
Seminggu sudah Yuri dan Kenzie saling berdiaman. Kenzie juga lebih sering di luar kelas ngobrol dengan temannya yang lain.
Sedangkan Yuri, kisah cintanya sudah terlihat bermekaran. Terlihat dari sikap Jimmy yang suka mengunjunginya di depan kelas setiap jam istirahat. Bahkan setiap ekskul, Yuri sering di antar oleh Jimmy.
Kedekatan mereka selalu mengundang keributan kecil antara Jimmy dengan sahabatnya yang bernama Joshua. Terlihat mereka kerap memperebutkan Yuri.
"Ri, besok malam aku main ke rumah. Aku ingin menunjukkan kamu tempat yang bagus." Ucap Jimmy.
"Besok?" Tanya Yuri.
"Iya besok, Sabtu sore aku ke rumah kamu. Aku ingin ngajak kamu ke tempat favorit aku." Jawab Jimmy.
Perasaan Yuri senang sekali. Bisa sedekat itu dengan orang yang ia suka. Begitu Jimmy pergi, Yuri langsung lari sambil menjerit senang ke Marsha.
Sampai tempat duduknya, ia menceritakan ajakan Jimmy besok. Hal itu kembali membuat Kenzie risih. Kini ia tidak mendorong kursi Yuri, melainkan ia memilih pergi dari kelas. Ia memundurkan kursinya dengan hentakkan.
"Kenapa sih tuh orang? Emang gak pernah senang lihat aku senang." Ucap Yuri dengan kesal.
"Ri, kalau saran aku sebagai pria. Seharusnya kamu harus bersikap hati-hati. Secepat itu, dia bersikap itu ke kamu." Sambung Kevin.
"Kok kamu gitu? Kamu juga gak senang kan lihat aku senang? Kenapa kamu gak ikut pergi aja kayak Kenzie." Balas Yuri.
"Udah, udah. Kamu sensitif banget sih Ri, hari ini?" Ujar Marsha.
***
Sejak siang hari, Yuri sudah sibuk bersiap. Dari menggunakan masker wajah, luluran, mencari baju dan make up yang cocok.
"Ma, ada tamu!" Teriak Keenan dari ruang TV. Yuri mendengar teriakan adiknya langsung turun ke bawah.
"Biar Kakak yang buka!" Yuri menahan tangan Keenan yang hampir membuka pintu.
"Ma, Kakak di datangi pacarnya tuh!" Keenan kembali berteriak.
"Ma, Pa! Kakak pa~" Yuri dengan cepat menahan mulut adiknya sambil membukakan pintu.
Ternyata dugaan Yuri salah. Yang datang bukanlah Jimmy ataupun Joshua, melainkan Kenzie. Dengan kemeja dan celana berbahan denim. Kenzie menyapa Yuri dan Keenan yang masih di tahan mulutnya dengan tangan Yuri.
"Em,, Em,, Em,,?" Sapa Keenan.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Yuri.
"Aku sibuk mau pergi. Jadi kamu pulang saja." Lanjutnya.
"Em,, Em,, Em,," suara Keenan yang tidak jelas karena masih tertahan oleh kakaknya. Keenan memukul-mukul tangan Yuri.
Yuri akhirnya melepaskan Keenan sampai terjatuh. Keenan terjatuh karena tidak memiliki keseimbangan saat di rangkul sambil di tutup mulutnya oleh sang kakak.
"Kemarin aku ngajak Kak Kenzie main PS bareng aku!" Teriak Keenan. Wajah Yuri memerah, ia malu sudah mengatakan hal itu.
"Kalau kakak mau pergi, ya pergi saja sana. Apa hubungannya sama Kak Kenzie. Ya kan Kak?" Tanya Keenan.
"Ayo Kak masuk." Ajak Keenan.
Keenan dan Kenzie masuk ninggalin Yuri yang masih diam di pintu. Ia ingin masuk tapi ia merasa malu dengan Kenzie.
Belum beranjak, terdengar suara klakson motor dari depan rumahnya. Yuri langsung berbalik badan dan melihat Jimmy yang masih berada di atas motor besar melambaikan tangannya.
Jimmy mematikan motornya dan turun dari motornya. Ia menghampiri Yuri yang masih berada di depan pintu.
"Hai." Sapa Jimmy.
"Kakak, masuk dulu yuk~" ajak Yuri.
"Eh, disini saja kak. Aku lupa, di dalam ada temannya adik aku." Lanjut Yuri begitu mengingat ada Kenzie di dalam.
"Oh, gitu. Disini juga gak apa-apa kok." Balas Jimmy.
"Apa aja, asal buatan kamu." Jawab Jimmy.
Yuri masuk ke dalam dan membuatkan minum untuk Jimmy. Begitu selesai, ia mengantarkan sirup jeruk untuk Jimmy.
"Kak, aku mau ya untuk aku dan Kak Kenzie." Pinta Keenan.
"Buat sendiri! Kakak mau ke atas!" Ucap Yuri.
"Oh, gitu. Oke!" Keenan melirik Yuri.
"Ma! Kakak mau jalan tuh sama ~!" Teriak Keenan.
"Iya, iya! Kakak buatin! Dasar mulut cewek!" Gerutu Yuri sambil pergi ke dapur membuatkan minum.
Saat sedang membuatkan minum, Mamanya Yuri yang baru selesai mandi menghampiri Yuri.
"Kalian ada apa sih? Ma, ma, ma! Mama lagi mandi jadi gak tenang." Ucap Hani.
"Gak apa-apa Ma, biasa tadi Keenan rese." Jawab Yuri.
"Ini minuman buat siapa?" Tanya Hani.
"Itu, ada Kenzie lagi main PS sama Keenan. Aku ngantar ini dulu ya Ma." Jawab Yuri.
Yuri kembali ke depan membawa minuman untuk Keenan dan Kenzie. Yuri tak melihat adanya Kenzie. Ia hanya melihat adiknya yang masih memilih game.
Begitu rapi, Yuri turun dan menemui Jimmy. Ia bahkan tidak menyapa Kenzie dan Keenan. Tak lupa ia berpamitan dengan Mamanya yang sedang ikut melihat Kenzie dan Keenan bermain PS.
"Di depan siapa Ri?" Tanya Hani.
"Teman Yuri Ma. Yuri pergi dulu ya Ma." Jawab Yuri.
"Teman? Tapi kok Mama tanya Kenzie, dia gak kenal ya?" Tanya Hani.
"Kenzie mah mainnya cuma sama Sandi. Temannya Kenzie juga kan beda sama teman-teman Yuri." Jawab Yuri.
"Mama gak mau ya kamu pulang malam! Kamu mau pergi kemana? Biar kalau malam kamu belum pulang, mama bakal nyuruh Kenzie jemput kamu!" Perintah Hani.
"Apa sih Ma? Yurikan sudah besar ma. Gak perlu kayak gitu lagi Ma." Balas Yuri.
"Gak ada tapi-tapian! Pergi sama teman, tapi Mama tanya ke Kenzie dia gak kenal. Teman mana?" Perintah nyonya besar.
"Iya, iya." Yuri akhirnya menuruti perintah Mamanya.
Setelah urusannya selesai dengan Mamanya, Yuri keluar dan menghampiri Jimmy.
Sampai di tempat yang dituju. Jimmy membeli tiket lebih dulu untuk dirinya dan Yuri.
Ya, Taman Ria yang dituju oleh Jimmy. Disana mereka menaiki biang lala. Jimmy memberikan tiketnya pada petugas. Merekapun masuk ke biang lala yang masih bergerak secara perlahan.
"Nah, coba deh kamu lihat ke arah sana. Bagus kan?" Tanya Jimmy.
"Aku suka kesini, disini tuh nyaman banget. Kamu bisa lihat pemandangan sebagus ini. Apalagi nanti saat kita sampai atas." Lanjut Jimmy.
Perlahan biang lala tersebut berputar dan tibalah mereka di atas biang lala. Terlihat pemandangan kota yang di hiasi lampu kelap-kelip.
Pemandangan yang indah dan bersama orang yang di cinta. Hal itu membuat hari menyebalkan Nya berubah menjadi hari terindah baginya.
"Yuri." Panggil Jimmy. Suasana berubah menjadi menegang.
"Aku suka sama kamu." Ucap Jimmy. Yuri terdiam. Ia mematung sejenak begitu mendengar perkataan Jimmy.
Jimmy menyatakan cintanya ada Yuri. Yuri tidak menyangka hal ini datang begitu cepat. Belum sempat menjawab, ponsel Yuri sudah berbunyi.
Yuri tidak menanggapi panggilan tersebut. Yuri kembali melihat pemandangan kota dari atas. Tak lama, biang Lala itu kembali berputar.