
Lahirnya anak pertama dari Yuri dan Kenzie membawa kebahagiaan bagi Kedua orangtua mereka. Keenan yang mendapat berita tersebut langsung membeli tiket dan berkunjung ke Singapura. Di penghujung acara, Rama juga mengumumkan kabar bahagia mereka. Di hari pernikahan mereka, mereka mendapat hadiah yang sangat berharga.
Sahabat-sahabat Kenzie dan Yuri turut bahagia mendapat kabar tersebut. Bahkan mereka terlihat sudah tidak sabar ingin bertemu langsung dengan Yuri dan Kenzie. Acara tersebut semakin meriah ketika Kenzie mengumumkan Nama anak mereka.
"Devano Brilian Ishan." Ucap Kenzie mengumumkan nama anaknya dalam sebuah panggilan Video.
Memperkenalkan keturunannya melalui panggilan Video. Video tersebut terlihat di sebuah layar putih yang di sediakan oleh Rama. Kenzie sedang menggendong putra pertamanya. Wajah putranya terlihat tampan dan membuat semua tamu terpesona.
"Wah, tampan sekali ya. Mirip seperti ayahnya." Kata beberapa orang.
"Sepertinya kalau sudah besar nanti mereka akan terlihat mirip sekali dari kakek dan ayahnya." Ada juga yang berkata seperti itu.
"Masih bayi belum terlalu jelas mirip siapa. Tapi sudah terlihat tampan sekali." Ada juga yang berkata seperti itu.
Sedangkan sahabat Kenzie dan Yuri sudah mengantri di depan kamar. Mereka ingin sekali melihat secara langsung. Apalagi Zein dan Stella mereka berebut ingin lebih dulu melihatnya.
"Permisi, permisi. Saya mau lewat."
"Stop!" Teriak Wenda sambil menarik bajunya.
"Kamu tidak lihat mereka berdua sedang berebut untuk masuk. Kamu malah seenaknya tanpa mengantri." Kata Wenda.
"Lah, kenapa aku harus mengantri?" Tanyanya.
"Ya gantian lah! Gak cuma kamu yang ingin masuk. Kami juga ingin menjenguk Yuri di dalam." Jawab Wenda dengan ketus.
Setelah Kenzie mengakhiri panggilan videonya, Kenzie mendengar keributan dari luar. Ia meletakkan bayinya di sebelah Yuri yang sedang tiduran.
"Sayang, di luar ramai. Ada apa ya?" Tanya Yuri.
"Biarkan saja, aku ingin bersama kalian." Jawab Kenzie yang ikut berbaring bersama Yuri dan Devano.
"Tampannya anak Mama." Yuri menatap wajah anaknya yang sedang tertidur sambil tersenyum.
"Siapa dulu Papanya?" Kenzie membanggakan dirinya.
"Iya sayang, kamu tampan sekali." Yuri mencubit manja pipi suaminya.
"Terimakasih ya sayang sudah melahirkan putra kita." Ungkap Kenzie.
"Terimakasih juga kamu sudah menemaniku saat melahirkan anak kita." Balas Yuri. Kenzie mencium Yuri.
Seketika di luar mulai hening setelah terdengar suara Zein menghentikan pertikaian Wenda dan Keenan. Stella juga sudah mereda ketika Andre menariknya untuk berdiri disisinya. Tak hanya itu, Andre juga merangkul dirinya di depan mereka semua.
"Sudah! Sudah! Kenapa kalian ikut ribut sih?" Tanya Zein.
"Ken, kamu apa kabar?" Tanya Zein.
"Dia temannya Kakakmu. Mungkin dia belum kenal denganmu." Kata Zein.
"Kakak? Dia adiknya Yuri?" Tanya Wenda.
"Kak Yuri punya teman seperti dia? Apa gak salah?" Tanya Keenan.
Tak lama Marsha dan Kevin datang. Ia langsung berdiri di antara mereka. Mereka yang tadi menjemput Keenan di bandara. Jadi mereka baru sampai dan ikut berkumpul.
"Sayang, lihat dulu sana." Pinta Yuri.
"Gak mau, aku masih ingin bersama kalian." Bantah Kenzie sambil memeluk putranya.
"Hem, sekarang yang di peluk mah anaknya ya. Istrinya mah engga." Goda Yuri.
"Aduh sayang, sini-sini Papa peluk. Nak, lihat tuh Mama kamu. Padahal kamu masih kecil, bisa-bisanya Mama kamu cemburu." Kata Kenzie.
"Sudah sana lihat dulu." Pinta Yuri.
"Iya sayang." Jawab Kenzie.
"Cium dulu tapinya." Pinta Kenzie. Yuri langsung mencium suaminya.
Kenzie beranjak dari tempat tidur. Ia langsung membuka pintu kamarnya. Ia melihat teman-temannya pada kumpul di depan kamarnya.
"Kalian mau ngapain sih? Ganggu aja." Kata Kenzie dengan santainya.
"Kak, Kak Yuri ada?" Tanya Keenan.
"Pasti ada dong Ken. Masuk ayo!" Ajak Kenzie. Zein dan Stella mau menerobos masuk.
"Kalian mau ngapain? Antri dulu!" Kata Kenzie.
"Kalian nanti dulu ya. Duduk dulu saja atau mau makan-makan dulu sana." Kata Kenzie.
Marsha, Kevin dan Keenan masuk lebih dulu. Keenan langsung memeluk kakaknya. Sama seperti Marsha yang langsung memeluk Yuri.
"Kakak! Aku kangen sekali sama kakak." Ucap Keenan.
"Kamu gak kerja Ken?" Tanya Yuri.
"Aku ambil cuti dadakan demi bertemu calon keponakan aku." Kata Keenan.
"Memangnya bisa?" Tanya Yuri.
"Bisa dong, bos aku baik banget Kak." Jawab Keenan.
"Ri, gimana keadaan kamu?" Tanya Marsha.
"Sudah baik Sha." Jawab Yuri.
"Namanya tampan ya, sama seperti orangnya." Kata Marsha. Ia mencoba menggendong Devano.
"Siapa dulu Papanya." Lagi-lagi Kenzie membanggakan dirinya.
"Ken, selamat ya. Aku gak nyangka kalian bisa sampai di titik ini." Kata Kevin.
Mereka saling bercerita sambil tertawa bersama. Setelah puas melihatnya, Mereka bergantian dengan yang lainnya. Keenan masih tetap berada di kamar kakaknya. Zein meminta lebih dulu. Mengingat jadwal penerbangannya yang di percepat.
"Yuri, selamat ya!" Kata Zein.
"Jangan peluk-peluk istri orang!" Kenzie langsung menghalangi Zein.
"Ri, kenapa suamimu semakin seperti ini sih?" Tanya Zein.
"Aduh, Anak Papi yang tampan." Zein langsung mengalihkan dengan menggendong Devano.
"Papi? Hei! Dia anakku! Bukan anakmu!" Protes Kenzie.
"Sayang, Papamu kenapa sih?" Bisik Zein.
"Lihat tuh, Papamu gak suka banget Papi dekat-dekat dengan Mamamu." Bisiknya lagi.
"Sudah-sudah! Waktumu sudah habis. Silahkan keluar dan bergantian dengan yang lain." Kata Kenzie.
"Dev, kalau nanti kamu besar ingin menjadi artis bilang sama Papi ya! Nanti akan Papi buat kamu menjadi artis besar!" Kata Zein.
"Hah?! Artis? Anakku tidak akan mau menjadi artis. Ia akan meneruskan Papanya." Kenzie mengambil anaknya dari gendongan Zein.
"Yuri, selamat ya. Walau kamu bukan jadi ibu dari anak-anak aku. Tapi kamu akan selalu di hati! Saranghae!" Zein melengkungkan tangannya berbentuk hati.
"Apa sih nih orang?" Sinis Kenzie.
Setelah Zein keluar, kini berganti teman-temannya mereka. Keenan hanya melihat bagaimana sikap teman-teman dari kakaknya itu. Dari Zein, Stella, Kevin, Marsha dan lainnya. Kini ia bertemu lagi dengan Wenda. Gadis yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Yah, dia lagi." Ucap Keenan.
"Kenapa Ken?" Tanya Yuri.
"Ri, memang iya dia adik kamu?" Tanya Wenda berbisik.
"Iya, dia adik aku satu-satunya." Jawab Yuri.
"Kenapa dia menyebalkan sekali sih?" Tanya Wenda.
"Kenapa? Apa lihat-lihat?" Tanya Keenan dengan sinis.
"Kenapa sih? Ada apa?" Tanya Yuri.
"Itu Kak, dia tadi menghalangi aku masuk." Adu Keenan. Mereka kembali ribut di depan Yuri. keributan mereka membuat Devano menangis dengan kencang.
"Tuh kan! Gara-gara kamu tuh Devan nangis!" Keenan menyalahkan Wenda.
"Sayang, pakai ini ya." Kenzie mengambil sebuah kain agar tidak terlihat saat Yuri menyusui. Yuri pun menurutinya dan memakai kain tersebut.
"Ri, selamat ya." Stella memeluk Yuri.
Hari yang melelahkan. Tak hanya Naomi dan Rama. Semua benar-benar sibuk di hari itu. Setelah tamu pulang, mereka baru berkumpul kembali di kamar Yuri dan Kenzie.