
Yuri bersiap untuk kembali kerja. Ia juga tak lupa untuk sarapan. Mamanya dan adiknya saling bertatapan. Sedangkan dirinya dan sang ayah menikmati nasi goreng buatan Hani.
"Pa, lihat anak kita." bisik Hani sambil menyikut lengan suaminya.
"Kenapa Ma? Keenan? Kenapa dia? ribut sama temannya?" Indra ikut berbisik.
"Bukan Keenan Pa. Itu loh Yuri, kemarin mengurung diri terus di kamar, sekarang dia keluar tanpa sepatah kata." Bisik Hani lagi.
"Bagus dong, sekarang udah mau keluar rumah." Jawab Indra.
"Ah iya Ri, kemarin teman kerja Papa bilang katanya bulan depan ada program beasiswa ke Singapura." Ucap Indra.
"Wah serius Pa? persyaratannya apa Pa? Tapi kira-kira aku bisa gak ya?" Tanya Yuri.
"Nanti Papa tanyakan lagi ya." Jawab Indra.
"Masalah bisa gak bisanya itu tergantung kamu Ri. Kalau kamu niat, yakin kamu bisa ya pasti bisa. Tapi kalau kamu sudah pesimis duluan dan gak mau usaha ya terima nasib." Lanjut Indra.
"Siap Pa, Yuri bakal usaha dan semangat belajarnya. Terimakasih ya Pa informasinya." Ungkap Yuri.
"Gak nyangka ya kamu sudah besar sekarang. Maafkan Papa ya Ri, Papa gak bisa membiayai kamu sampai sekolah tinggi." Tak terasa Indra meneteskan air mata.
"Papa apa sih? pagi-pagi sudah melow. Lagi juga kan sekarang Yuri udah punya penghasilan sendiri. Yuri senang kok bisa bantu Papa. Papa tenang saja ya." Ucap Yuri.
Ting~ Nong~
"Pagi-pagi siapa yang bertamu tuh?" Tanya Hani.
"Biar aku yang lihat." Keenan berdiri dan keluar rumah.
"Kak, di cari bosnya tuh." Keenan masuk dan langsung memanggil Yuri.
Yuri masih tidak tahu bahwa bos nya sudah mengetahui Nathan mengungkapkan cintanya pada Yuri. Ia menganggap itu adalah hal wajar jika bos datang setelah karyawannya seminggu tidak masuk. Yuri terburu-buru menghabiskan makannya.
"Suruh masuk saja dulu Ken. Biar sarapan bareng dulu disini." Pinta Hani.
Keenan kembali keluar dan mengajak Dita masuk ke dalam rumah. Pertama kalinya Dita masuk ke rumah Yuri. Rumah sederhana yang terasa hangat.
"Wah, maaf nih rumah masih berantakan." Hani menghampiri Dita.
"Gak apa-apa Tante, saya ingin menjenguk Yuri." Ucap Dita.
"Sarapan dulu sini yuk. Tante buat nasi goreng nih." Hani menarik Dita untuk duduk di sebelah Yuri.
Kedua kalinya Dita makan bersama Yuri. Saat pertama kali di rumah sakit dan kini di rumahnya. Niat ingin menjenguk jadi mendapat bonus lebih.
"Kebetulan Yuri juga sudah rapi buat kerja. Maafkan anak kami ya Nak. Yuri akhir-akhir ini memang sedang lemah." Ucap Hani.
"Kak, aku boleh bareng gak? lumayan kan hemat ongkos." Keenan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Berangkat sendiri! Laki tuh gak boleh malas!" Yuri menepuk kepala Keenan.
"Ah, coba aja ada Kak Kenzie. Pasti aku bakal di antar nih sama dia." Keenan melemas.
"Sudah gak apa-apa Yur. Lagi juga masih lama jam buka Cafe." Dita ingin mengambil hati adiknya Yuri.
"Yes! Kan, yang punya mobil aja ngizinin. Masa kakak engga! Dasar pelit!" Ejek Keenan.
"Uang jajan Kakak potong! Kan berangkat gak perlu naik angkutan umum. Jadi anggap saja kamu tetap bayar angkot." Yuri mengambil selembar lima ribu yang ada di saku bajunya Keenan.
"Dasar pelit!" Keenan menyusul Dita yang sudah menunggu mereka sambil menyaksikan mereka bertengkar.
Yuri duduk di sebelah Dita. Sedangkan Keenan masih asik berfoto di belakang. Sambil meng-upload hasil fotonya.
"Sudah sampai Tuan Keenan Ananda Irawan!" Sindir Yuri pada adiknya.
"Kak, balikin dulu uang jajan aku!"
"Turun gak!" Yuri membesarkan kedua matanya.
"Pelit banget sih!" Keenan membuka pintunya.
"Ken!" Panggil Dita.
"Ini buat kamu jajan." Dita mengeluarkan uang selembar berwarna merah.
"Keenan! balikin!" Pinta Yuri.
"Keenan! Awas ya! Kakak gak akan ngasih kamu uang selama seminggu!" Teriak Yuri tepat di kuping Dita.
"Sudah Nyonya? Kuping saya meringis kesakitan nih!" Ucap Dita.
"Eh, maaf Pak." Ungkap Yuri.
"Yang tadi nanti Bapak potong saja gaji saya ya." Pinta Yuri.
Mereka kembali pergi menuju Cafe. Tepat jam 08:00 Cafe sudah buka dan sudah rapi. Melani menyambut mereka dengan senyuman. Sedangkan Meri menyambut Yuri dengan rasa iri. Yuri langsung memasang celemek dan menghampiri Fitri dan Melani.
"Kamu kemana saja Yur?" Tanya Melani.
"Akhir-akhir ini aku gampang sakit Kak. Maaf ya Kak aku banyak izinnya." Jawab Yuri.
"Kamu kenapa gak bilang? Kan bisa aku jenguk." Balas Melani.
Yuri kembali bekerja. Ia berharap hari ini tidak bertemu dengan Nathan. Ia masih belum siap untuk bertemu dengan Nathan.
"Ditanya ada?" Tanya seorang gadis.
"Dengan siapa ya?" Tanya Yuri.
"Saya Audrey" Jawab Gadis itu.
"Yuri, kamu lanjutkan saja kerjanya ya. Biar saya yang memanggil Dita." Ucap Melani yang menghampiri mereka.
Melani keluar ruangan bersama Dita. Dengan ekspresi malas, Dita duduk di depan Audrey. Terlihat ekspresi Melani yang menahan rasa cemburu melihat Dita dengan Audrey.
"Dor!" Yuri mengagetkan Melani.
"Kamu ngagetin saja sih Yur!"
"Kakak sih melamun saja. Kakak cemburu ya melihat Pak Dita dengan cewek itu?" Canda Yuri.
"Menurut kamu aku salah gak punya perasaan lebih ke dia?" Tanya Melani.
Pertama kalinya Melani mau mencurahkan isi hatinya pada orang lain. Ia juga menjelaskan perasaannya. Yuri mendengarkan cerita Melani.
Sudah sangat lama Melani menyukai Dita. Tapi tak pernah ia mengungkapkan perasaannya itu. Itu salah satunya kenapa Melani membela-belain untuk membantu Dita mengurus Cafenya. Melani juga yang selalu mendukung Dita sampai ia berhasil membangun Cafe dan berjalan dengan baik.
Dita masih tetap tak mengerti tentang perasaan Melani padanya. Dita hanya menganggap Melani sebagai sahabatnya. Selama itu Melani memendam perasaannya.
"Aku pernah berada di posisi Pak Dita. Ada seseorang yang mencintaiku sangat lama." Kata Yuri.
"Oh, yang akhir-akhir ini suka mencari kamu ya?" tanya Melani.
"Mencari aku? Siapa?" Yuri berbalik nanya.
"Itu, yang kemarin ngasih surprise ke kamu." Kata Melani.
"Oh Nathan, ya dia memang mencintaiku sejak kita SMA. Tapi aku menolaknya karena seseorang." Jawab Yuri.
Yuri juga menceritakan kisahnya dengan Kenzie. Bahkan sampai saat ini hubungannya masih menggantung begitu saja. Yuri juga menceritakan kesalahpahaman Nya pada sang kekasih.
"Oh, jadi kamu sudah punya pacar?" Tanya Melani.
"Kalau begitu aku tenang." lanjutnya.
"Maksud kakak kenapa?" Tanya Yuri.
"Kakak suka sama Nathan?" Tanyanya lagi.
"Bukan hanya Nathan. Tapi aku yakin Dita juga menyukaimu." Jawab Melani.
"Apa?" Yuri gak menyangka. Air matanya langsung mengumpul.
"Ri, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Melani.
"Kak, percaya sama aku ya. Aku gak akan rebut Pak Dita dari Kakak. Aku juga gak menggoda Pak Dita." Yuri memohon apapun ia ucapkan Pada Melani sambil meneteskan air matanya.
"Ri, kamu kenapa?" Melani bingung.