Untitled Love

Untitled Love
Ep 38



Rutinitas seperti biasa Yuri berangkat kerja menggunakan ojek online. Ia berangkat dari rumah jam 07:00. Ia harus mempersiapkan Cafe agar kembali bersih, rapi dan harum. Ia juga harus memastikan stok masih terisi.


"Yur, tolong rapikan ruangan si bos ya. Hari ini dia akan datang." pinta Melani.


"Baik Kak." jawab Yuri.


"Oh iya, nanti gunakan pengharum sakura ya. Dia tidak terlalu suka aroma kopi." kata Melani.


"Loh? gak suka aroma kopi tapi dia buka kedai kopi itu gimana ya Kak?" tanya Yuri.


"Dia memang labil. Kadang suka aroma kopi, kadang gak suka. Tapi lebih banyak gak sukanya." jawab Melani.


Yuri mengerjakan perintah Melani. Terlihat Nama Dita terpajang di pintu masuknya. Begitu masuk ruangan, tidak sesuai dengan namanya. Ruangan tersebut terlihat sangat maskulin.


"Tampan banget ya." Puji Yuri begitu melihat foto seorang pria dengan rambut yang sepundak dan di kuncir satu.


"Pasti ini foto pacarnya." lanjutnya.


Selesai merapikan ruangan si pemilik cafe, Yuri bersantai sejenak. Jarang sekali pengunjung datang di pagi hari. Pojok Cafe dengan kaca besar menjadi tempat favorit Yuri. Ia bisa melihat orang-orang yang mulai berdatangan untuk belajar.


Melani menghampiri Yuri yang sedang melamun melihat ke arah luar cafe. Ia duduk di sebelahnya sambil membuka buku menu yang di sediakan di setiap meja. Melani memang orang pertama yang bekerja di cafe tersebut. Dia membantu sang pemilik cafe yang notabennya adalah sahabatnya sendiri.


"Aku ke belakang dulu ya." Melani melanjutkan kerjanya.


"Gimana? sudah menemukan cowok kampus yang tampan." Suara pria tersebut cukup mengejutkan Yuri.


Yuri langsung berdiri hingga menyundul dagu pria yang telah mengejutkannya. Yuri merasa bersalah dan menunduk meminta maaf. Berkali-kali ia membungkukkan tubuhnya.


"Maaf Mas, maaf." Ucap Yuri.


"Kamu sepertinya karyawan baru disini ya?" ucap pria tersebut.


"Maaf Mas, anda kekasihnya Bu Dita ya?" Yuri kembali bertanya.


"Maaf Mas, saya masih baru disini." Yuri kembali menundukkan kepalanya.


Mendengar percakapan Yuri, Melani langsung keluar. Ia berjalan dengan santai menghampiri mereka. Melani langsung berdiri di samping Yuri.


"Hai Dita, lama kamu gak main kesini." sapa Melani. Mata Yuri membulat.


"Apa Kak? Dita?" Yuri masih tak percaya.


"Iya, dia yang punya cafe ini ... Ta, kenalin. Ini Yuri karyawan baru disini." Melani mengenalkan Yuri pada Dita.


"Oh, karyawan baru. Baiklah, kali ini kamu saya maafkan. Lain kali jangan melamun lagi ya. Apalagi disaat banyak pengunjung." ucap Dita.


Dita, nama panjangnya Ardita Putra Purnomo. Dia pemilik cafe di tempat Yuri bekerja. Melani adalah sahabat Dita semasa SMA. Mereka selalu bersama hingga mereka lulus kuliah.


Melani membantu mewujudkan impian Dita. Sejak sekolah, Dita ingin sekali memiliki sebuah usaha kecil-kecilan dari hasil jerih payahnya sendiri. Meskipun dia terlahir dari keluarga kaya, Dita membuat cafe tersebut dari hasil kerjanya.


Siang harinya, Dita meminta seluruh karyawannya untuk menutup Cafe lebih awal. Ia berencana untuk mengundang teman-temannya ke cafe tersebut. Memang tidak banyak, tapi agar pengunjung lain maupun teman-temannya tidak merasa terganggu.


"Kamu tahu tidak? teman-temannya Pak Dita itu artis-artis semua. Makanya dia menutup Cafe nya." Fitri mulai bergosip.


"Gimana? aku sudah cantik belum?" tanya Meri sambil memoles bibir dan wajahnya.


"Sama aja Mer. Mending kamu bersih-bersih." jawab Fitri.


"Kenapa harus aku? kan ada Yuri, ya kan? Aku mah bagian mengantar pesanan." Meri memang ogah untuk membersihkan lantai dan meja.


Yuri tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, ia bekerja dan mendapat gaji saja itu sudah cukup. Selebihnya adalah bonus yang di berikan oleh Melani. Terkadang Melani memintanya untuk membantu tenaga di dapur, terkadang membantu barista dan terkadang membantu menghias tempat jika ada yang membooking cafe tersebut.


Hari menjelang sore, cafe sudah tutup lebih awal. Yuri juga sudah merapikan meja dan membersihkan lantai. Fitri juga sudah menyelesaikan tugasnya. Ia memastikan bahan-bahan masih tersedia banyak. Agar nanti tidak ada menu yang sold out.


Satu-persatu temannya Dita datang. Dari aktor terkenal hingga seorang model cantik ternama. Dita menyapa teman-temannya dengan sangat hangat. Terlihat jika Dita memiliki sikap yang lembut. Tak hanya Dita, Melani juga turut menyapa mereka.


Saat sedang mengantar makanan, seseorang tak sengaja menabrak tubuhnya dari belakang. Tangannya terkena tumpahan kopi panas. Seorang tersebut meminta maaf pada Yuri dan membuka kacamatanya.


"Yuri." sapa gadis yang tak sengaja menabrak tubuh Yuri. Yuri mengingat siapa nama gadis itu.


"Aku Sora, pacarnya Zein." Sora membantu Yuri mengingat namanya.


"Kamu kerja disini sekarang?" tanya Sora. Yuri hanya bisa menampilkan senyumannya sambil menahan perih akibat air panas yang membuat tangannya melepuh.


"Ya ampun tangan kamu Ri. Maaf ya." Sora menariknya ke sebuah meja kosong.


"Beib." sapa Zein pada Sora. Zein melihat Sora yang sedang memberikan obat pada seseorang.


"Kenapa Beib?" tanya Zein.


"Ini, aku gak sengaja nabrak Yuri sampai dia ketumpahan air panas." jawab Sora.


"Yuri? ya ampun Ri! Kamu kemana saja? aku merindukan kamu!" Zein spontan memeluk Yuri di depan Sora. Sora mencubit perut Zein agar melepaskan pelukannya.


"Ya ampun Beib, udah mau nikah masih saja cemburu sama anak bocah." Zein mengusap perutnya.


"Kamu masih sama si siapa tuh namanya?" tanya Zein.


"Ada apa ini ramai-ramai disini?" tanya Dita yang menghampiri mereka.


"Yur, kamu ngapain disitu? melamun lagi?" tanya Dita.


"Capek ah jelasinnya. Beib jelasin!" pinta Sora. Zein menjelaskan kenapa Yuri ada di situ.


"Sorry ya, ini karyawan baru aku. Jadi maklumlah kalau ada salah." kata Dita sedikit menyindir Yuri.


"Dia Mak comblang aku sama Zein." jawab Sora.


"Dia mantan gebetan aku Ta." sambung Zein.


"Maaf Mas, saya akan kembali kerja lagi." ucap Yuri.


"Sebaiknya biarkan dia istirahat dulu. Tangannya melepuh karena ulah aku." Sora merasa bersalah.


Melihat Yuri di kelilingi orang penting. Meri merasa cemburu. Ia terus meremas kain lap yang ada di dekatnya. Ia Juga memasang wajah kesalnya.


"Baru juga sebulan udah ganjen!" sirik Meri.


Sora, Zein dan Dita masih berada di dekat Yuri. Sedangkan Yuri menjadi tidak nyaman di kelilingi oleh mereka. Melani ikut berkumpul dengan mereka.


"Kamu kenapa Yur?" tanya Melani.


"Beib, jelasin!" Sora tak ingin mengucapkan hal yang sama berulang kali.


"Ya ampun Yur, kalau begitu kamu pulang saja. Banyak istirahat agar tanganmu cepat pulih." Dengan mudahnya Melani memberi izin Yuri untuk pulang lebih awal.


"Ri, ini ada undangan untuk kamu. Tadinya aku ingin mengantarnya langsung ke rumahmu." kata Zein.


"Kalian akan menikah?" tanya Yuri.


"Ya, akhir bulan ini. Makanya aku kesini buat membicarakan acara pernikahanku nanti." Jawab Zein.


"Yur, ada yang jemput tuh." kata Melani.


"Oh, jadi beda lagi nih pacarnya?" kata Zein.


"Eh, bukannya dia pasangan kamu di setiap kamu pentas teater ya?" tanya Zein.