Untitled Love

Untitled Love
Ep 84



Tak terasa Yuri sudah berhasil melewati trisemester pertama. Sejak awal hamil Yuri lebih banyak makan sehingga dokter menyarankan untuk mengurangi kadar gula. Kenzie terus memantau apa yang Yuri konsumsi.


Kenzie selalu mengantar Yuri sampai ke kelasnya. Ia juga selalu menunggu Yuri di kantin untuk melihat apa yang Yuri makan. Kenzie juga selalu memantau Yuri mengkonsumsi semua vitamin yang di beri oleh dokter.


"Enak ya yang gak perlu antri untuk mengambil makanan." Kata Stella.


Tiba-tiba Andre berdiri dan langsung mengantri. Sedangkan Stella dan Wenda masih menunggu antrian kosong. Teman-temannya bingung melihat Andre mengantri lagi padahal makanannya masih banyak dan baru sesuap ia makan.


"Wen, ayo kita antri sekarang saja." Ajak Stella.


"Sebentar dulu ah. Aku masih capek banget nih." Keluh Wenda.


Tak lama Andre datang sambil membawa Tray berisi menu makan siang hari ini. Andre duduk dan meletakkan tray tersebut. Ia memberikan langsung ke hadapan Stella.


"Makan!" Ucapan singkat Andre yang menjadi pusat perhatian teman-temannya dan juga Wenda serta Yuri.


"Ehem, tumben banget si Andre. Ada sesuatu yang terlewatkan kah?" Tanya Darren.


"Terus aku antri sendiri dong?" Tanya Wenda.


"Nih untuk kamu." Stella menggeser Tray yang di berikan oleh Andre.


"Gak apa-apa, aku antri saja. Lagi juga sudah mulai kosong tuh. Tunggu ya!" Wenda langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung lari untuk mengantri.


Akhirnya Stella memakan menu makan siang yang sudah di bawakan oleh Andre. Diam-diam Andre memperhatikan Stella yang sedang makan. Andre membagi makanannya pada Stella. Tentunya hal itu kembali menarik perhatian teman-temannya.


"Aduh, sakit woi!" Teriak Darren yang mencoba mengambil makanan Andre.


"Makan makanan kamu sendiri!" Andre memukul tangan Darren.


Melihat Andre dan Darren bertengkar kecil, Stella menghentikan makannya sejenak sambil memperhatikan keduanya bertengkar. Stella pun memberikan makanan yang di berikan oleh Andre pada Darren. Tapi Andre tidak senang dan mengambilnya kembali, lalu menaruhnya ke piring Stella.


"Makan sekarang atau~" Belum sempat menyelesaikan omongannya. Stella sudah langsung memakannya.


"Ah sudahlah, sebenarnya ada apa lagi sih ini." Darren frustasi sendiri.


"Ya sudahlah, gak usah mikirin juga. Kepo banget sih kamu." Kata Dimas.


"Kenzie protektif banget sama istrinya, belum lagi Dimas sama Laras mesra-mesra an gak ingat tempat, sekarang Andre yang bersikap aneh." Keluh Darren.


"Terus kamu iri sama kita? Pacar di cari sana! Betah banget sendiri." Balas Dimas.


"Sudah Dim, gak usah di dengar keluhan netizen. Nanti juga kalo punya pacar lupa sama kita kayak dulu." Sindir Kenzie.


"Tuh sama temannya Yuri tuh yang di ujung." Kata Dimas.


"Kenapa?" Tanya Wenda begitu semua pandangan tertuju pada dirinya.


"A~aku sudah punya pacar! Jangan lihat-lihat seperti itu! Nanti pacarku marah!" Tegas Wenda sambil menunjukkan garpunya.


"Yah, sudah punya ternyata, Ren. Sabar ya." Kata Dimas.


Selesai makan, Yuri dan teman-temannya kembali ke kelas mereka. Tersisa Kenzie, Andre, Darren dan Dimas. Laras juga sudah kembali ke kelasnya bersama dengan temannya. Mereka mulai merapatkan tempat duduk mereka.


Kenzie dan Dimas mulai menatap Andre. Mereka seakan ingin mendengar info terbaru tentang Andre. Andre cukup membalasnya dengan sesaat dan melanjutkan menghabiskan sisa makanannya.


"Kenapa sih? Ada apa?" Tanya Andre.


"Masalah tadi? Aku hanya berbagi saja. Aku lihat dia sangat menyukai makanan itu. Makanya aku kasih lagi." Jawab Andre.


"Gak, gak gitu sih aku yakin." Dimas masih belum percaya.


"Terus kalau gak gitu, maunya gimana dong?" Tanya Andre.


"Memangnya aku seperti apa sih? Perasaan aku begini-begini saja." Jawab Andre.


"Wah, sayang ya menu yang ini aku berikan untuk Yuri. Ternyata enak juga ya." Kenzie mengambil makanan milik Andre menggunakan sumpitnya.


"Enak saja! Ambil lagi sana. Itupun kalau di kasih sama ibu-ibunya." Andre menahan sumpit Kenzie dan menjatuhkan makanannya ke piringnya lagi.


"Nah, itu salah satu contoh gimana kamu yang sebenarnya. PELIT!" Kata Dimas.


"Tapi ini tadi kamu secara sukarela tanpa di minta kamu memberikannya ke Stella. Tapi ketika ~" Perkataan Dimas terhenti.


"Ketika Stella memberinya ke aku. Kamu malah marah dan mengambilnya lagi." Sambung Darren.


"Ya kan niatnya aku mau berbagi ke Stella." Mereka saling membuat Andre terpojok. Beruntungnya ketika ada satu teman kelas mereka yang mengatakan bahwa dosen mereka sudah datang.


Sepulang kuliah, Stella mengajak teman-temannya datang ke rumah. Sebelum berangkat Yuri lebih dulu izin pada sang suami. Setelah mendapat izin mereka baru berangkat ke rumah Stella. Sudah ada supir yang menunggu mereka di depan kampus.


Sampai di depan rumah Stella, Wenda dan Yuri sudah di sambut oleh beberapa pelayan. Begitu juga dengan Anya, ia menyambut anaknya pulang dengan pelukan. Wenda dan Yuri pun di sambut ramah oleh Anya.


"Kalian teman-temannya Stella ya?" Tanya Anya.


"Iya Tante, saya Wenda dan ini Yuri." Jawab Wenda.


"Kamu menantunya Pak Ishan ya?" Tanya Anya.


"Pak Rama Ishan?" Tanya Yuri. Anya menganggukkan kepalanya.


"Iya Tante, kok Tante bisa tahu?" Tanya Yuri lagi.


"Waktu pernikahan kalian kan Tante hadir sama Papanya Stella." Anya menceritakan kedekatannya dengan keluarga Kenzie.


"Mama kok gak ngasih tahu Stella?" Stella cemberut.


"Kan mama gak tahu kalau ternyata menantunya pak Ishan itu teman kamu." Jawab Anya.


"Ehem," Wenda berdehem mendengar perbincangan tiga orang di depannya.


"Masuk yuk, kita ngobrol di dalam. Gimana kuliah kalian?" Tanya Anya.


"Ya begitu sajalah Tante, gak ada yang spesial." Jawab Wenda.


Setelah berbincang-bincang, Stella mengajak teman-temannya ke kamarnya. Kamarnya berada di lantai 2. Mereka tidak perlu capek-capek menaiki anak tangga dan berjalan ke kamar Stella. Sudah ada lift yang mengantar mereka sampai ke lantai 2 dan tidak jauh dari lift mereka sudah sampai di depan kamar Stella.


Dari depan saja Desainnya sudah terlihat mewah. Bahkan pintunya menggunakan password. Begitu pintu kamar terbuka, Wenda sangat takjub melihat isi kamar Stella yang terlihat seperti hotel bintang lima.


"Stella, ini kamar kamu? Kamar atau apartemen nih? besar banget." Wenda main masuk dan melihat isi kamar Stella.


"Ya ampun Stella, ini bathtub Nya nyaman banget." Wenda terus memuji.


"Oh my God! Ini ruangan udah kayak toko wanita saja. Baju, tas, sepatu tertata rapi seperti ini. Kamu jualan online atau gimana?" Kata Wenda.


"Permisi Nona, ini teh dan cookies mau di letakkan dimana?" Kata sang pelayan.


"Taruh di sana saja." Jawab Stella menunjuk meja kecil yang ada di teras kamarnya.


"Sudah?" Tanya Stella.


"Kamu enak banget sih. Mama kamu butuh anak angkat tidak?" Tanya Wenda.


"Terkadang semua yang enak di lihat orang. Belum tentu sama dengan yang rasakan orang itu." Kata Stella.


"Jadi, kamu bersyukur dengan apa yang kamu punya saat ini. Jika kamu mau, kamu bisa memilih semua." Kata Stella.