
Sampai di kedai kopi, Keenan turun dari motor Kenzie. Awalnya Keenan hanya ingin menunggu di luar. Namun Kenzie tidak enak membiarkan Keenan kepanasan di luar.
"Masuk ayo!" Kenzie menarik Keenan masuk.
"Bos, balik lagi? Ada yang ketinggalan?" Tanya Hanif.
"Iya Nif. Oh iya, tadi saya manggil tukang buat renovasi yang outdoor sama ini. Untuk sementara ini kalian libur saja. Mau saya pasangkan AC. Terus mau saya buat dapur nanti." Ucap Kenzie. Keenan melihat ke sekeliling.
"Mas, memang dia siapa?" tanya Keenan berbisik.
"Dia yang punya ini Dek." Jawab Hanif.
"Kak Kenzie kemana?" Tanya Keenan.
"Paling ke ruangannya." Hanif menunjukkan ruangannya Kenzie.
"Tapi gak ada yang di izinkan masuk ke ruangannya." Bisik Arif.
"Memang kenapa?" Tanya Keenan penasaran.
"Ada rahasianya." Bisik Arif.
"Kak?" Keenan langsung penasaran dan mencari Keenan.
"Sebentar Ken, Kakak lagi cari dompet kakak." Jawab Kenzie. Tak lama Kenzie keluar dari ruangannya.
"Nif, Kamu lihat dompet saya gak?" Tanya Kenzie.
"Oh, yang ini ya bos?" Tanya Hanif sambil menunjukkan dompet.
"Ah iya itu." Kenzie langsung meraih dompetnya.
"Saya kira dompet pelanggan. Saya taro saja disitu, jadi biar kalo ada pelanggan yang nyari." Jawab Hanif menjelaskannya.
"Ken ayo!" Teriak Kenzie.
"Ken, teriak Ken." Canda Arif.
"Keenan kemana ya?" Tanya Kenzie.
"Lah, tadi masuk bos ke dalam." Jawab Arif.
Kenzie kembali masuk. Ia mencari Keenan, beberapa kali memanggilnya tak dapat jawaban dari Keenan. Ia mencoba memeriksa ruangannya dan dia menemukan Keenan.
"Ken." Panggil Kenzie. Sebenarnya Kenzie malu Keenan masuk ke ruangannya.
"Kak, jadi Kakak udah suka sama Kak Yuri lama ya?" Tanya Keenan habis melihat foto-foto kakaknya terpajang di dinding kamar Kenzie.
"Nanti saja, kasihan Kakak dan mama kamu nunggu." Jawab Kenzie menarik Keenan keluar.
"Kakak tinggal disini?" Tanya Keenan.
"Kok cuma kamar kakak doang yang pakai AC?" Banyak pertanyaan dari Keenan.
Bahkan sampai saat di jalan, Keenan terus bertanya-tanya. Sampai depan rumah pun Keenan masih terus bertanya-tanya. Kenzie langsung meninggalkan Keenan di luar. Kenzie lebih dulu masuk.
"Ma, Kak." Teriak Keenan.
"Apa sih kamu teriak-teriak?" Tanya Hani.
"Ma, tadi tuh kita mampir ke kedai kopinya Kak Kenzie. Terus di ruangannya ada foto-foto Kakak." Keenan menceritakan semua yang ia lihat.
"Terus, tau gak? Tadikan banyak cewek-cewek yang deketin Kak Kenzie. Terus Kak Kenzie bilang 'Ayo Keenan, Kakak gak tega ninggalin istri kakak terlalu lama'. Gitu Kak, Ma." Keenan mengikuti nada bicara Kenzie.
Informasi yang Keenan berikan hanya membuat mereka terlihat biasa saja. Keenan pun lelah, Ia langsung mengambil gelas dan minum. Tak lama, ia lebih dulu mengambil sendok nasi.
"Sudah ceritanya?" Tanya Hani.
"Belum, Keenan masih nunggu jawaban dari Kak Kenzie." Jawab Keenan.
"Kamu sepanjang jalan nanya terus. Kakak juga bingung mau jawab yang mana." Sahut Kenzie.
"Pokoknya nanti kakak jawab semuanya." Balas Keenan.
Mereka pun akhirnya makan bersama. Kenzie menyiapkan obat Yuri. Kenzie juga membantu Hani merapikan meja makan. Begitu rapi, Kenzie kembali ke depan TV.
"Ri, kamu sudah bilang ke bos kamu belum?" Tanya Hani.
"Lagi juga nanggung Ma." Lanjutnya.
Untungnya Yuri masih menyimpan pegangan. Ia simpan untuk berjaga-jaga. Karena sakit itu mahal. Makanya Yuri nabung untuk berjaga-jaga jika suatu saat ia sakit. Mungkin selama ini masih ada orang baik yang membiayai rumah sakit.
Keesokkan harinya, Yuri berangkat kerja di antar oleh Kenzie. Dita sudah melarang Yuri untuk bekerja berat. Yuri di tempatkan di Kasir bersama Fitri.
"Duh, yang di antar cowok baru." Fitri menggoda Yuri.
"Kamu tuh alergi sama cowok ya Yur?" Tanya Fitri.
"Setiap ada yang dekat sama kamu, Pasti kamu sakit." Lanjutnya.
"Hahaha,, Ada-ada saja kamu Fit." Jawab Yuri.
"Biar aja di perhatiin sama mereka. Cari perhatian sih lebih tepatnya." Meri masih saja sirik dengan Yuri.
Lama tidak masuk banyak sekali perubahan. Bahkan tata letak juga berubah. Begitu juga dengan sikap Melani yang sengaja menjauh dari Dita.
"Aku ketinggalan berita apa sih?" Bisik Yuri pada Fitri.
"Sayang!" Teriak Audrey dari depan pintu.
"Eh, kuntilanak. Masih saja gangguin Dita." Melani mengambil kain basah yang ada di meja.
"Kenapa sih? Sirik aja, pasti takut kalah saing kan?" Tanya Audrey.
"Eh kamu, aku kira kamu sudah out dari sini." Audrey mendorong Yuri.
"Heh! Jaga tangan kotor kamu itu ya! Jangan berani-berani nya kamu menyentuh dia!" Melani mendorong Audrey.
"Hu, fansnya Dita bersatu. Atut ah!" Audrey meledek Melani dan Yuri.
"Oh iya, tangan aku ini bersih mengkilap. Gak kayak kalian yang tangannya selalu memegang kain basah jelek dan bau itu." Lanjut Audrey memperlihatkan kuku cantiknya.
Yuri gak menyangka Melani akan seperti itu. Apakah Melani benar-benar sudah berpacaran dengan Dita? Melani sudah mulai menunjukkan bahwa dirinya suka dengan Dita. Melani dan Audrey malah kembali sibuk bertengkar.
Yuri mengetuk pintu Dita. Ia masuk setelah mendapat persetujuan dari Dita. Ia duduk di hadapan Dita.
"Pak, di luar ada keributan." Lapor Yuri.
"Oh itu, biarkan saja." Ucapnya.
"Kok di biarkan sih? Justru nanti pelanggannya akan pergi melihat ada yang ribut." Kata Yuri.
"Ya sudah, kamu pisahkan lah." Jawab Singkat Dita.
"Tapi saya gak tanggung ya jika kamu terluka nanti." Lanjutnya.
"Aneh!" Yuri berdiri dan beranjak dari tempatnya.
"Tunggu!" Dita menarik tangan Yuri.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Dita.
"Udah membaik." Jawab Yuri.
"Saya minta maaf ya, Karena saya kamu sampai masuk rumah sakit lagi." Kata Dita.
Dita kembali menyatakan perasaannya. Yuri memang sudah merasa sesak di dada. Rasa ketakutannya ia lawan sebisa mungkin.
"Maaf Pak, saya gak bisa. Ini surat pengunduran diri saya." Ucap Yuri.
"Yur, tapi bisakah kita tetap berteman?" Tanya Dita. Yuri hanya tersenyum padanya.
"Oh iya, Bapak bukannya sudah berpacaran dengan Kak Melani?" Tanya Yuri.
Dita menjelaskan mengapa Melani mengatakan itu menurut sudut pandangnya. Berbeda dengan sudut pandang Melani. Yuri pun memberi tahu tentang perasaan Melani. Dita tak menyangka, Melani memendam perasaannya pada dirinya.
"Kamu gak lagi berusaha untuk menjauh dari saya kan Yur?" Tanya Dita tak menyangka.
"Saya serius pak, Kak Melani pernah cerita pada saya. Coba deh Bapak ingat lagi saat awal bersama Kak Melani." pinta Yuri.
Dita mengingat kenangan saat pertama membangun cafe tersebut bersama Melani. Melani selalu memberi support padanya. Sejak dulu, Melani sudah suka memperlihatkan perasaannya pada Dita. Hanya saja Dita tak menyadarinya sampai saat ini.