
Seminggu berlalu begitu cepat. Yuri mengantarkan Kenzie ke bandara. Sedih yang di rasakan Yuri karena harus LDR lagi. Tempat ternyaman Yuri, sandaran terbaik Yuri.
"Jaga kesehatan ya sayang." Ucap Kenzie sebelum masuk ke ruang tunggu.
"I Love You." Kenzie mencium kening Yuri dan memeluknya.
Kenzie masuk ke ruang tunggu. Yuri terus melambaikan tangannya sampai Kenzie tak terlihat lagi. Yuri pulang menggunakan taksi online.
Sampai di rumah Yuri masuk ke kamarnya. Ia juga menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan. Karena Minggu ini ia harus mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa ke Singapura.
"Semangat Ri! Kamu pasti bisa!" Ucap Marsha sebelum Yuri masuk ke gedung tempat tes berlangsung.
"Aku pesimis nih Sha. Kalau aku gagal gimana ya? Mana tabungan aku belum cukup untuk masuk kuliah disana." Kata Yuri dengan lemas.
"Kamu bisa, Ri." Marsha menepuk pundak Yuri.
Yuri pun masuk ketika mendapat pengumuman bahwa ujian akan segera di mulai. Marsha melambaikan tangannya. Ia menunggu Yuri bersama Kevin kekasihnya.
Menjadi asisten pribadi sang ayah sudah ia lakukan. Di saat mahasiswa lain sedang berlibur, Kenzie menemani ayahnya kerja dan menemui klien untuk membicarakan kerjasama. Disaat ada waktu kosong, Kenzie mengirim pesan singkat untuk Yuri. Ia juga sesekali melihat foto dirinya dengan Yuri.
"Yah, masih ada yang perlu Kenzie kerjakan gak?" Tanya Kenzie.
"Tidak ada, sisanya biar Pak Frans yang mengerjakan." Jawab Rama.
"Em, oh iya Ken ~" Rama meminta Kenzie untuk mengurus masalah kecil di mini market miliknya.
Kenzie mengikuti arahan sang ayah dan pergi ke mini market tersebut. Sampai disana, Kenzie menemui kepala cabang yang bertanggungjawab mengelola mini market tersebut. Mendengar penjelasannya, Kenzie curiga ada yang tidak beres.
Sudah cukup lama Yuri berada di dalam gedung. Ia pun keluar dan mencari keberadaan Marsha. Rambutnya tampak berantakan dan kemeja yang tadinya di masukkan kini terlihat keluar.
"Marsha!" Yuri teriak memanggil Marsha yang sedang bersandar. Marsha melambaikan tangannya.
"Gimana ujiannya?" Tanya Marsha.
"Gak yakin berhasil sih. Aku saja sampai pasrah mengandalkan kancing baju untuk menjawab." Yuri menunjukkan kemejanya yang sudah berantakan.
"Nih minum dulu deh." Marsha memberi Yuri Es teh manis.
"Eh iya, jangan ada yang bilang ke Kenzie ya. Aku mau ngasih surprise buat dia." Pinta Yuri.
"Itupun Kalau aku keterima." Lanjutnya dengan wajah sedih.
Yuri menenangkan pikirannya dengan meminum es teh manis yang di pesan oleh Marsha. Kevin cukup melihat keduanya bercerita saja sudah membuatnya senang. Setelah menghabiskan minumannya, Marsha mengantar Yuri pulang.
Waktu yang di nantikan Yuri tiba. Ia langsung mengambil ponselnya dan membuka email masuk. Yuri langsung mengklik tautan link yang di berikan. Dengan perasaan tak menentu Yuri menutup matanya sebelum pengumumannya terbuka. Perlahan ia buka kedua matanya dan menatap hasil ujiannya.
"Yes! Aku berhasil!" Ucap Yuri.
"Ma! Pa! Yuri berhasil!" Teriak Yuri.
"Ada apa sih Ri? Mama sampai kaget tau." Ucap Hani sambil menepuk dadanya.
"Yuri berhasil Ma! Yuri berhasil masuk ke Universitas itu lewat jalur beasiswa Ma!" Yuri berteriak bahagia.
Selain dirinya berhasil meraih nilai rata-rata. Yuri juga senang karena ia bisa satu kampus dengan Kenzie dan bisa selalu dekat dengannya. Ia ingin sekali mengabarkan ke Kenzie. Tapi sayangnya mereka telah setuju untuk tidak memberi tahu Kenzie.
"Mama bangga sama kamu Nak." Ucap Hani.
Yuri memilih tempat tinggal yang nyaman. Karena ia tidak suka tinggal bersama orang lain. Yuri memilih tempat tinggal untuk sendiri. Ia juga memilih yang sudah mendapatkan jatah makan dari pihak kampus agar bisa lebih hemat.
Yuri juga mulai merapikan pakaian dan barang yang ia perlukan. Tak banyak yang Yuri bawa. Setidaknya pakaian tersebut cukup untuk seminggu. Karena ia pastinya akan lebih rajin mencuci pakaian.
"Mama pasti bakal kangen deh sama kamu." Ucap Hani.
"Manfaatkan beasiswa yang kamu dapat ya Ri. Ingat kerja keras kamu hingga kamu bisa berhasil masuk ke jalur beasiswa." Nasihat Indra pada Yuri.
"Iya Pa, Yuri pasti akan selalu semangat dan fokus belajar." Jawab Yuri.
Hari yang di nanti Yuri telah tiba. Marsha ikut mengantar Yuri ke bandara. Begitu juga dengan Hani dan Indra. Sedangkan Keenan cukup mengantar Yuri sampai depan pintu rumah.
Yuri memeluk kedua orangtuanya dan juga Marsha. Sebelum dirinya masuk ke ruang tunggu. Yuri melambaikan tangannya ke mereka.
Hal pertama yang akan dia lakukan nanti setelah hari pertama kuliah yaitu mencari Kenzie. Dengan bermodal jurusan yang Kenzie ambil dan juga nama Kenzie sendiri. Perasaan Yuri kembali berdetak tak menentu.
Sampai di Singapura, Yuri menaiki taksi bandara untuk menuju ke hotel. Karena memang masih belum bisa ia tempati asrama kampus sampai ia resmi menjadi mahasiswa kampus tersebut. Sampai di penginapan Yuri membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Indah banget ya." Bisiknya pada diri sendiri.
"Seluas ini, apa aku yakin bisa menemukan Kenzie ya?" Tanya Yuri. Yuri menatap pemandangan kota Singapura.
"Lapar." Yuri membuka kopernya dan mengambil mie.
Hari pertama Yuri kuliah. Kembali lagi, ia tidak menyangka kampus yang ia pilih ternyata sangat luas. setiap fakultas memiliki gedung yang berbeda. Ia mengira kampusnya akan seperti kampus populer yang dulu selalu ia pandangi.
Saking asiknya ia memandangi setiap gedung di kampus tersebut. Sampai ia berjalan tidak melihat ke depan. Tanpa sengaja ia menabrak seorang mahasiswa.
"Astaga maaf-maaf." Yuri menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.
"Saya gak sengaja." Ucap Yuri dalam bahasa Inggris.
"Santai saja, saya juga salah gak langsung menghindar." Balasnya.
"Kamu orang Indonesia?" Tanya Yuri.
"Pengennya sih orang sini. Tapi saya sudah terlanjur cinta pada Indonesia." Jawabnya.
"Saya Andre mahasiswa semester empat. Kamu pasti mahasiswa baru ya?" Tanya Andre. Yuri hanya mengangguk.
Andre mengantar Yuri ke tempat tujuannya. Sesekali Andre mencuri pandang pada Yuri. Sementara Yuri, ia beruntung bisa bertemu orang baik yang mau mengantarkannya.
"Nah, ini gedungnya." Mereka telah sampai di fakultas yang di tuju oleh Yuri.
"Terimakasih ya Kak." Yuri langsung pergi masuk ke gedung tersebut.
Ia kembali bingung harus kemana ia pergi. Andre menghampiri Yuri yang terlihat kebingungan. Ia tersenyum melihat wajah Yuri yang menggemaskan.
"Kamu mau kemana? Biasanya mahasiswa baru ke ruangan sana." Andre mengagetkan Yuri.
"Kamu!" Yuri kesal di kagetkan oleh Andre.
"Hehehe kaget ya?" Andre gemas sekali dengan ekspresi Yuri.