
Sudah berjalan lima bulan usia kandungan Yuri. Mereka sudah tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Sampai di rumah sakit, mereka check up dan konsultasi karena di hamil yang kedua ini, Yuri menjadi cepat lelah. Ia juga merasa mudah lapar, anehnya makanan yang tidak di sukai Yuri sekarang menjadi favoritnya. Sebelumnya ia tidak suka makanan berbau kentang, wortel dan beberapa makanan seafood.
"Ini hasil pemeriksaan hari ini Pak Ken dan Nyonya Yuri." Dokter tersebut memberikan satu amplop putih berukuran sedang.
"Ayo sayang, cepat di buka! Aku sudah tidak sabar." Ucap Yuri.
"Kamu penasaran ya? Sama aku juga." Kata Kenzie.
"Gimana kalau kita adain acara Gender Reveal? Buat seru-seruan sekalian merayakan kehamilan anak kedua kita." Tanya Kenzie sambil mengambil amplopnya.
"Gak usah ah sayang. Aku tuh sudah tidak sabar." Jawab Yuri.
"Setuju ya, oke acara kita adakan di hari Sabtu ini." Kata Kenzie.
Mereka mengurungkan niatnya untuk membuka amplop tersebut. Sepanjang perjalanan Yuri menghubungi sahabat terdekatnya dan seluruh keluarga untuk mengundang ke acara Gender Reveal. Yuri juga mencari EO yang bagus untuk acara mereka.
Yuri pergi ke butik bersama Keenan. Mereka pergi ke salah satu Mall milik keluarga Ishan. Yuri memilih dress dengan warna biru. Dengan harapan anaknya berjenis kelamin Laki-laki sama seperti Devan. Ia ingin agar Devan memiliki seorang teman. Tapi apapun itu, Yuri tidak terlalu berharap. Ia hanya ingin anak keduanya selalu sehat.
"Sayang, kamu pake jas ini bagus." Yuri menunjukkan pada Kenzie.
"Oke, baby!" Kenzie mengikuti pilihan Yuri.
"Untuk Devan yang ini lucu ya?" Tanya Yuri.
"Devan pakai apapun pasti bagus. Anak Kitakan tampan seperti Papanya." Jawab Kenzie membanggakan dirinya sendiri.
Setelah memilih pakaian, Yuri dan Kenzie kembali ke rumah orangtua Kenzie. Mereka sudah berkumpul bersama. Begitu juga dengan Hani yang ikut berkumpul.
Kenzie dan Yuri menjelaskan tentang acara tersebut. Mereka juga ikut tidak sabar ingin segera mengetahui jenis kelamin cucu mereka. Naomi juga sudah tidak sabar menunggu kehadiran cucu keduanya dari Kaira dan Derry. Mereka sudah memasuki bulan ke sembilan. Hanya saja belum terlihat kapan akan melahirkan.
waktu yang singkat bagi mereka menuju acara yang mereka tunggu-tunggu. Dengan menggunakan EO yang handal. Semua desain sudah selesai mereka rangkai. Semua keluarga sudah berkumpul di lokasi. Teman-teman mereka dan juga Marsha sudah hadir di acara tersebut.
"Ya ampun Ri, perasaan baru kemarin udah nambah lagi." Kata Marsha.
"Iya nih, biar Devano ada temannya." Jawab Yuri.
"Kalian kapan nih? Pacaran terus. Nikah dong!" Ucap Yuri.
"Rencana Bulan Sebelas, Ri." Jawab Kevin.
"Hah?! Empat bulan lagi dong? Astaga, jadwalnya jangan bareng aku lahiran ya." Kata Yuri.
"Gimana dong? Kita gak tahu kapan kamu lahirannya. Semua sudah di persiapkan gak bisa di undur." Balas Marsha.
"Ya gak apa-apa, semoga bisa datang ya di acara kamu." Jawab Yuri.
"Datang dong! Kamu tamu spesial kita. Kalau kamu gak datang, acaranya gak akan aku mulai." Kata Marsha.
Mereka tertawa bersama mendengar perkataan Marsha. Setelah semua tamu berkumpul. MC memulai acaranya dengan sebuah sambutan. Yuri, Kenzie dan Devano mulai maju ke panggung kecil yang tidak terlalu tinggi.
Acara di mulai, sebelum hari acara Yuri sudah meminta tamu untuk menggunakan pakaian yang sesuai perkiraan mereka. Pakaian biru untuk mereka yang memilih Laki-laki dan pink untuk yang memilih perempuan. Saat acara mereka juga mengambil sebuah balon yang warnanya sama seperti pakaian mereka biru dan pink.
"Aku dag Dig duh nih, sayang." Bisik Yuri.
Yang keluar adalah balon berwarna pink. Semua bersorak senang, terutama mereka yang sudah memprediksi bayinya yang berjenis kelamin perempuan. Hani senang sekali mengetahui cucu keduanya berjenis kelamin perempuan. Begitu juga dengan Kenzie. Ia senang sekali harapannya sesuai. Ia ingin sekali memiliki anak perempuan.
"Yes!" Berkali-kali Kenzie menciumi perut Yuri yang sudah terlihat membesar.
"Sehat-sehat ya anak papa." Ucap Kenzie.
Devano senang sekali ketika melihat balon yang berterbangan. Ia melompat-lompat untuk meraih balon-balon. Di sisi lain, Kaira yang ikut senang karena dugaannya benar berubah meringis. Ia merasa perutnya terasa sakit.
"Sayang, perut aku!" Kaira terus memegang perutnya.
"Kamu kenapa sayang? Sepertinya anak kita akan segera lahir." Jawab Derry.
"Kamu sabar ya! Aku ambil mobil dulu. Kamu tunggu sini sebentar." Derry mengambil mobilnya.
Kaira semakin sulit untuk menahannya. Kerena perutnya semakin terasa sakit. Jeritannya sukses mengalihkan pandangan Yuri dan Hani. Mereka langsung menghampiri Kaira.
"Kak, tunggu sebentar ya. Derry kemana?" Yuri terlihat panik.
"Sayang, bantu Kakak bawa ke rumah sakit yuk." Pinta Kenzie.
"Derry sedang mengambil mobil." Dengan terbata-bata Kaira menjawabnya.
"Sayang bantu gendong kakak ayo cepat!" Pinta Yuri.
"Kakak yang tenang ya. Kakak jangan panik, Oke." Kata Yuri.
Padahal yang paling panik adalah Yuri. Ia terlihat panik melihat Kaira merintih sakit. Ia terus melihat ke arah luar. Menunggu kedatangan mobil Derry.
"Aduh, si Derry lama banget sih!" Ucapnya.
Tak lama ia melihat mobil Derry sudah berada di depan. Kenzie menggotong Kaira sampai masuk ke dalam mobil. Naomi dan Rama ikut mengantar Kaira ke rumah sakit. Kenzie dan Yuri segera mengakhiri acaranya dan langsung melompat ke acara makan-makan.
Sebelum mereka menyusul ke rumah sakit. Mereka mengajak para tamu untuk menikmati makanan yang telah di sediakan. Mereka juga pamit lebih dulu untuk pergi dari acara. Mereka tak lupa untuk mengucapkan terimakasih karena telah hadir ke acara mereka. Mereka juga meminta maaf jika mereka harus pergi lebih dulu.
"Ayo sayang kita susul ke rumah sakit." Pinta Yuri.
"Sayang, tenang dulu. Kak Kaira yang lahiran kenapa kamu yang panik?" Tanya Kenzie.
"Panik? aku gak panik. Sudah ayo!" Yuri menarik lengan suaminya.
Devano sudah di bawa oleh Hani dan Keenan. Mereka menyusul ke rumah sakit. Perut Yuri terasa sakit saat berada di perjalanan.
"Perut aku sakit kenapa?" Tanya Yuri.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Kenzie.
"Gak tahu sayang, tiba-tiba sakit banget perut aku." Keluh Yuri.
Sampai di rumah sakit, Kenzie memilih membawa istrinya untuk kontrol ke dokter kandungan. Tanpa mengantri ia masuk mencari dokter yang belum ada pasiennya di dalam. Ia langsung masuk membawa Yuri.
Dokter mengatakan bahwa sakit perut yang dialami Yuri hanya sebuah kontraksi karena terlalu stress atau terlalu khawatir. Beruntungnya bayi mereka dalam kondisi baik-baik saja. Setelah konsultasi, mereka menyusul Naomi dan Rama ke ruang persalinan.