Untitled Love

Untitled Love
Ep 47



Audrey Nathania, mantan kekasih Dita yang masih mengharapkan untuk bisa balikan dengan Dita. Audrey masih tidak menerima keputusan Dita. Audrey juga tidak ingin melepaskan Dita begitu saja.


"Audrey! Keputusan aku sudah bulat! Kamu sudah berani bermain di belakangku. Apalagi orang itu adalah sahabat aku sendiri!" Ungkap Dita.


"Aku mohon Dita. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya." Audrey terus memohon pada Dita.


"Lebih baik kamu pergi sekarang! Cafe ku sudah mulai padat. Jika kamu masih disini, kamu membuatku rugi!" Dita mengusir Audrey.


"Aku gak akan begitu saja melepaskan kamu, Dita!" Audrey kesal. Ia mengambil tasnya dan langsung keluar dari Cafe.


Di ruang karyawan, Melani memeluk Yuri. Yuri menjelaskan bahwa dirinya takut jika Melani akan berbuat jahat pada dirinya. Sama seperti yang ia rasakan saat zaman SMA. Tapi ternyata, Melani bukanlah orang yang seperti itu. Dia terus memendam perasaannya pada sahabatnya. Bahkan ia rela melihat Dita bersama wanita lain. Sama seperti Kenzie yang memendam perasaannya pada Yuri.


"Yur, aku bukan orang yang seperti itu. Kamu lihat kan Audrey? Sebelum ada dia aku lebih dulu mencintai Dita. Tapi Dita bahagia bersamanya, aku gak bisa melarangnya untuk bahagia." Ungkap Melani.


Pulang kerja, Dita menunggu Yuri pulang. Sialnya Audrey kembali datang menemui Dita. Yuri tidak dapat menghindar dari amukkan Audrey.


Plak~


"Jadi karena dia kamu memutuskan hubungan kita?" Tanya Audrey.


"Dia tidak ada hubungannya dengan kita. Seharusnya kamu sadar! Aku memutuskan mu karena ulahmu sendiri!" Dita kesal melihat Audrey menampar pipi Yuri.


Seperti orang yang baru bangun dari tidurnya. Yuri terkejut mendapat tamparan tiba-tiba dari Audrey. Air matanya mengalir keluar.


"Kamu! Aku akan membuatmu menyesal karena kamu sudah merebut Dita dariku!" Yuri terdiam, bagaikan Sambaran petir tepat di hadapannya. Audrey pergi begitu saja.


"Yur, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Dita.


"Yur!" Dita menepuk kedua pundak Yuri.


"Aku ingin pulang!" Yuri melangkah pergi.


"Tunggu!"


"Biar aku antar." Dita menahan tangan Yuri.


"Aku ingin sendiri." Yuri menarik tangannya dari genggaman Dita.


Awalnya Yuri ingin mencoba melawan ketakutannya, melawan traumanya. Tapi setelah mendengar perkataan Audrey, Yuri kembali merasa ketakutan. Ia berjalan dengan penuh kewaspadaan.


Setiap langkah ia selalu melirik ke sekeliling. Kondisi malam terasa semakin sunyi karena hujan deras, membuat ketakutan Yuri semakin bertambah. Ia terus menangis sepanjang jalan. Sudah setengah jam Yuri berjalan di tengah hujan deras melanda. Sampai ketika sebuah cahaya mobil yang menyorot dari belakangnya.


"Argh! Tidak!" Teriak Yuri ketika mobil tersebut membunyikan klaksonnya.


"Jangan mendekatiku!" Yuri berjongkok ketakutan ketika ia mendengar suara pintu mobil tertutup.


"Jangan! Jangan sentuh aku! Jangan sakiti aku! Aku mohon!" Yuri semakin ketakutan saat mendengar suara langkah kaki semakin mendekatinya.


Yuri semakin kacau. Pikirannya terlalu di selimuti oleh ketakutannya. Bahkan tangisannya semakin kencang.


"Yur! ini aku. Kamu kenapa?" Tanya Dita sambil memegang payung hitamnya.


"Jangan! Jangan sentuh aku!" Yuri semakin takut melihat Dita.


"Pergi! Jangan mendekatiku! Aku tidak ada niat merebut mu!" Kata Yuri.


"Aku antar kamu pulang ya." Dita mencoba untuk mengangkat Yuri.


"Jangan mendekat atau aku akan~" Yuri sedikit mengancam.


Yuri jatuh pingsan di hadapan Dita. Dita langsung membawa Yuri masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dita menghubungi Nathan untuk mengabarkan ke orangtua Yuri. Mendengar kabar Yuri pingsan, Nathan tidak menunggu lama ia langsung berangkat ke rumah sakit. Begitu juga dengan Marsha, ia langsung ke rumah sakit bersama Kevin. Saat itu Nathan sedang mengobrol dengan Marsha via telepon.


"Yuri dimana?" Tanya Marsha pada Nathan begitu sama-sama sampai rumah sakit.


"Dia ada di lantai dua, di ruang sakura." Nathan, Marsha dan Kevin dengan cepat naik tangga ke lantai dua. Akan memakan waktu lama karena lift masih berada di lantai atas gedung.


"Gimana keadaan Yuri?" Nathan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Dita menjelaskan kronologi yang tidak ia pahami sejak awal sampai ketika Yuri jatuh pingsan. Marsha yang memahami kondisi Yuri akhirnya ia menceritakan apa yang di alami Yuri saat ini. Ia merasa sedih melihat sahabatnya masih terkurung dalam traumanya.


"Kejadian dulu selalu membekas di memori Yuri. Dokter juga mengatakan bahwa dia akan mengalami trauma. Kita semua sudah membujuk Yuri untuk mengikuti terapi. Tapi ia menolak. Karena memang biaya terapi yang akan menambah beban ayahnya. Ia tidak ingin membuat ayahnya kesulitan." Jelas Marsha.


"Itu kenapa saat Nathan menyatakan cintanya lagi ia memilih mengurung diri. Ia takut masa lalunya kembali. Belum pulih mentalnya, sudah di tambah dengan ancaman seperti itu." Lanjutnya lagi.


Nathan dan Dita sama-sama menatap Yuri yang masih belum terbangun dari pingsannya. Semenjak keluar dari rumah sakit, Yuri kembali memforsir dirinya. Apalagi saat ia mendapat kabar beasiswa ke Singapura.


Yuri sepulang kerja langsung belajar hingga larut malam bahkan Yuri tidur hanya 3 jam dalam sehari. Ia juga menghemat pengeluaran, Ia terkadang memilih jalan kaki yang perlu memakan waktu satu jam.


Tak lama, Hani, Indra dan Keenan datang ke rumah sakit. Hani sangat khawatir sekali dengan kondisi anaknya. Rasanya baru kemarin Yuri berada di rumah sakit. Kini ia harus kembali ke rumah sakit.


"Mama, Papa." Ketika Yuri membuka mata, Ia melihat Hani yang menangis melihatnya.


"Mama kenapa nangis?" Tanya Yuri.


"Mama sayang sekali sama kamu, Nak!" Hani memeluk anak pertamanya.


Hani tak kuasa melihat anaknya. Sejak kecil ia jarang sekali sakit. Bahkan ia tidak pernah menginap di rumah sakit. Cukup dengan obat yang di beli di apotik saja Yuri sudah sehat kembali.


Kini ia menjadi lebih sering menemani anaknya menginap di rumah sakit. Ia harus melihat anaknya tertidur dengan selang infus yang menggantung. Ia juga harus sering melihat anaknya melamun saat di rumah sakit.


Sampai larut malam, Marsha menawarkan diri untuk menemani Yuri. Nathan dan yang lain turut ikut menemani Yuri. Mereka meminta orangtuanya Yuri untuk istirahat di rumah.


"Tante, sudah larut malam. Biar kami yang menjaga Yuri. Kami juga pastinya akan menghibur Yuri. Besok Tante bisa kesini lagi menemani Yuri." kata Marsha.


"Benar kata Marsha Ma. Mama juga harus jaga kesehatan agar bisa merawat Yuri dan Keenan." kata Indra.


"Kalau ada apa-apa kabarin Tante ya Sha." Pinta Hani.


"Terimakasih kalian sudah mau menemani Yuri dan menghibur Yuri." Hani terharu melihat teman-teman Yuri yang begitu peduli pada anaknya.


"Iya Ma, Mama pulang saja ya. Yuri kan ada Marsha yang mau nemani Yuri." Kata Yuri.