Untitled Love

Untitled Love
Ep 104



Kenzie membukanya perlahan. Semakin terangkat maka semakin terlihat isi kotak tersebut. Kedua mata mereka secara bersamaan membulat melihatnya.


"Ken, Ken." Ucap Darren.


"Buat apa ngasih anak kamu termometer?" Tanya Darren.


"Itu Test pack woi! alat tes kehamilan." Dimas menepuk kepala temannya itu.


"Wah, jadi Bunda bakal punya cucu lagi nih?" Naomi senang melihatnya.


"Yes, mama nambah cucu!" Ucap Hani.


"Tinggal cucu dari Keenan deh." Hani melirik putranya.


"Andai saja Papa kamu tahu. Dia juga pasti senang banget." Hani kembali teringat mendiang suaminya.


Naomi merayakannya dengan kembali memesan dessert istimewa untuk semuanya. Tak sampai disitu, usai makan mereka membuat sebuah permainan seru. Walau malam sudah hampir larut, mereka masih bersenang-senang.


"Nih untuk kamu." Ucap Keenan sambil memberikan air mineral.


"Makasih." Jawab singkat Wenda.


Hanya mereka berdua yang ada di balkon. Keenan melihat Wenda sendiri di balkon, ia langsung menghampiri Wenda. Keduanya saling diam, Keenan cuma memandang Wenda yang sedang minum air mineral yang ia berikan.


"Kenapa? Mau juga?" Tanya Wenda.


"Maunya kamu." Jawab Keenan.


"Gak ada pilihannya." Balas Wenda.


"Aku mau jawaban dari kamu." Kata Keenan.


"Jawaban apa? Dari tadi kamu hanya menatapku. Gak ada satu pertanyaan yang kamu lontarkan." Kata Wenda.


"Pertanyaan saat makan tadi." Keenan semakin mendekati Wenda dan menguncinya agar tidak bisa pergi.


"Ken! Gak enak ah di lihat yang lain." Wajah Wenda memerah.


"Aku akan lepas setelah kamu menjawab iya." Kata Keenan sambil menatap wajah Wenda.


Wenda benar-benar di buat tak bisa berbuat apa-apa. Wajah Keenan terlalu dekat di depannya. Wajah Wenda semakin memerah karena tatapan dan senyuman Keenan.


"Mau jawab iya atau gak akan aku lepas sampai besok." Keenan membuat pilihan untuk Wenda.


"Tunggu apa lagi? Jawab saja iya kalau kamu benar-benar suka sama Keenan." Sahut Yuri dari belakang Wenda.


"Yuri!" Wenda terkejut. Ia berusaha untuk mendorong Keenan tapi tidak bisa karena Keenan terlalu kuat menahannya.


"Ken, awas ah! Gak enak di lihat Yuri." Wenda mendorong Keenan.


"Semakin kamu dorong, kamu akan jatuh bersamaku." Kata Keenan. Wenda berhenti mendorongnya.


"Kenapa harus ragu sih Wen? Aku akan pastikan Keenan gak akan seperti yang itu." Sindir Yuri.


"Kalau dia macam-macam, aku yang akan menghajarnya lebih dulu." Lanjutnya.


"Gimana?" Tanya Keenan.


"Kenapa harus aku?" Tanya Wenda.


"Karena kamu orang pertama yang aku suka sejak pertama ketemu." Jawab Keenan.


"Aku gak percaya. Bagi aku gak ada tuh suka sejak pandangan pertama." Kata Wenda.


Keenan menceritakan awal pertama melihat Wenda. Ia juga menceritakan alasan kenapa suka membuat Wenda kesal. Yuri tersenyum mendengar cerita adiknya yang sedang jatuh cinta.


"Begitu, jadi gimana?" Tanya Keenan.


"Udah jawab iya saja." Sahut Kenzie menyusul istrinya.


"Tuh dengar kata Kak Kenzie dan Kak Yuri." Kata Keenan.


"Ayo dong jawab." Keenan ngambek ala anak kecil.


"Keenan, apaan sih?" Wenda semakin malu ketika Keenan merengek. Orang-orang yang ada di dalam langsung beralih ke balkon.


"Jawab sekarang makanya!" Kata Keenan masih dengan merengek.


Keenan berteriak karena cintanya di terima oleh Wenda. Yang lain ikut bahagia dan senang. Kemeriahan mereka membuat Devano terbangun. Semua kembali sibuk menenangkan Devano yang mengamuk.


"Tanggung jawab! Aku sudah membuatnya tertidur tapi kalian malah membangunkannya! Ayo tanggung jawab! Aku sudah lelah dan ingin tidur!" Gantian Yuri yang ngambek.


"Biasa ibu hamil muda memang emosinya tak terkontrol." Kata Naomi.


"Sini yuk sama Omah." Naomi mengulurkan tangannya.


Karena sudah sangat larut, Mereka memutuskan untuk menginap di apartemen Yuri. Sedangkan Naomi dan Rama menginap di apartemen Hani. Stella dan Wenda tidur bersama Yuri. Sedangkan para pria tidur di kamar yang satu lagi.


Sarapan pagi kembali di sediakan oleh Naomi. Naomi yang mengatur menu sarapan mereka. Dengan Chef pribadinya, Naomi tidak perlu bersusah payah untuk membuat sarapan dengan porsi besar.


Satu-persatu bangun dan mandi secara bergantian. Terakhir Yuri dengan Devano yang mandi. Yuri memandikan Devano lebih dulu. Seperti biasa, Devano selalu menjadi pusat perhatian mereka.


Selesai sarapan, Mereka kembali berkumpul di ruang TV yang tidak seluas di rumah kediaman Rama. Saat sedang serius menonton, tiba-tiba Andre berdehem. Awalnya mereka biasa saja tidak menanggapinya. Ketika Andre berdehem berkali-kali dengan sengaja, semua langsung mengalihkan pandangan mereka.


"Ada apa Andre?" Tanya Kenzie.


"Bilang aja kalau mau ngobrol." Lanjutnya.


Andre dan Stella saling tatap-tatapan. Yang lainnya sudah sangat penasaran. Derry memilih untuk pergi lebih dulu. Karena memang sudah jadwal prakteknya.


"Ada apa sih Andre?" Tanya Kenzie.


"Tahu nih, mau ngomongin apa sih?" Sahut Darren.


"Tahu ih, lama deh!" Cetus Dimas.


"Besok kita nikah. Secara langsung kami ingin mengundang kalian ke acara pernikahan kami." Ucap Stella dengan lantang.


"Apa?!" Secara bersamaan mereka terkejut mendengarnya.


"Iya, besok kami akan menikah. Kami berharap kalian bisa hadir ke acara pernikahan kami." Jawab Andre.


"Se~Sejak kapan kalian pacaran? Sepertinya tidak terlihat kayak orang pacaran." Tanya Darren.


"Kalian gak lagi bercanda kan? Gak lagi prank kita kan?" Tanya Kenzie.


Mendapat banyak pertanyaan, mereka saling menjelaskan tentang perjodohan mereka. Saat itu juga, Stella mengakui beberapa hari terakhir ia mulai merasakan jatuh cinta pada Andre. Hanya saja ia masih belum yakin jika ia mulai menyukai Andre.


"Kamu?" Andre menatap Stella.


"Iya, aku gak tahu kapan awal mulanya. Tapi aku juga masih belum yakin dengan perasaan aku." Jawab Stella.


"Kalau kalian belum saling mencintai kenapa kalian terima perjodohan itu?" Tanya Wenda.


Mereka tidak bisa menjawabnya. Karena mereka juga memiliki alasan masing-masing. Intinya perjodohan tersebut mampu membuat mereka mulai saling merasakan jatuh cinta.


"Cinta itu bisa datang di waktu yang tidak tepat. Ia datang secara tak terduga. Semoga setelah kalian menikah kalian bisa saling mencintai." Ucap Hani.


"Kami pasti datang." Ucap Naomi.


"Selamat ya bro! Semoga kalian bisa saling mencintai satu sama lain." Ucap para sahabatnya.


Mereka pun pamit untuk mempersiapkan hari esok. Satu-persatu mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Tersisa Wenda, Keenan, Kaira, Hani dan kedua orangtua Kenzie. Keenan meminta Wenda untuk tetap di apartemen Yuri. Kaira menunggu Derry menjemputnya nanti karena mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah orangtuanya.


"Rasanya baru kemarin ya, Yah. Kita masih lihat anak-anak kita sibuk kuliah. Sekarang sudah pada berkeluarga." Ucap Naomi.


"Pulang ke rumah sepi deh Bunda gak ada Kenzie dan Kaira." Lanjutnya.


"Bunda tenang saja, Kaira bakal rutin ke rumah Bunda kok." Jawab Kaira.


"Iya Bun, nanti kalau Ken libur kerja. Kami akan main ke rumah Bunda." Tambah Kenzie.


"Untung Mama punya satu anak laki-laki. Pokoknya kalau kamu nikah nanti, kamu harus tetap tinggal sama Mama." Kata Hani.


"Kalau Wenda nyaman tinggal sama Mama. Ya, kami akan tinggal sama Mama." Jawab Keenan.


"Apa? Jadi kalian sudah pacaran?" Tanya Hani.


"Sudah, berkat Kak Yuri dan Kak Kenzie." Jawab Keenan.


"Kalau gitu secepatnya kamu harus menikahi Wenda." Ucap Hani membuat yang lainnya tertawa.