Untitled Love

Untitled Love
Ep 91



Sudah dua Minggu setelah Yuri melahirkan. Selama itu juga Derry berjuang mencari pekerjaan baru. Di hari terakhirnya bekerja, Derry mengajak Yuri dan Pak Moko makan bersama di depan Swalayan.


"Derry, kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" Tanya Pak Moko.


"Saya yakin Pak. Saya sangat mencintai Kaira. Saya rela mengorbankan apapun demi dirinya." Jawab Derry.


"Aku yakin ayah itu sebenarnya baik." Kata Yuri.


"Iya, Ri. Aku paham kok kalau beliau seperti itu. Itu demi kebaikan Kaira juga." Kata Derry.


Pak Moko masih belum mengerti dengan yang mereka obrolkan. Karena Derry resign dengan alasan lain. Pak Moko masih belum tahu benar tentang hubungan Derry dengan putri atasannya.


"Kaira itu anaknya Pak Rama kan? Waktu acara dia juga ada." Tanya Pak Moko.


"Kalian jangan diam-diam membicarakan mereka. Gak baik, apalagi kalau mereka tahu." Lanjutnya.


"Iya Pak, kami tidak akan membicarakan yang macam-macam tentang mereka." Kata Derry.


"Semangat ya Derry. Aku yakin kamu bisa kok." Kata Yuri.


"Iya, Ri. Aku sudah menaruh lamaran di beberapa rumah sakit. Kebetulan besok ada panggilan interview. Kalau nanti aku berhasil dan di terima kerja disana. Aku akan langsung melamar Kaira hari itu juga dan aku akan menikahinya saat nanti aku mendapat gaji pertama." Kata Derry. Pak Moko tersendat mendengarnya.


"Ka~kamu mau melamar anaknya Pak Rama? Kamu yakin? Kamu gak takut di tolak oleh dia dan Pak Rama?" Tanya Pak Moko dengan nada tinggi karena terkejut.


"Loh?" Yuri bingung.


"Sebentar Pak, sebenarnya alasan Derry resign itu apa sih Pak?" Tanya Yuri.


"Gak tahu tuh. Katanya dia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Ternyata baru mau interview besok. Tapi Saya doakan semoga interview nya lancar dan bisa segera di terima." Jawab Pak Moko.


"Jadi begini Pak, alasan yang sebenarnya Derry resign itu~" Yuri melirik sesaat ke Derry.


"Ada apa? Kok malah lirik-lirik kan sih? Kamu gak apa-apa kan Derry?" Tanya Pak Moko.


"Gak Pak, saya baik-baik saja. Jadi alasan yang sebenarnya itu," Derry menjelaskan yang sebenarnya pada Pak Moko.


"Apa? Jadi kamu dan anaknya Pak Rama berpacaran?" Tanya Pak Moko terkejut. Derry melanjutkan penjelasannya.


"Saya akan dukung kamu seratus persen atau kamu perlu bantuan saya?" Tanya Pak Moko.


"Saya punya beberapa teman yang bekerja di rumah sakit. Kamu mau saya bantu?" Tanya Pak Moko lagi.


"Tidak pak, tidak perlu repot-repot. Saya akan berusaha sendiri untuk membuktikan bahwa saya sungguh-sungguh." Jawab Derry.


Keesokan harinya, Yuri sedang mengumpulkan ASI-nya dan menaruhnya di lemari sterilisasi. Hani sudah menyiapkan makanan untuk Yuri. Selama libur kuliah, Kenzie bekerja dengan ayahnya. Namun hari ini mereka sedang bersantai. Hanya perlu pantauan dari jarak jauh saja.


Ada lima rumah sakit, belasan swalayan dan dua Mall yang di miliki oleh keluarga Ishan. Rama juga tidak ada niat untuk menambahnya lagi. Karena memang anak mereka tidak terlalu berminat di bidang tersebut. Sehingga Rama tidak ingin menambahnya lagi.


"Ma, Nanti kita ke rumah Bunda yuk. Bunda kangen katanya sama Devan." Ajak Kenzie.


"Iya Pa, tapi nanti aku ada perlu sebentar." Kata Yuri.


"Ada apa sayang?" Tanya Kenzie.


"Kemarin Derry cerita kalau hari ini dia ada interview di rumah sakit." Jawab Yuri.


"Aku gak tanya lebih jelasnya tapi setahu aku nama rumah sakitnya itu Sans Hospital Deh kalau gak salah." Jawab Yuri.


"Kamu yakin?" Tanya Kenzie. Ia langsung mencari ponselnya dan berbincang sesaat pada kakaknya.


"Memangnya Derry gak tahu kalau rumah sakit itu milik Ayah?" Tanya Kenzie.


"Hah? Serius?" Yuri juga ikut terkejut.


"Wah gawat nih kalau Ayah tahu. Khawatirnya Derry akan di tolak. Ayah itu kalau tidak suka sama orang pasti ada saja kelakuannya." Kata Kenzie.


"Menurut kamu Ayah gimana ke Derry?" Tanya Yuri.


"Ya, kamu kan tahu sendiri apa yang di katakan oleh Ayah kemarin." Jawab Kenzie.


"Iya sih, tapi aku percaya kok sama Ayah." Kata Yuri.


"Memang seorang Ayah pastinya tidak ingin sembarang menyerahkan anak perempuannya begitu saja pada orang lain." Lanjutnya.


"Kok istriku pintar sih?" Goda Kenzie.


"Anak Papa, kamu dengarkan? Mama kamu pintar sekali. Padahal waktu jaman sekolah, Papa lebih pintar loh dari Mama kamu." Adu Kenzie pada anaknya yang masih bayi.


"Apa sih kamu? Devan juga masih belum ngerti kamu ngomong apa." Kata Yuri.


Mereka terus mengagumi anak pertama mereka sambil sibuk dengan gadgetnya. Berita tentang mereka sudah berada di pencarian teratas. Kenzie asik membaca berita tentang mereka. Ada saja berita yang menyimpang dan ada juga beberapa komentar negatif tentang mereka. Kenzie tak menanggapi itu semua. Ia juga sempat membalas beberapa komentar baik yang positif maupun komentar negatif.


Saat makan siang, Yuri pamit pada orangtuanya untuk pergi ke rumah orangtua Kenzie. Awalnya Hani ingin sekali ikut, tapi suami dan anaknya belum pulang bekerja. Yuri menggendong putra mereka sampai masuk ke dalam mobil.


"Devan sayang, kita main ke rumah omah dan opah Ishan ya. Omah sama Opah sudah kangen banget katanya sama Devan." Kata Kenzie.


"Devan senang tidak?" Tanya Yuri.


Sampai di rumah keluarga Ishan, Naomi sudah berdiri di depan pintu bersama sang suami. Yuri mulai merapikan pakaiannya dan juga Devan. Mereka langsung di sambut oleh Naomi dan Rama.


"Cucu Omah datang! Sini sayang, sama Omah yuk. Kasihan Mama kamu capek mangku kamu sepanjang jalan ya." Kata Naomi.


"Bunda bisa saja deh." Goda Kenzie.


"Yuri, kamu makan dulu sana sama Kenzie. Bunda tadi sudah minta buatkan makanan kesukaan kamu loh. Baik juga untuk ASI." Kata Naomi.


Kenzie yang sudah lapar langsung duduk dan menyantap makan siang mereka. Naomi membawa Devan ke kamar yang sudah di buat untuk cucu mereka. Selesai makan, mereka menyusul Devan ke kamarnya.


Di kamarnya Devan sedang terbangun sambil memegang sebuah mainan kecil. Sedangkan Naomi sudah ikut tertidur pulas di samping Devan dengan posisi duduk. Rama masih berada di ruang kerjanya. Kenzie menyusul Ayahnya sedangkan Yuri masuk ke kamar Devan untuk bersantai sejenak sambil mengajak anaknya bermain.


Beberapa saat Yuri fokus dengan ponselnya. Ia tersenyum sambil menatap ponselnya tersebut. Lalu ia kembali bermain dengan sang anak.


"Yuri, kamu sudah makan?" Tanya Naomi.


"Bunda maaf, jadi kebangun deh tidur Bunda. Bunda tidur disini saja. Tukar sama Yuri, gak baik tidur di lantai begitu." Kata Yuri.


"Gak apa-apa sayang. Justru hanya melihat senyuman Devan, Omah jadi segar lagi deh." Kata Naomi.


"Iya Omah sayang, Omah sehat selalu ya." Yuri memberi pelukan untuk mertuanya. Ia berterimakasih mertuanya sudah baik sekali padanya.