Untitled Love

Untitled Love
Ep 103



Hiasan balon biru dan beberapa poster bergambar karakter Doraemon. Satu ruangan di sulap menjadi penuh dengan warna biru. Beberapa camilan yang tersedia di sebuah meja panjang.


Ulangtahun yang pertama Devano Brilian Ishan. Semua di dekorasi oleh Yuri dan di bantu oleh Kaira. Walau perut sudah terlihat membesar, Kaira masih tetap lincah.


"Kakak, hati-hati. Sudah kakak istirahat saja dulu. Sisanya biar aku yang membereskan." Ucap Yuri.


"Kakak masih belum lelah kok, Ri." Jawab Kaira.


"Sudah! Tinggal nunggu sore deh." Ucap Kaira.


"Terimakasih ya Kak." Yuri memeluk Kaira.


Mereka kembali berkumpul di balkon apartemen Yuri. Devano masih menjadi pusat perhatian mereka. Tak lupa Yuri mengundang kedua temannya Wenda dan Stella. Ia juga mengundang Marsha. Hanya saja ia sedang sibuk mengurus pernikahan mereka.


Hari sudah menjelang sore. Semua sudah berkumpul. Kejutan untuk mereka datang satu-persatu. Sejak Yuri memilih mengurus Devano, Ia tidak pernah ikut kumpul dengan temannya. Kenzie juga tidak menceritakan situasi di kampus.


Stella datang bersama Andre. Dimas dan Laras juga datang sebelum Stella dan Andre. Darren masih datang sendiri tanpa gandengan. Sama seperti Wenda yang datang sendiri. Tapi ia sudah ribut di depan dengan Keenan. Entah apa yang mereka ributkan. Tapi cukup membuat yang lain tertawa termasuk Hani.


"Keen! Awas ah! Aku mau masuk!" Teriak Wenda.


"Ya masuk tinggal masuk saja. Apa perlu aku gendong?" Tanya Keenan.


"Keenan!" Teriak Wenda. Keenan baru mempersilahkan Wenda masuk.


"Silahkan masuk tuan putri." Ucap Keenan.


Yuri memperhatikan Wenda yang baru masuk. Saat semua sudah kumpul, Yuri baru memandikan Devano dan mendandaninya hingga terlihat semakin tampan dan menggemaskan.


"Astaga, Tampannya kesayangan Aunty." Kaira mencubit pipi Devano.


"Nti!" Teriak Devano sambil menangis.


"Kak! Udah tampan juga anak aku. Malah di tangisi, awas saja nanti kalau anak kakak sudah lahir." Kata Kenzie. Ia langsung mengambil Devano dari gendongan Yuri.


"Sudah yuk, dimulai saja. Tamu juga sudah datang semua." Sahut Naomi.


Acara ulangtahun Devano yang pertama di mulai dengan meriah. Keenan selalu siap dengan kameranya. Setiap ada tingkah menggemaskan dari Devano, Keenan selalu memotretnya. Setiap momen juga tak pernah ketinggalan.


"Terimakasih ya Nak sudah hadir di hidup Mama dan Papa." Ucap Yuri sambil memeluk Devano bersama dengan Kenzie.


Makan malam sudah di siapkan oleh Chef yang di bawa oleh Naomi. Menu spesial yang sudah di pesan oleh Naomi. Darren dan Wenda senang sekali bisa merasakan menu yang sangat jarang mereka makan.


"Santai saja dong makannya. Udah kayak gak makan setahun saja." Lagi-lagi Keenan meledek Wenda.


"Yuri! Adik kamu nyebelin banget sih!" Protes Wenda pada Yuri.


"Kalian nih ribut terus deh. Dari Devan lahir sampai sekarang." Kata Yuri.


"Jangan-jangan kalian jodoh nih." Canda Kenzie.


"Ma, kalau Keenan sama Wenda berjodoh. Kira-kira Mama setuju gak Wenda jadi menantu Mama?" Tanya Keenan.


"Wah, langsung di tanya dong." Balas Kenzie.


"Gimana tuh Ma? Wenda tuh baik loh Ma. Sahabatnya Yuri di kampus." Lanjut Kenzie.


"Yuri!" Wenda merengek pada Yuri.


"Wah, Jeng. Bakal segera nambah mantu nih." Naomi ikut meramaikan obrolan mereka.


"Mama sih setuju saja kamu sama siapapun. Asalkan wanita itu juga mencintai kamu dan dia baik sama keluarganya." Jawab Hani.


"Kalau dia baik pada keluarganya. Dia juga akan baik ke keluarga barunya nanti." Lanjutnya.


"Gimana nih Wen? Oke gak?" Tanya Keenan.


"Gimana apa? Setiap ketemu saja ngajak ribut terus kok malah nanya gimana?!" Jawab Wenda.


"Ribut-ribut gemes kan?" Canda Keenan.


"Terima!" Berawal dari Yuri. Semua orang ikut menyorakinya.


"Bukannya setiap di kelas kamu ngomongin Keenan terus?" Sahut Stella. Ia membongkar sedikit rahasia Wenda.


"Stella!" Wenda mencubit paha Stella.


"Tuh sudah, nunggu apa lagi sih?" Lanjut Stella.


"Oh jadi kamu diam-diam suka sama adik aku Wen?" Tanya Yuri.


"Pilihan yang tepat Wen. Daripada sama yang itu, bisanya cuma nyakitin doang." Kata Yuri.


"Setuju! Benar Wen. Kalau dia macam-macam kan bisa kamu bilang ke Yuri." Stella mendukungnya.


Sekarang tiga serangkai yang berdebat. Sisanya cukup mendengar, memperhatikan dan tertawa. Sampai akhirnya Hani membuka suara.


"Sudah, sudah. Kalau memang tidak mau jangan di paksa. Lebih baik ia menerima karena mencintai dari pada ia menerima karena terpaksa." Kata Hani.


Mereka bertiga mulai diam mendengarnya. Stella dan Andre saling tatap-tatapan. Perkataan Hani memang langsung masuk menembus ke hati mereka.


"Benar kata Mama kamu, Ri." Celetuk Andre.


"Lebih baik ia menerima karena mencintai daripada ia menerima karena terpaksa. Itu akan sangat menyakitkan, Ri." Lanjutnya sambil melirik ke Stella.


"Kayak pernah merasakannya aja kamu." Sahut Darren.


"Ya gak pernah merasakannya sih. Tapi semoga engga deh. Gak kebayang sakitnya seperti apa. Tapi yang pasti sakit banget sih." Jawab Andre dengan melirik Stella lagi.


Diam, Stella hanya bisa diam. Ia tahu Andre sedang menyindirnya. Karena sampai saat ini Stella masih belum menerima Andre. Walau hubungan mereka bukan lagi seorang teman ataupun musuh.


Tidak ada yang paham maksud dari Andre sebenarnya. Mereka kembali lagi terdiam sambil menyantap makanan penutup mereka. Wenda yang tadinya lahap berubah menjadi lembut dan pelan makannya.


Yuri memberikan menu makanan penutup untuk Devan. Lagi-lagi Devan menjadi pusat perhatian dan menjadi bahan perbincangan. Cukup mengubah suasana yang tadinya canggung kembali menjadi seperti semula.


"Oh iya, Devano. Aunty punya hadiah nih untuk Devano." Ucap Kaira.


"Uncle juga punya hadiah nih." Kata Darren sambil mengeluarkan hadiahnya.


"Aunty Laras sama Uncle Dimas juga bawa hadiah untuk Devan." Kata Dimas.


"Wah gak ada yang bisa mengalahkan hadiah dari Mama dan Papa." Kata Kenzie dengan bangganya.


"Eits, tenang dulu. Masih ada bunda yang belum memberikan hadiah." Kata Naomi.


"Mama juga belum, sudah pasti ini lebih bagus dari kamu." Kata Hani.


Kenzie tertawa melihat orang tua mereka tidak ingin kalah. Kenzie memberi kode pada Yuri. Yuri mengambil sebuah kotak kecil dan meletakkannya di tengah-tengah.


"Apa ini? Hadiahnya kecil. Sudah pasti Uncle Dimas yang paling bagus hadiahnya." Kata Dimas.


"Hadiah kami juga kecil tapi pasti hadiah kami yang lebih bagus." Kata Rama.


"Coba buka! Buka! Buka!" Teriak Kenzie.


Rama membuka kotaknya perlahan. Semuanya terkejut melihat sebuah emas yang bernilai miliaran. Padahal Devan baru saja berumur setahun.


"Yah, masih belum seberapa itu mah." Ucap Kenzie.


Kenzie mulai bersiap untuk membuka kotaknya. Yang lain penasaran sekali hingga mereka berdiri untuk langsung melihatnya. Kenzie sengaja membukanya secara perlahan agar yang lainnya kesal.


"Ken! Lama banget sih! Kamu gak menghadiahkan anakmu mobil kan?" Tanya Kaira.


"Hahaha ya engga lah." Kenzie sengaja menutup kembali kotak tersebut membuat yang lainnya gemes.


"Ken! Kenapa di tutup lagi?!" Tanya Hani.


"Hehehe maaf mama gak sengaja. Siap nih ya mau melihatnya." Kata Kenzie.


Kenzie membukanya perlahan. Semakin terangkat maka semakin terlihat isi kotak tersebut. Kedua mata mereka secara bersamaan membulat melihatnya.