Untitled Love

Untitled Love
Ep 26



Senior mereka, Jimmy dan juga Kenzie menyusul Marsha ke ruangan mereka berada. Mereka kecewa dengan sikap Prisa yang membawa masalah pribadinya ke panggung.


Walau Penonton dan Juri merasa puas dengan penampilan mereka, tapi mencelakai lawan main saat di panggung itu tidak di benarkan.


Prisa tak terima dengan perkataan Marsha. Bukan hanya perkataannya saja, ia mengatakan hal tersebut di depan orangnya, Kenzie dan seniornya.


"Jim~Jimmy?" Prisa malu.


"Kenapa? Kamu malu sama perbuatan kamu? Yuri tulus nerima kamu sebagai temannya dan ini balasan kamu?" Tanya Marsha.


Prisa merasa terpojok. Ia merasa semakin terpojok ketika Zein datang dan berdiri di depan pintu.


"Ini semua gara-gara kamu! Aku tahu kamu masih suka sama Jimmy! Kamu pura-pura move on dan membenci Jimmy, agar dia ngejar-ngejar kamu. Iya kan?!" Prisa semakin kesal dengan Yuri.


"Prisa! Hentikan! Kamu sudah keterlaluan!" Jimmy geram.


"Sudah, sudah ya. Jangan ribut lagi disini. Prisa, kalau memang kamu beranggapan seperti itu, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak ada perasaan apapun lagi pada Kak Jimmy." Jawab Yuri. Ia mencoba berdiri dan mendekati Prisa dengan langkah yang tertatih.


"Kita bisa kan berdamai lagi. Kamu cantik, kamu pintar, kamu punya segalanya. Kenapa kamu harus iri sama aku?" Tanya Yuri mendekat ke Prisa.


"Aku gak butuh ceramah dari kamu! Aku benci kamu!" Prisa mendorong Yuri kembali.


Tak ada yang sempat menahan tubuh Yuri. Karena kakinya sakit, Yuri tak punya keseimbangan kuat untuk menahan tubuhnya. Ia pun jatuh, kepalanya terbentur lantai. Yuri langsung tak sadarkan diri.


"Yuri!" Zein lari dengan cepat. Ia melempar buket bunga yang ia pegang dari tadi.


Kenzie yang baru selangkah, akhirnya mundur perlahan. Zein langsung mengangkat Yuri. Kenzie dan Marsha menyusul dan mengusulkan untuk menaiki mobil Kenzie.


Kenzie memegang kendali stir. Marsha duduk di sebelah Kenzie, karena Zein memangku Yuri di belakang sambil menahan darah yang keluar dari kepala Yuri.


Prisa, Jimmy dan sahabatnya masih berada di ruangan tersebut. Jimmy kesal dengan sikap Prisa yang menurutnya sangat keterlaluan.


Prisa tak menyangka perbuatannya itu membuat Yuri celaka dan harus di larikan ke rumah sakit. Tak hanya itu, semua melihat kejadian itu. Ia menyesal dirinya sudah di kuasai oleh emosi.


"Jimmy, aku~ maafin aku. Aku gak~" Prisa memohon pada Jimmy.


"Aku gak terima segala alasan darimu. Aku akan memutuskan pertunangan kita." Jimmy meninggalkan Prisa.


Dokter sudah menangani Yuri dengan cepat. Yuri di bawa ke ruang perawatan usai mendapat tindakan dari dokter. Untungnya tidak terlalu fatal.


Sampai di rumah, Jimmy langsung bicara pada kedua orangtuanya. Bahwa ia memutuskan hubungannya dengan Prisa. Mereka tak menanggapi perkataan Jimmy.


"Jimmy gak mau lagi bertunangan dengan Prisa! Jimmy harap kalian menerima keputusanku!" Ucap Jimmy.


"Terserah Mama sama Papa mau menanggapinya seperti apa. Bagaimanapun Jimmy tetap menolak Prisa!" Lanjutnya.


Jimmy langsung ke kamarnya menutup pintunya. Sejujurnya ia sangat mengkhawatirkan kondisi Yuri, apa boleh buat. Kenzie dan Marsha pastinya akan melarangnya untuk menjenguk Yuri.


Mendengar kabar bahwa putrinya kecelakaan saat tampil, Hani dan Indra langsung pergi ke rumah sakit. Seorang ibu pastinya tak akan tenang mendengar anaknya tak sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi Yuri Ken?" Tanya Hani.


"Yuri sudah di tangani oleh dokter Tante. Untuk sementara waktu kita harus menunggunya sadar dulu untuk mengetahui lebih lanjut." Jelas Kenzie.


Yuri mulai membuka matanya perlahan. Ia melihat mama papanya serta Kenzie. Ia belum bisa berkata-kata, hanya bisa terdiam. Air matanya mengalir ketika ia mengingat penyebab dirinya terbaring seperti ini.


"Yuri, kamu kenapa sayang? Bilang mama apa yang sakit." Tanya Hani. Yuri masih menatap mamanya.


Mamanya sudah melarangnya untuk berpacaran. Tapi, Yuri tetap berpacaran di belakang mamanya. Hingga akhirnya ia mengalami hal seperti ini.


Seperti yang sekarang ia alami, itulah yang mamanya takutkan. Ia menyesal telah melanggar omongan Mamanya.  Air mata Yuri terus mengalir sambil menatap Mamanya.


Lagi-lagi Kenzie merasa sesak sekali melihat kondisi Yuri. Ia menyesal tidak berada di dekatnya. Andai saja saat itu, dia berada di samping Yuri. Mungkin ia bisa menahannya agar tidak terjatuh.


Papa Indra datang bersama dokter. Dari analisanya, dokter menyatakan kondisi Yuri baik-baik saja. Tidak mengalami amnesia, hanya saja ia masih mengalami syok akibat benturan yang keras. Tak lupa ia memberikan obat melalui jarum suntiknya.


"Om, Tante. Sudah malam, sebaiknya Om sama Tante pulang saja dulu. Kasihan Keenan di rumah sendirian. Yuri biar Kenzie yang menjaganya." Pinta Kenzie.


"Benar kata Kenzie Ma. Besok kita kesini lagi." Sambung Indra.


"Tante titip Yuri ya Ken. Maaf sudah merepotkan kamu." Berat rasanya Hani meninggalkan anak pertamanya.


Kenzie masih menunggu Yuri tertidur usai di berikan obat oleh dokter. Ia menyelimuti tubuh Yuri agar tertutup. Ia mengusap kening Yuri sambil menggenggam tangannya Yuri. Sekalipun ia tak pernah melepaskan genggamannya.


Sudah larut malam, Zein datang membawa buah dan buket bunga. Sejujurnya ia sangat cemburu pada Zein. Tapi, semua pilihan ada di Yuri. Ia juga sadar bahwa ia tak memiliki hak untuk melarang Zein.


"Gimana kondisinya Yuri?" Tanya Zein.


"Tadi sudah sempat sadar. Dokter juga sudah menyampaikan kondisi Yuri." Jawab Kenzie.


"Tadi, saat aku ke administrasi, katanya sudah di bayarkan." Kata Zein.


"Iya, tadi kedua orang tuanya datang menjenguk." Jawab singkat Kenzie.


Ia lebih dulu melunasi administrasi dan menyerahkan beberapa uang deposit. Kenzie tak ingin Yuri terbebani dan merasa berhutang Budi pada Zein.


Melihat Zein yang juga menggenggam tangan Yuri dan mengusap keningnya. Membuat Kenzie semakin cemburu. Ia harus tetap menahannya.


"Aku titip Yuri ya. Besok mungkin aku akan kembali untuk menjenguknya." Kata Zein.


***


Sudah dua hari setelah kejadian tersebut, Prisa tidak masuk sekolah. Ia hanya mengurung diri sendiri di kamarnya. Kedua orangtuanya sangat khawatir dengan kondisi anaknya.


Mereka meminta Jimmy untuk datang ke rumahnya dan membujuk Prisa agar tidak mengurung diri lagi.


Sampai di rumahnya, Jimmy menceritakan kejadian saat itu. Tentunya mereka kaget mendengar apa yang telah anaknya perbuat. Mereka hanya tahu jika Prisa tidak memiliki satu orang teman.


Jimmy juga menceritakan bahwa ia sebenarnya memiliki teman walau jumlahnya tidak banyak. Termasuk kisahnya berteman dengan Kenzie.


Mendengar itu semua, kedua orangtua Prisa meminta Jimmy untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat Yuri di rawat. Jimmy pun mengantarkan mereka ke rumah sakit.


"Ngapain kamu kesini?!" Tanya sinis Kenzie.