
Kenzie sudah mulai sibuk dengan skripsinya. Ia juga lebih sibuk dengan pekerjaannya. Yuri tidak keberatan dengan hal itu. Sesibuk apapun Kenzie ia masih sering mengantar jemput Yuri.
Yuri sudah tidak di izinkan untuk bekerja di swalayan. Pak Moko juga sudah di peringatkan untuk tidak mengizinkan Yuri bekerja. Setiap Yuri ke Swalayan, Yuri hanya bisa duduk manis saja.
"Loh, itu bukannya Kak Kaira?" Tanya Yuri dalam hati.
"Hai sayang!" Sapa Kaira tanpa menyadari kehadiran Yuri.
"Sayang, Der!" Kaira melambaikan tangannya agar tatapan Derry mengarah padanya.
"Ada Yuri." Bisik Derry. Kaira menengok ke belakang dan tersenyum pada Yuri.
"Eh Yuri, kamu lagi apa, Ri?" Tanya Kaira berbasa-basi.
"Lagi makan ini Kak. Kakak?" Yuri memberi kode menunjuk ke arah Derry.
"Hem, itu. Ah Kakak sedang di tugaskan sama Ayah buat cek laporan. Biasa, Ayah lagi sibuk banget. Jadi, Kakak kesini." Kaira mencari alasan.
"Oh, tapi tadi pagi Kenzie sudah cek laporan Kak." Yuri bingung.
"Hem, Ri." Bisik Kaira.
"Kakak akan jujur, tapi kamu jangan bilang ke Ayah sama Bunda ya. Apalagi sama Kenzie, pasti dia bakal gak suka." Bisik Kaira.
"Memang ada apa sih Kak?" Tanya Yuri penasaran.
"Kakak resmi berpacaran sama Derry. Jadi, kamu jangan bilang-bilang sama yang lain ya." Bisik Kaira lagi.
Kaira tersenyum pada Yuri dengan penuh maksud. Kaira berharap Yuri tidak menceritakan dirinya yang berpacaran dengan Derry. Tapi ternyata tanpa Yuri mengatakannya, Kenzie mendengar perkataan Kaira yang berbisik dengan nada yang masih bisa di dengar oleh orang.
"Ehem." Kenzie berdehem.
"Ke~Ken." Kaira berubah menjadi gagap.
"Jadi gimana? Tolong di perjelas lagi." Pinta Kenzie.
"Kayaknya Kakak masih ada perlu sama Pak Moko." Kaira mengalihkan pembicaraan.
"Perlu apa lagi sih Kak? Orang semuanya sudah selesai kok." Kenzie menarik tangan Kaira.
"Zie!" Tiba-tiba air mata Yuri berkumpul.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Kenzie dengan penuh khawatir.
"Kamu kenapa Ri?" Tanya Kaira.
"Zie, kamu gak ngerti perasaan aku!" Yuri menangis.
"Gak ngerti kenapa sayang?" Tanya Kenzie.
"Tuh kan kamu masih nanya. Kamu memang gak ngerti perasaan aku!" Yuri cemberut sambil menangis.
"Sayang maaf, bukannya aku gak ngerti perasaan kamu. Tapi aku salah apa sayang? Aku telat jemput kamu? Atau aku gak kasih kamu izin kerja?" Tanya Kenzie.
"Maaf, aku tadi tiba-tiba ada rapat dadakan. Kalau masalah kamu gak boleh kerja itu semua kan demi kebaikan kamu dan baby kita sayang." Kenzie memberi alasan pada Yuri.
"Bukan itu! Kamu benar-benar gak ngerti! Kamu jahat!" Yuri semakin kencang menangisnya.
"Terus apa dong sayang?" Tanya Kenzie. Kaira cukup melihat adiknya yang sedang memohon pada Yuri. Ia tak bisa kemana-mana sebab tangannya masih di tahan oleh Kenzie.
"Sakit hati aku lama-lama ngomong sama kamu! Kamu benar-benar gak ngerti perasaan aku!" Yuri meninggikan suaranya sambil menangis.
"Oh God!" Kenzie refleks menarik tangan Kaira.
"Sakit Ken! Ih kamu gak sadar apa tangan aku masih di tahan sama kamu?!" Keluh Kaira.
"Sebentar ya Kak." Kenzie masih tetap menahan tangan Kaira.
"Zie!" Yuri menangis histeris. Membuat Pak Moko dan Derry ikut berkumpul.
"Ini ada apa?" Tanya santai Pak Moko.
"Kenzie gak ngerti perasaan saya Pak. Saya sedih, saya sakit hati Pak." Kata Yuri.
"Kenapa Nak?" Tanya Pak Moko.
Yuri melirik ke arah Kenzie. Pak Moko dan yang lain juga ikut menatap Kenzie. Kenzie semakin merasa terpojok dan membalas menatap Kaira.
"Kenapa jadi pada menatap saya?" Tanya Kenzie.
Pandangan Yuri turun ke tangan Kenzie yang masih memegang tangan Kaira. Ia kembali menangis. Pak Moko dan Derry juga ikut memandanginya. Kenzie mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Kaira. Kaira dan Kenzie sama-sama melihat kedua tangan mereka.
"Kenapa? ini?" Tanya Kenzie sambil menunjuk ke tangannya. Yuri semakin histeris.
"Astaga sayang!" Kenzie langsung melepaskan pegangannya.
"Cuma karena aku pegang tangan Kakak?" Tanya Kenzie.
"Cuma? Kamu bilang Cuma?" Yuri kesal.
"Sayang, dia kan Kakak aku. Kakak ipar kamu juga sayang. Gak harus cemburu gitu." Jelas Kenzie.
"Kok jadi aku yang disalahkan?" Tanya Yuri.
"Bukannya aku menyalahkan kamu sayang. Dari segi mana aku menyalahkan kamu sayang?" Tanya Kenzie.
"Zie! Zaman sekarang tuh gak ada yang gak mungkin. Mertua aja bisa punya hubungan terlarang sama menantunya. Ada juga yang diam-diam adik kakak pacaran." Jawab Yuri.
"Astaga Sayang, aku gak seperti itu. Aku gak mungkin melakukan hal itu sayang." Jelas Kenzie.
"Kamu gak usah berpikir hal yang aneh-aneh sayang." Lanjut Kenzie.
"Tuh kan, kamu menyalahkan aku lagi!" Yuri kembali menangis.
"Gak gitu sayang. Aku gak menyalahkan kamu." Kenzie mulai sedikit frustasi. Sedangkan yang lainnya hanya menyaksikan mereka.
"Kamu sebaiknya minta maaf dan ambil minuman beserta makanan kesukaan Yuri." Bisik Pak Moko.
Kenzie pergi dan mengikuti saran dari Pak Moko. Ia kembali membawa roti kesukaan Yuri dan jus apel. Pak Moko tersenyum melihat Kenzie mengikuti sarannya.
"Sayang, maafin aku ya. Aku janji akan lebih mengerti kamu." Kata Kenzie sambil memberikan makanan dan minuman yang ia bawa.
Benar saja, Yuri langsung berhenti menangis. Ia juga mengambil dan langsung memakan, makanan dan minuman yang di bawa oleh Kenzie. Yuri tersenyum manis pada Kenzie membuat hati Kenzie kembali tenang.
"Istri kalau lagi hamil memang suka sensitif. Lebih sensitif dari saat dia masih sebelum hamil." Bisik Pak Moko.
"Kamu harus bisa lebih sabar lagi." Saran Pak Moko. Kenzie mengiyakan perkataan Pak Moko.
Setelah semuanya membaik, Kenzie meminta Kaira menjelaskan tentang hubungannya dengan Derry. Ia tidak bisa melarang hubungan Kakaknya. Bagaimanapun yang menjalani kehidupan ya masing-masing. Itulah kenapa Kenzie menyetujui hubungan Kakaknya.
Tiba-tiba Yuri kembali menangis. Kenzie menepuk jidatnya mendengar istrinya kembali menangis. Ia bingung kenapa Yuri menangis. Yuri tanpa di minta menjelaskan bahwa dirinya menangis karena kembali mengingat saat Ghea menghina dirinya.
"Memang ya wanita hamil seperti ini?" Tanya Kenzie pada Kaira dan Derry.
"Baru juga punya calon istri." Jawab Derry.
"Nikah saja belum sudah nanya hal itu." Jawab Kaira.
"Bagaimana kalau kita menikah secepatnya?" Spontan Kaira mengatakan hal tersebut.
"Kakak!" Kenzie sedikit membentak Kakaknya.
"Memangnya kenapa sih? Salah kakak nanya?" Jawab Kaira.
"Bukan gitu maksud aku Kak. Kalem aja gitu Kak, santai." Balas Kenzie.
Mereka kembali bercanda hingga larut malam. Kenzie pulang lebih dulu karena Yuri sudah merasa ngantuk. Kaira juga pulang dengan mobilnya dan Derry harus menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu baru bisa pulang.