kevin ngobrol.
"Hush, jangan kencang-kencang." Bisik Kenzie.
Ya, Kevin menghubungi Kenzie. Ia paham jika Yuri sangat membutuhkan Kenzie. Maka ia menghubungi Kenzie saat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'Ken, Yuri sangat membutuhkan kamu.' Ucap Kevin.
'Jika kamu memang mencintai Yuri. Datanglah untuk menjenguknya. Walau itu hanya sesaat.' kata Kevin.
'Apa kamu tidak peduli dengan Yuri?'
'Hanya segitu saja cintamu?'
'Aku menyesal memberitahumu tentang kondisi Yuri.' Kevin memutuskan panggilannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku kira kamu tidak akan kesini." Ucap Kevin.
Kenzie terlihat lebih bersih dan rapi. Sejujurnya Kenzie sudah sangat lama merindukan Yuri. Hanya saja sang bunda selalu menahan dirinya. Saat libur kuliah, Ia kembali memohon pada ayahnya agar bisa membujuk bundanya untuk mengizinkan dirinya pergi ke Indonesia.
"Makin tampan saja sih kamu Ken." Puji Kevin.
"Makin kurus saja kamu Ken." Berbeda dengan Kevin yang memuji Kenzie. Marsha malah mengatakan yang sesungguhnya.
"Gimana keadaan Yuri Sha?" Tanya Kenzie.
"Ya gitu, sampai saat ini dia masih trauma." Jawab Marsha.
"Maksud kamu?" Kenzie masih kurang paham.
"Ya, kejadian terakhir dia dengan Prisa. Itu meninggalkan trauma pada Yuri. Dokter juga sudah menjelaskannya kepadaku." Jawab Marsha menjelaskan kondisi Yuri.
"Terus? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Kenzie.
"Ya, waktu itu Nathan kembali menyatakan cintanya pada Yuri. Ia merasa ketakutan, mentalnya down. Tak lama, Yuri berada di situasi yang tak tepat. Mantan kekasih si bosnya itu melihat dia sama Yuri berdua. Lalu, mantannya mengancam Yuri. Makin tambah down lah mentalnya." Jelas Marsha.
"Dia sangat-sangat butuh kamu Ken." lanjutnya.
"Tadi Tante Hani bilang, akhir-akhir ini dia kurang istirahat. Pola makannya gak teratur. Dia ingin sekali bisa nyusul kamu kesana Ken. Dia belajar setelah pulang kerja sampai larut malam." Tambahnya lagi.
Kenzie tak menyangka Yuri bisa secinta itu sama dirinya. Terakhir bertemu dia memang membuat Yuri salah paham. Tapi ternyata itu tidak membuat rasa cintanya berkurang.
Kenzie terus menatap Yuri yang masih terlelap. Kevin dan Marsha keluar untuk mencari sarapan. Sedangkan dirinya berada di samping Yuri sambil menggenggam tangan Yuri.
"Sha." Panggil Yuri.
Samar-samar ia melihat bayangan orang yang sangat ia rindukan. Yuri berkedip untuk menormalkan pandangannya. Air mata Yuri kembali keluar.
"Zie, apa itu kamu?" Tanya Yuri.
"Iya sayang, ini aku." Jawab Kenzie mengelus kening Yuri.
"Engga sayang, aku benar-benar ada disini." Jawab Kenzie.
Yuri bangun dan langsung memeluk Kenzie dengan erat. Ia sangat-sangat merindukan Kenzie. Tangisannya pecah di pelukan Kenzie.
"Aku kangen banget sama kamu Zie." Tangis Yuri.
"Aku sangat-sangat mencintai kamu." lanjutnya.
"Jangan tinggalin aku lagi Zie. Aku gak bisa tanpa kamu." Yuri masih belum ingin melepaskan pelukannya.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Ri." Balas Kenzie.
"Cintaku sama kamu tidak akan pernah berkurang sedikitpun, Ri." lanjutnya.
"Aku juga gak akan bisa tanpa kamu." Kenzie membalas pelukan Yuri dengan erat.
Mereka saling mengobati rasa rindu mereka. Bahkan berkali-kali Kenzie mengecup kedua pipi Yuri dan kening Yuri. Yuri merasa sangat bahagia bisa melihat Kenzie kembali.
"Ehem." Marsha berdehem.
"Udah sehat? udah ayo pulang sekarang." Canda Marsha.
"Marsha!" Yuri malu.
"Kamu Tahu Ken? Tiap bulan Yuri tuh langganan tidur di rumah sakit." Kata Marsha.
"Iya, waktu itu Tante Hani lagi telp sama Bunda. Kebetulan Tante Hani gak sempat matikan. Jadilah Bunda cerita kalo kamu di bawa ke rumah sakit." Jawab Kenzie.
"Jangan sakit lagi ya sayang." Kenzie kembali memeluk Yuri.
"Kalau kamu gak bisa jaga diri kamu, gimana kamu bisa jaga aku dan anak-anak kita nanti?" Tanya Kenzie.
"Kan harusnya kamu yang melindungi keluarga Ken." Sambung Marsha.
"Ya itu mah kan pasti Sha." Senggol Kenzie.
"Ehem." Kevin berdehem sedikit cemburu melihat Kenzie menyenggol kekasihnya.
"Kenapa? Ngiri? Mau juga?" Tanya Kenzie.
"Mereka tuh sekarang pacaran, Zie." Jawab Yuri.
Begitu banyak perubahan yang terjadi. Begitu juga pada mereka. Yuri dapat tertawa kembali. Ia benar-benar bahagia sekali.
Tok~
Dita datang untuk menjenguk Yuri dengan membawa buket bunga. Kenzie hanya diam memperhatikan Dita. Dalam hatinya Kenzie sangat merasa cemburu melihatnya. Tapi ia harus menahannya. Ia harus tahu lebih dulu kondisi saat ini.
"Hai Yur, gimana keadaan kamu?" Tanya Dita.
"Yar, Yur, Yar, Yur. Emangnya sayur di panggil Yur." Sahut Kenzie dengan sedikit ketua sambil tersenyum.
"Baik Pak." Jawab Yuri.
"Ini bunga untukmu. Anggap saja sebagai permintaan maaf saya." Dita menyerahkan bunga yang ia beli.
"Yah, bunga mah gak bisa di makan. Buah kek, Kue kek, apa kek." Sahut Kenzie kembali.
"Terimakasih Pak." Ungkap Yuri sambil tersenyum.
"Terimakasih Pak." kata Kenzie sambil mode mengejek.
"Maaf ya Pak, akhir-akhir ini saya lebih banyak izin." Ucap Yuri.
"Iya, Gak apa-apa Yur." Jawab Dita.
"Maaf ya Pak, Iya gak apa-apa." Kenzie kembali mengejek. Dirinya merasa sangat cemburu.
"Cepat sembuh ya, Saya harus balik lagi ke cafe." Pamit Dita.
"Cepet sembuh ya." Kenzie kembali mengejek Dita. Membuat Dita risih setiap Kenzie mengikuti omongannya.
Dita pun pergi. Berganti Marsha, Kevin dan Yuri yang sama-sama menatap Kenzie. Marsha dan Kevin tertawa melihat Kenzie cemburu. Begitu juga dengan Yuri, ia senang bisa melihat Kenzie cemburu.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Marsha.
"Hahaha, makanya jangan jauh-jauh dari Yuri. Banyak yang ngantri tuh." Lanjutnya.
Kenzie memang tidak pernah memperlihatkan rasa cemburunya.